BAB I
PENDAHULUAN
A. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Ilmu
Berdasarkan
Keputusan Kongres Ilmu Nasional (KPNAS) ke III di Jakarta September 1981, Filsafat
Ilmu di berikan ke semua jenjang pendidikan dengan tujuan “ meningkatkan moral merupakan
momentum untuk perbaikan pendidikan keilmuan ”.
Ketika
dunia pendidikan / terutama generasi muda lebih banyak dicekoki, ( diberikan / dijejali
) budaya melihat / mendengar( lihat tv ), budaya membaca dan menulis sebagai
media membangun dunia ilmu perlu di gerakan dan dimasyarakatkan kembali.
Membangun
dunia ilmu berarti mempelajari filsafat ( sebagai induk ilmu pengetahuan ).
Untuk tujuan tersebut, diawali dengan mengetahui pengertian filsafat secara
singkat. Secara lebih kongrit pemahaman dimulai dengan mengetahui hubungan
anatara filsafat dengan filsafat ilmu.
Filsafat berasal dari kata philo
dan sophia,
philo
artinya orang yang mencintai (hasrat mencintai), dan sophia
adalah kebijaksanaan atau hikmah. Dilihat dari tata bahasanya filsafat
(filsuf)
berarti orang yang mencintai, mendambakan/ menghadapi masalah-masalah yang ada
dilakukan dengan kebijaksanaan dan kebenaran ( a
lover of wisdom ). Dengan filsafat, orang akan berusaha ” sex
out meaning of things ”, untuk itu , akan berpikir sampai
keakar-akarnya (radik=akar).
Dengan
demikian, hanya para pemikir-pemikir yang mempunyai kemampuan disamping itu
lebih jauh dari itu, penuh pengabdian dalam hidupnya. Dari sisi ini seluruh
hidupnya diabdikan untuk mencari hakekat kebenaran yang ada.
Demikian
juga bagi warga masyarakat, dalam hati nuraninya pasti mendambakan kebenaran
kejujuran, sehingga pengenalan pada filsafat pada umumnya dan filsafat ilmu
pada khususnya sangat bermanfaat. Wawasannya akan semakin luas, terbuka dan
maju. Bagi generasi muda semakin diperlukan, karna generasi muda yang tumbuh
diera yang semakin komplek, diperlukan pedoman dalam mencari kebenaran. Karna
itu, didalam menghadapi perubahan dunia , generasi muda diajak untuk lebih
serius menghadapi masalah-masalah kehidupan yang semakin komplek, sulit dan ” menantang
”.
Filsafat sebagaimana diketahui menjadi
induk dari segala ilmu mencangkup sebagai cabang pengetahuan, apa yang ingin kita ketahui ( metafisika ), apa
yang seharusnya kita kerjakan ( etika ), sampai dimana harapan kita ( agama ), apa
dan siapa manusia ( antropologi ), apa yang sedang kita pikirkan ( logika ) dan
apa yang nyaman, indah didalam kehidupan bersama ( estetika ) serta bagaimana
mengenal kenyataan yang ada ( kenleer ).
Istilah
filsafat untuk pertama kali dikemukakan oleh Phytagoras dari Athena dan dikembangkan lebih lanjut oleh pemikir-pemikir
Yunani lainnya. Phytagoras (536-470 SM)
menyatakan”filsuf adalah orang-orang yang menyukai ilmu kepandaian”. Waktu
itu ketika ditanya, apakah ia seorang yang bijaksana dengan rendah hati, Phytagoras menjawab bahwa ia
hanyalah philosophos, yakni orang yang mencintai ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu disebut juga theory
of sciences ( teori ilmu ), meta sciences ( meta
ilmu ), science of science ( ilmunya ilmu / ilmu tentang ilmu ), sehingga
posisinya semakin penting, lewat filsafat ilmu akan “menguak”, menganalisis
bagaimana filsafat ilmu menjelaskan peranggapan setiap ilmu, apakah “ ilmu ”
benar-benar ilmu dilihat dari berbagai aspek, antara lain kebenarannya atau
universalitasnya.
Definisi
filsafat :
Para filsuf pra Socrates, filsafat adalah ilmu yang
berupaya untuk memahami hakikat alam dan realita ada dengan mengandalkan akal
budi;
Plato
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang
asli dan murni;
Filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang
paling akhir dari segala sesuatu yang ada;
Aristoteles
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari
perinsip-perinsip dan penyebab-penyebab dari realita ada;
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari ”apa
yang ada” (being as being) atau ”apa adanya” ( being as such );
Rene Descartes
Filsafat
adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai
tuhan,alam dan manusia;
William James
Filsafat
adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berfikir yang jelas dan terang;
R.F Beerling
Filsafat,
memajukan pertanyaan tentang kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat asas , prinsip
dari kenyataan.
Filsafat adalah suatu usaha untuk mencapai radix, atau akar kenyataan
dunia wujud, juga akar pengetahuan tentang diri sendiri;
Pemikiran filsafat Jawa
tradisional berpendapat bahwa para filsuf adalah “ orang weruh sak durunge winarah, bijak sangka paraning dumadi, tanggap
ing sasmita, mumpuni ing sakabehaning tek kliwering jagat ngarca pada ”;
Prof. Mr. Moh. Yamin merumuskan, filsafat
adalah “ pemusatan pemikiran ”. Sehingga manusia dapat memenuhi
kepribadiannya tersebut dipenuhi dengan kesungguhan;
Manusia
berfilsafat, beragam motivasi antara lain berfikir :
Kekaguman, keheranan, ketakjuban;
Kuatnya ide, gagasan yang dimiliki atas anjaran-anjaran filsafat;
Ketidak puasan kondisi yang ada;
Adanya masalah yang laten/ relatif;
Hasrat bertanya yang dimiliki;
Keraguan atas kebenaran atas disampaikan pihak lain;
Pengujian atas kebenaran ( catatan khusus 1998 ).
Filsafat ilmu bagian dari
filsafat, yang mengupas bagaimana proses berfikir secara benar dapat dilakukan
oleh manusia, melalui filsafat ilmu, sejauh mungkin dapat menjelaskan bagaimana
mendapatkan atau ” menangkap ” ilmu, melalui proses “ pencarian ” ilmu yang
benar, sehingga usaha mencari ilmu pengetahuan merupakn satu keutuhan. Hal ini
tidak dapat dilepaskan dengan/dari proses berfikir yang berlangsung sampai
diprolehnya produk atau hasil, tanpa meninggalkan tujuan dan keberadaan atau
wujud objek ( ilmu itu sendiri ) yang dihadapi.
Karena
filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat, maka “ pengaruh ” landasan, cara
dan metode filsafat, bahkan sifat dasar filsafat tidak dapat ditingglkan oleh
filsafat ilmu. Filsafat sendiri, antara lain dimaknai sebagai ” suatu cara atau
metode pemikiran yang bertanya-tanya tentang sifat dasar dan hakiki berbagai
kenyataan yang tampil dimuka kita “ filsafat mencoba menerangkan
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : Apa artinya hidup dan kegiatan, kebebasan
dan cinta? Apa yang ingin dikatakan jika orang bicara tentang dunia, alam
semesta, manusia, Allah? ( Louis Leahy, 2001:15).
Filsafat
ilmu sangat berkaitan dengan logika ilmu. Mengapa manusia memiliki ide? Dan
hasil penalaran tersebut untuk apa? Dan seterusnya.
Hal-hal
semacam ini akan terus berkembang. Di samping adanya “ rangsangan ” dari luar, alam
dan masyarakat yang diterima oleh akal secara terus menerus, tuntutan dan
kebutuhan manusia yang terus bertambah, serta pengalaman manusia sendiri, akal
yang menerima respon akan segera mengolahnya. Pengolahan tersebut akan
disesuaikan dengan kemampuan akal masing-masing manusia yang memilikinya.
Karena
itu, kegiatan berpikir akan berlangsung terus sepanjang hayat manusia. Berbagai
masalah akan selalu dipikirkan manusia, baik masalah kecil ( remeh ), lebih-lebih
masalah besar. Karena itu, berfikir yang benar atau berfikir cerdas sampai
hakekat sesuai dengan pendekatan filsafat, perlu diketahui bersama. ” disanalah
” ditemukan hakekat kehidupan dan kebenaran.
Dengan
demikian filsafat ilmu ” menampung ” ide-ide besar dari para pemikir, sehingga
mampu “memecahkan ” masalah-masalah yang dihadapi warga masyarakat. Karena itu
dengan memahami filsafat ilmu, hakekat kebenaran, semakin jelas, hasilnya
semakin utuh, demikian juga lewat pengenalan filsafat ilmu masalah yang
dihadapi warga masyarakat dapat terbantu untuk dipecahkan. Lewat pendekatan
filsafat ilmu, masalah-masalah kehidupan sehari-haripun diharapkan dapat
diselesaikan, walau mungkin belum lengkap dan tidak disadari. Filsafat ilmu
bukan ” milik ” ilmuan saja, warga masyarakat berhak memetik hikmah/ manfaat
filsafat ilmu.
Jadi
tidak benar, mempelajari filsafat ilmu, seseorang dibawa menjadi ahli filsafat (
filsuf ), filsafat ilmu diberikan kepada warga masyarakat sebagai pengetahuan berfikir yang benar menghadapi
masalah-masalah yang dihadapi. Untuk
mengetahui tugas filsafat ilmu akan menjadi lebih jelas jika kita mengetahui
selain makna filsafat juga tugas filsafat pada umumnya.
Menurut
Y. Ledure tugas filsafat adalah menciptakan sebuah naskah, mengelola suatu
wacana. Namun wacana ini tidak termasuk dalam bilangan-bilangan lain manusia,
sebab wacana ini tidak terbatas pada satu aspek tertentu dari sifat manusia.
Tiap
ilmu menentukan sendiri suatu kawasan tertentu yang menjadi lingkungan
telaahnya sendiri agar dapat memperoleh
suatu pengetahuan yang terbatas/terfokus, namun dapat dibuktikan. Fokus
tersebut terkait dengan perkembangan pengetahuan tentang manusia dan dunia. Filsafat
memanfaatkan perkembangan tersebut sebagai bahan yang diterima dan direnungkan.
Tugas dan fungsi filsafat tidaklah tunduk kepada penggolongan-penggolongan
serta pengkhususan-pengkhususan yang merupakan ciri khas suatu ilmu. Tugas
filsafat mempelajari manusia dalam kebulatan aslinya, serta menghadapinya
sebagai suatu keseluruhan yang bukan merupakan himpunan dari cabang-cabang ilmu
yang berbeda-beda. Sang filsuf mencurahkan segenap perhatiannya terhadap
manusia dalam existensialitas yang selalu berada diatas pengkotak-kotakan
pengetahuan yang beraneka ragam. Dalam prospektif ini filsafat secara dasarlah
tetap merupakan kebijaksanaan. ( 2001:19 )
Lebih
kongkrit dijelaskan tujuan Filsafat Ilmu ( FI ) :
FI sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah,
menjadikan seseorang kritis terhadap kegiatan ilmiah;
FI merupakan usaha merefleksikan, menguji, mengkritik
asumsi dan metode keilmuan. Dengan demikian sikap yang diperlukan adalah
menerapkan metode ilmiah sesuai dengan struktur ilmu pengetahuan;
FI memberikan pendasaran logis terhadap metode
keilmuan. Oleh karena itu setiap metode ilmiah harus dapat
mempertanggungjawabkan secara logis rasional, dapat dipahami, dan
dipergunakan secara umum ( Drs.Ignatius Marjhono, SH );
Melalui
pandangan-pandangan tersebut, filsafatlah yang menjadi induk segala ilmu, yang kemudian berkembang.
Namun melalui filsafat pulalah manusia dengan seluruh dimensi pandangannya dan
dinamika kekuatannya mencoba mempersatukan kembali ilmu-ilmu yang telah
berkembang sangat jauh dan kompleks.
Melalui
pendekatan filsafat berarti menyadari kembali tujuan filsafat yang sangat agung
tersebut. Keinginan manusia yang beragam dapat dipertemukan kembali, sehingga
melalui pendekatan dan mempelajari filsafat, manusia akan semakin bijaksana.
Dengan
demikian menjadi benar jika dikatakan bahwa orang bijak adalah orang yang
ketika menghadapi permasalahan selalu mengedepankan akal dan budinya, serta
dapat menomor sekiankan ajakan emosi yang cenderung negatif. Juga sangat tepat,
ketika Socrates digambarkan, pada siang hari berjalan-jalan kepasar dan setiap
kali bertemu orang selalu diterangi dengan lilin yang dibawanya, waktu ditanya ”
apa yang kau cari? ” jawab Socrates “ aku mencari orang bijaksana ” Socrates
pun pernah berkata ” ibi est verum ” (
kebenaran, dimana kau berada ).
Jika
kita mau setiap masalah dibawa dan diuji dengan pendekatan filsafat, berarti
kita siap untuk langsung membedah masalah tersebut secara fundamental dan
mendasar. Dari sini akan
segera diketahui, apa dan siapa yang benar, apa dan siapa yang salah, disinilah
sulitnya berfikir secara filsafat.
Menghadapi
kenyataan yang demikian tidak semua orang mau dan mampu menerima kenyataan yang
sebenarnya. Untuk masuk dan mengenal dunia filsafat, diperlukan perenungan dan
analisis yang mendalam. Untuk sampai berfikir mendalam, banyak diantara kita
karena berbagai faktor yang ada hanya mau dan mampu berfikir “ kulit-kulitnya
saja ”.
Kenyataan
tersebut salah satu sebabnya adalah akibat keterbatasan berfikir kita yang
masih dalam tataran memori ( mengingt-ingat ). Dari tingkat tersebut seharusnya dikembangkan ketingkat berfikir
kritis ( critische denken )
dan kalau mungkin dan mampu berfikir kreatif ( creatieve
denken ) tingkat berfikir
para pemikir, intelektual terutama para filsuf pada tataran kontemplatik
( contemplatiom,
the act of the mind in considering with attention ) (Black’s Law 389).
Beragam
masalah yang dihadapi manusia, menjadi salah satu hambatan untuk memperoleh
hasil yang benar. Banyak orang sering mengalami kesulitan untuk ” menukik ” masuk
ketataran berfikir, sebagaimana tuntutan dan harapan filsafat. Disamping
interogasi filsafat, dikenal pula interogasi yang radikal atau dialektik. Dialektik
adalah ” theori and practice of weighing
and reconciling jucta posedoe contratoctory argument for the purpose of
arriving at thruth, especially throught discussion and debate ”....Aristotelianism
adalah ” method of arguing with
probability on any given problems as an art intermediate between rhetoric and
strict demonstration ”. ( Webster, 1993 : 1993 ).
Begitu
dalam dan luasnya pemikiran secara filsafat, sehingga memiliki cara atau metode
tersendiri didalam cara bekerjanya, ” metode
filsafat dikualifikasikan fenomenologis ”. Pertama dengan pengertian bahwa
filsafat ingin menjelaskan fenomena-fenomena secara subyektif mungkin bagaimana
mereka menampilkan diri terhadap kesadaran. Pemikir berupaya untuk menangkap
struktur esensial dan tetap dari setiap fenomena. Metode berfikir filsafat ini
disebut “induktif”, abstaktif dan eidetik. Metode ini disebut induktif, karena
menyimpul dari suatu fenomena ( atau beberapa fenomena ) dalam struktur yang
dasariah. Disebut abstraktif sebab dalam suatu penomena ( atau beberapa fenomena
) membedakan apa yang esensial dan apa yang tidak esensial. Sedangkan eidetik
sejauh mana hasil pemahaman tersebut persis seperti kodrat atau bentuk fenomena
itu (eidos dalam bahasa yunani). Untuk mendapat kebenaran induksi tersebut
dilengkapi dengan deduksi. Karena filsafat mencoba mengerti apa yang
fundamental dalam realitas, ada taraf dasariah, segala hal bersatu padu
kembali, maka filsafat cendrung untuk membentuk sintetis bahkan sistem ” ( L. Leahy
2001 : 33 ).
Berfikir
philosofi arahnya mengajak masyarakat untuk mencintai pengetahuan / kebijaksanaan/
kebenaran ( philos=cinta, sophos = pengetahuan ), sebaliknya
( demi kepentingan sesaat, kepentingan kekuasaan) bukan/tidak membangun ” pseudosophy ” ( pseudes = kepalsuan ) sophos = ( pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran ). Kelompok ini membangun
kebenaran/ kebijaksanaan palsu/ semu yang dapat menyesatkan akal sehat warga
masyarakat.
Adanya
perkembangan kelompok ini rela menciptakan simulasi/rekayasa palsu yang
seakan-akan benar, melakukan penjungkiran balikan logika sangat berbahaya, adanya
istilah “ aspal ” atau asli tapi palsu, merupakan wujud telah ada “ pseudosophy ” tersebut ditengah-tengah
masyarakat kita.
B. Berfikir, Langkah Awal Mengenal
Filsafat Ilmu
Proses
merupakan “ a series of
actions/continuous operations ” ( blacks law 1968 : 1368 ) yang dapat menghasilkan satu produk. Berfikir
juga merupakan suatu proses, karena itu berfikir merupakan satu seri atau
beberapa seri, langkah atau beberapa tindakan yang diharapkan memperoleh hasil
yang berguna bagi kehidupan bersama.
Hal
itu perlu disinggung, karena ada pula langkah atau proses berfikir yang tidak
menghasilkan apa-apa justru menimbulkan kejenuhan. Manusia berfikir karena
manusia mempunyai gagasan/ ide/ cita-cita atau karena ada masalah yang perlu
dipecahkan.
Kalau
sudah berfikir keras dan tidak menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan, beberapa
kemungkinan dapat terjadi. Kemungkinan pertama ada langkah berfikir yang salah,
kurang tepat, kurang fokus pada tujuan yang ada atau karena materi yang dibahas
kurang relevan, sehingga tidak menggambarkan satu kebulatan yang utuh dalam
meneliti ilmu. Sebab lain dapat terjadi karena kurang
menguasai proses berfikir itu sendiri.
Dengan
demikian berfikir merupakan proses mengembangkan gagasan, ide, konsep yang
dipokuskan dan digiring kearah tujuan tertentu yang sudah digagas. Dengan
demikian ide dan tantangan yang ada dibungkus dalam satu paket berfikir yang
benar serta dibangun melalui suatu tatanan proses tertentu,sehingga ide dan
tantangan dari luar tersebut tidak liar atau berjalan tanpa arah. “ Berfikir
keilmuan atau berfikir sungguh-sunguh adalah cara berfikir yang disiplin dan diarahkan pada
pengetahuan ”. ( Yuyun S. Suriasumantri, 1978 : 53 ).
Ide
serta tantangan yang dapat diolah dengan benar, akan dapat menghasilkan ilmu
pengetahuan yang baru. kalau dapat ditemukan ilmu baru dapat diartikan proses
atau seri berfikir yang benar telah dilalui. dengan demikian ciri utama ilmu
selain bersifat komferhensif, yang disebut logika, dapat dipastikan alur
pemikiran yang benar telah dilalui, atau proses yang logis sudah berlangsung.
Disamping itu, metode berpikir sudah sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan
yang ada, dan telah bekerja dengan baik pula.
Kesalahan
atau kelemahan langkah berpikir yang sering dialami manusia, sebagian besar
terletak pada prosesnya, baik karena kurang hati-hati atau kurang pengalaman.
Oleh sebab itu , proses berfikir kita sering tersandung atau terbenturpada
kesalahan-kesalahan tahap tersebut, sejauh mungkin harus dapat dihindari.
Jika sampai terjadi
kesalahan dalam proses ini, hasil olah pikirnya menjadi tidak maksimal ataupun
kurang tepat. Karena itulah, memahami proses berfikir yang benar menjadi
penting untuk diketahui bersama.
Filsafat ilmulah yang akan menuntun dan mengantar kita agar
proses berfikir kita benar Mengambil kesimpulan pun menjadi benar, baik melalui
jalur penelitian maupun pemikiran. Dari proses tersebut kita mampu
mengkatagorikan jenis ilmu yang kita pelajari. Karenanya, filsafat ilmu adalah
pengetahuan yang membahas sampai membangun wujud keilmuan itu sendiri, sehingga
ilmu yang diawali proses berfikir yang benar hendaknya dihayati dengan baik.
Filsafat
ilmu, kata Beerling et.al “ ialah penyeledikan tentang ciri
pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain,
filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan. Karenanya,
apabila para penyelenggara berbagi ilmu melakukan penyelidikan terhadap
obyek-obyek serta masalah-masalah yang berjenis khusus dari masing-masing ilmu
itu sendiri, maka orangpun dapat melakukan penyeledikan lanjutan terhadap
kegiatan-kegiatan tersebut ” ( Beerling, 1486 : 5 ).
Berfikir
merupakan “ trade mark ” ( ciri )
manusia, dengan berfikir manusia dapat maju dan berkembang. Sekaligus membangun
dan mengembangkan masyarakat, budaya dan peradabannya. Karena itu, berfikir tak
akan pernah berhenti. Berfikir yang menghasilkan ilmu pengetahuan, hasilnya
sangat didambakan orang. Didalam ilmu pengetahuan hakekatnya berisi kebenaran
dan kejujuran. Karenanya hasilnyapun selalu ditunggu-tunggu masyarakat.
Sebaliknya kalau hasil ilmu pengetahuan, kemudian dikembangkan dan merugikan
masyarakat, bertentangan dengan tujuan ilmu pengetahuan dan misi seorang
ilmuwan sendiri.
Dengan
demikian ilmu pengetahuan terbukti merupakan “ alat ” yang sangat bermanfaat
bagi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia, oleh karena itu, diharapkan
ada sekelompok manusia utama yang memiliki pemikiran jernih memihak pada
keadilan,kejujuran da kebenaran. Para ilmuwan, cendekiawan, intelektual,
intelegensia, budayawan, ulul albab, dan sederet nama lainnya maupun calon
pemikir atau ilmuwan muda dengan seluruh potensi yang dimiliki, dengan kekuatan
daya nalar dan daya cipta, rasa, sensitivitas, spiritualitasnya, serta kemauan,
karsa menjadi tumpuan/harapan masyarakatnya. Cendikiawan “ orang terus menerus
menerus meningkatkan kemampuan pikirannya untuk dapat memahami sesuatu ” ( Kamus
Besar Bahasa Indonesia ).
Seorang
ilmuwan kata Luwis Coter sebagaimana dikutip Arif Budiman, “ adalah orang yang
kelihatannya tidak pernah puas menerima kenyataan bagaimana adanya, mereka
mempertanyakan kebenaran yang berlaku pada suatu saat, hubungannya dengan
kebenaran yang lebih tinggi dan luas. ( Arif Budiman,1976 : 43 ).
Untuk itulah para ilmuan
atau calon ilmuan dituntut untuk selalu mengikuti proses perkembangan disiplin
ilmu yang ditekuni atau yang dipilih, menyimak dan memperhatikan suara masyarakat. Keterlibatan tersebut
merupakan bagian dari ” resiko ” pilihan yang ditetapkan.
Dengan
demikian dunia ilmu merupakan satu kebulatan yang tidak dapat dipecah-pecah atau
dipisah-pisah, yang mungkin adalah dibagi-bagi saja. Kiranya hal ini sejak awal
perlu diketahui bersama termasuk bagi para pemula, sehingga tidak
terkotak-kotak secara kaku. Disamping itu dapat juga menjadi peringatan bersama
agar dalam rangka membangun ilmu, selalu menghormati masing-masing ilmuyang
ada, kemudian secara sinergik memecahkan segala permasalahan secara bersama
pula. Masalah akan selalu yang dapat mengakibatkan terjadinya timbul
kesenjangan antara fakta ( kenyataan ) dan harapan ( cita-cita ). Karena itu
perlu dipertanyakan dan dicari solusinya. Ulmuan antara lain ditantang
memecahkannya. Masalah merupakan “ pancingan ” agar kita berfikir. Dengan
berfikir, tidak saja ( tidak ) cukup bekerja keras, tetepi kita juga bekerja
cerdas, disamping bekerja ikhlas.
Perguruan
Tinggi maupun pusat kajian dengan seluruh misi yang diembannya, sebagai salah
satu pusat atau tempat persemaian yang paling tepat untuk membangun ilmu
pengetahuan. Untuk itu diuniversitaslah kebebasan akademik dan kebebasan mimbar
akademik sepanjang masa dijamin, sekaligus
menjadi hak asasinya. Berpikir merupakan fitrah manusia, berfikir tidak pernah
dapat dibatasi. Pada universitaslah seharusnya tradisi tersebut menyatu dan
merupakan bagian integral dari kepribadian universitas dan seluruh civitas
akademiknya, sehingga universitas merupakan pusat kebudayaan. Disamping itu
seseorang karena memiliki kemauan/kemampuan kuat dan keras dapat masuk dan
menjadi bagian dari dunia ilmu, ia adalah self
made man.
Di
universitaslah, ilmu pengetahuan dikembangkan, baik yang bersumber kepada rasio
( penalaran ) dan analis data lapangan. Kelompok yang aktif mengembangkan dan
membangun penalaran, disebut kelompok rasionalisme, sedangkan yang
mengedepankan analis data dan pengalaman dalam membangun ilmu masuk kemudian
dalam kelompok empirisme. Kedua kelompok tersebut berperan dalam memajukan ilmu
pengetahuan sesuai dengan metodenya masing-masing.
Sebagaimana
dijelaskan didepan, ilmu dikembangkan mencari dan mempertahankan kebenaran,
sekaligus mencoba menjelaskan rahasia alam ( membuka tabir alam ). Terbukanya
tabir alam, misteri/ kegelapan alam dicoba dikuak. Pendekatan induktif,
deduktif dan gabungan dibangun terus. Dengan berfikir induktif, deduktif,
manusia telah pula menggunakan berbagai cara ( alat ) atau pengetahuan dan
kemampuan, antara lain diantaranya melalui wahyu ( agama ), atau kemampuan lain
dan diterima sebagaimana adanya, serta diyakini kebenaranya oleh para
pemeluknya/ pendukungnya.
Disamping
itu, masih dikenal pula cara berfikir instinktif atau intuisi yang lebih banyak
mengutamakan/ mengedepankan pada cara-cara non analitik. Berfikir intuitifpun
dalam kehidupan bermasyarakat memegang peran yang cukup penting.
Instink ( naluri ) merupakan
dasar yang ada dijiwa setiap makhluk hidup, karena itu MC Dougall menyatakan
naluri merupakan potensi suci yang mendorong seseorang untuk bertingkah
tertentu. Karena itu demi kepentingan bersama bagaimana naluri yang kita
miliki, anugerah tuhan dapat disalurkan. Lewat kegiatan-kegiatan positif.
Menurut Sigmon
Freud, instink merupakan sumber pertama energi manusia. Instink sebagai
penanggung jawab utama aktivitas dan kegiatan manusia.
Dengan
demikian untuk mencari atau memperoleh ilmu pengetahuan, dengan berbekal
kelengkapan jiwa sebagai anugrah tuhan, berkembanglah ilmu pengetahuan. Dengan
kekuatan jiwa yang ada manusia mampu membangun, memelihara dan mengembangkan
terus. Pengetahuan yang dimiliki tersebut secara turun-temurun dikembangkan
oleh manusia. Kemampuan manusia mampu bertahan hidup dan menjawab tantangan
yang dihadapi, membuktikan hal ini. Dari prespektif ini, posisi ilmu
pengetahuan merupakan bagian dari kekayaan mental manusia.
Kemampuan
alat kejiwaan yang dimiliki manusia berusaha menafsirkan dan mengurai gejala
dan fenomena alam yang ada, sekaligus menjawab tantangannya. Jawaban yang diberikan
pada awalnya hanya merupakan dasar pengalaman dan kebiasaan yang ada, antara
lain melalui akal sehat ( common sense ). Akal sehat sebagai
pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman secara tidak sengaja, bersifat
foradik dan kebetulan, sedangkan karakter akal sehat yang disampaikan oleh
titus yang antara lain landasannya berakar pada adat dan tradisi, cendrung
bersifat pengulangan, kabur dan samar-samar, kesimpulan yang banyak diambil
berdasarkan asumsi ( Depp & K, 1983/84 : 18 ).
Dari
akal sehat dengan cara atau metode tertentu, berkembang terus ke metode
coba-coba ( trial and error ). Dari trial and error yang terus menerus
dilakukan oleh manusia, ilmu pengetahuannya pun semakin sempurna.
Dari
sisi ini berkembang pula ilmu-ilmu
terapan ( applied sciences ) dan ilmu
seni ( art sciences ). Berbagai peninggalan serta warisan kebudayaan
sekaligus peradapan dunia yang ada, misalnya suku indian, persia, mesir, cina, india,
dan indonesia sendiri serta belahan bagian dunia lainnya, membuktikan hal ini.
Kebudayaan dan peradaban adalah ” keselurahan akumulasi materiil dan
spritual umat manusia ”...........” seluruh kekayaan
materiil dan spiritual tentu ras atau masyarakat tertentu ”.......” yang
berwujud materil yaitu peradaban. Sedangkan yang berwujud spiritual adalah
kebudayaan. Selanjutnya yang dimaksud dengan produk-produk adalah apa yang
dihasilkan oleh generasi, sedangkan kekayaan-kekayaan adalah apa yang
diwariskan dari generasi-generasi terdahulu, bersama-sama membentuk suatu peradapan dan sebuah kebudayaan. Arsitektur, desain
sebuah masjid adalah salah satu produk materiil. Sedangkan puisi, agama, toelohi,
seni hukum, hubungan sosial, nilai-nilai kemanusiaan dan etika adalah
aspek-aspek pembentuk kebudayaan ” ( Ali Syari’ati, Jalaludin Rahmat, 1984 : 33
).
Dalam
Al Qur-an, dijelaskan manusia harus meninggikan derajat instink ( naluri ) dan
tidak mematikan demi kepentingan
bersama. Bagi ilmuan harus bersikap khasyah/takut, al’intifah/keterbukaan, istislam/berserah
diri kepada tuhan dan insyaniah/mengabdi kepada kemanusiaan ( M. Quraish
Shihab, 2007 : 461 ).
BAB II
TEORI
DAN PROSES BERFIKIR
C. Berpikir Bagian dari
Kegiatan Manusia
Manusia
ditakdirkan oleh Tuhan sebagai mahluk yang paling lengkap dan sempurna, melebihi
mahluk lainnya. Didalam diri manusia bersemayam suatu kekuatan yang berarti ”...memperlihatkan
adanya dua daya yang hingga kini menyelamatkan dan memperkembangkan dirinya, yaitu
daya tahunya dan daya untuk mencapai yang diketahui, yaitu maunya. Daya tahu
dan daya mau inilah boleh disebut yang memanusiakan manusia. ( Pudjawijatna, 1975
: 25 ).
Para
pemikir hakekatnya menjadi salahsatu kelompok yang sangat di tunggu-tunggu
kedatangannya, posisinya ditinggikan oleh Tuhan. Dengan demikian seorang
dihormati baik karena pemikirannya, posisinya, jabatannya, tingkahlakunya,
maupun lanjut usianya serta alasan-alasan lainya.
Khusus
proses berfikir ilmiah itu sendiri merupakan proses dan langkah panjang,
bertahap, dan terlatih, teruji, sehingga pandangannya sampai hasil
pemikiarannya dapat diterima dan dimengerti malah, sering menjadi panduan/ rujukan
masyarakat.
Secara
simbolis dikatakan, ketika manusia mamakan buah ilmu pengetahuan melalui Adam
dan Hawa, ilmu masuk ke dalam tubuh manusia. Sesudah itu manusia harus hidup
dengan bekal pengetahuan. Buah yang dimakan menjadi bekal hidup di dunia,
setelah adam dan hawa bertemu kembali di dunia.
Pengetahuan
tersebut mengantar manusia untuk mengetahui berbagai masalah yang dihadapi,
yangterkait dengan kebenaran, kesalahan, kekurangan, kebaikan, keburukan,
kemanfaatan, kejujuran, pengendalian dan sebagainya. Menghadapi pilihan-pilihan
tersebut, manusia dituntut berfikir / bekerja cerdas, disamping
bekerja/berfikir keras, sehingga mampu memecahkan masalah yang dihadapinya
secara jernih.
Dengan
demikian kegiatan berfikir semakin meluas dan mendalam “ seluas dan sedalam “
tantangan dan masalah yang dihadapi. Dari berfikir, berbagai alternatif
pemecahannya dapat ditemukan. Kemampuan daya mau dan daya tahu manusia
berkaitan erat dengan kemauan daya cipta ( nalar, pikir ), karsa ( kehendak,atau
keinginan ), dan rasa ( mental, psikis, emosi ) yang dimiliki manusia. Semakin
sempurna ketiga alat kejiwaan tersebut, semakin cepat pula manusia membangun
ilmu pengetahuan, peradaban, kebudayaan, secara pribadi meraih cita-citanya.
Masing-masing
kekuatan kejiwaan pada satu pihak didalam proses kegiatannya, memiliki cara
atau teknik-teknik khusus -pada pihak lain- keberadaan ketiga alat kejiwaan
tersebut saling melengkapi. Pada akirnya, jika ketiga kekuatan jiwa terjalin
dalam satu sinergi atau keserasian yang utuh, akan menghasilkan sifat utama
manusia ( manusia utama/insanul kamil ).
Dengan demikian,
berfikir – dalam arti luas – selalu melibatkan ketiga komponen tersebut. Dari
kegiatan berfikir manusia, memungkinkan munculnya berbagai gagasan, konsep,
ide, teori, sampai menemukan jalan keluar. Karena itu berfikir ilmiah selalu
bersifat terbuka. Bahkan seseorang yang sedang mengenang dan memeikirkan
keluarganyapun, merupakan bagian dari proses berfikir manusia juga. Proses berfikir
yang terakhir ini bersifat rutin, melalui mekanisme tertentu yang dilakuakn
oleh manusia, bahkan mungkin tidak menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi
hasilnya dapat berupa langkah-langkah keputusan, kepuasan maupun bentuk-bentuk
kesadaran tertentu atas persoalan yang dihadapi.
Karena
itu manusia sebagai Homo Sapiens ( Makhluk Berfikir ), “ setiap saat dalam
hidupnya sejak bangun tidur, kembali tidur, akhirnya masuk liang lahat, tidak
pernah berhenti berfikir. Hampir tidak ada masalah yang menyangkut peri
kehidupannya yang terlepas dari jangkauan pikirannnya... ”. ( Langeneld, 1979 :
40 ). Kegiatan berfikir yang tidak pernah berhenti tersebut, melalui sentuhan
tangan ahli patung yang termasyur, Auguste Rodin telah dipahat sebagai lambang
kemanusiaan (manusia berfikir).
Berfikir
ilmiah, bukan bukan berfikir biasa, tetapi merupakan proses berfikir yang
dilakuakan dengan sungguh-sungguh, insentif, sistematik, berdisiplin tinggi,
terfokus pada satu titik masalah yang menjadi pusat perhatiannya, hanya dengan ketekunan
dan keuletan tersebut, kemungkinan ditemukan ilmu pengetahuan baru dapat
terlaksana. Disamping itu , -yang tidak kalah pentingnya dalam berfikir ilmiah-
adalah harus didasari dengan penuh kejujuran dan penuh kearifan ( wisdom ) dan
kehati-hatian ( prudence ), percaya diri ( self confidence ) serta menggunakan
metode yang benar untuk memperoleh hasil yang semaksimal mungkin.
Sebagaimana
terurai didepan metode mencari ilmu pengetahuan – secara klasik/ konvensional –
dapat di kelompokan menjadi dua :
Rasionalisme
Dengan pelopor mulai Plato, Agustinus, Descartes, dan seterusnya.
Proses berfikir rasional dan teratur yang di turunkan dari konsep, ide yang
jelas menjadi teori.
Teori sendiri sebenarnya diawali dari konsep. Konsep merupakan
akumulasi gagasan yang mampu mengeneralisasikan fenomena. Hasil generalisasi
tersebut mampu menggambarkan fakta. Fakta yang berisi keajegan yang terus
menerus menjadi teori. Karena itu keajagan suatu objek tersebut menjadi
perenungan yang mendalam. Konsep tersebut diwujudkan dalam proposisi ( dalil ),
dari proposisi yang bersifat aksiomatik dapat menjadi teori ( tesis yang di
yakini kebenarannya secara universal ).
Dengan demikian, kegiatan berfikir dalam arti seluas-luasnya, tidak
akan lepas dari sifat/kepribadian manusia itu sendiri. Berfikir merupakan salah
satu refleksi “bekerjanya” potensi otak yang dimiliki manusia. Sebagai
anugerah.
Karena itu Descartes menempatkan berfikir pada posisi yang cukup
central, dengan ungkapan yang sangat terkenal, “cogeto ergo sum” ( saya berfikir karena itu saya ada )
membuktikan keyakinan ini. Adanya penghormatan yang berlebihan terhadap rasio
yang diwakili kelompok Rasionalisme, memunculkan kritik, antara lain dikatakan,
pengetahauan yang semata-mata rasional itu, selain sulit dan tidak dapat diraba
( hasil penalarannya ), terbukti juga bahwa kajian kelompok rasional, banyak
yang sama atau relatif sama, bahkan dapat berbeda malah bertentangan dalam
kesimpulannya dari satu objek pemikiran yang sama. Dengan demikian, pengetahuan
rasional belum dapat menuntaskan masalah atau belum menghasilkan jawaban yang
definitif.
Walaupun demikian perkembangan pemikiran yang semakian kritis dan
rasional, membawa pemikiran manusia tetap maju dengan pesat. Akibatnya tradisi
berfikir dogmatis banyak ditinggalakan, karna hanya bertumpu pada satu ajaran
atau satu kebenaran saja dan yang berpindah ke doktrin pluralistik yang lebih
terbuka.
Disamping itu akibat tantangan dan tuntutan serta perkembangan
masyarakat yang semakin bebas, terbuka, komplek, rumit dan maju, metode
berfikir manusia semakin berkembang karenanya, pemikiran klasik rasional
berhadapan dengan hal-hal baru mengharuskan adanya penyesuaian metode dan
kondisi baru. Akibatnya dalil/ teori dan pendapat lama, mungkin malah
berubah/ditinggalkan. karena itu kebenaran ilmiah bukan satu-satunya
kebenarans, bahkan hanya merupakan kebenaran yang bersifat probabilitas dan
pragmatik. Untuk itu selalu ada tempat dalam kehidupan ilmuan untuk pengetahuan
lain. Ilmuan membutuhkan agama, moral, dan seni untuk melengkapi kehidupannya.
Berpilsafat bukan saja memberikan jawaban tetapi juga mengajukan pertanyaan
yang tepat. Semakin dalam dan semakin luas pengetahuan kita mengenai sesuatu, maka
semakin banyak pertanyaan yang timbul. ( Jujun S. Suriasumantri : 2007 ).
Sebenarnya kegiatan berfikir rasional dengan ciri utama,mendalam dan
meluas, sering juga disebut istilah logika, bertujuan menuntun proses
bekerjanya atau penalaran menjadi logik. Karenanya melalui metode berfikir
deduktif tersebut dapat menghasilkan ilmu baru, asal tetap terkait dan
konsisten dengan ilmu yang telah ada sebelumnya.
Berfikir rasional berpedoman pada prinsif serta konsisten nyambung
dengan hasil kajian serta teori/ fakta yang telah ada atau menjadi landasan
analisisnya, hasil pemikiran tersebut merupakan ilmu Pengetahuan baru. Proses
tersebut akan berulang dan berkembang terus.
Sebagai mana diketahui, masalah-masalah sosial tidak mutlak menggunakan
data dari hasil penelitian. Pengamat yang dilakukan oleh ilmuan sebelumnya yang
cukup valid dapat pula dikembangkan, sehingga penemuan / hasil pemikiran
tersebut melalui sintetis menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Sifatnya
memperkuat ilmu sebelumnya, ataupun mengembangkan serta menyempurnakanya.
Disamping berfikir rasional sebagaimana dijelaskan didepan proses
memajukan ilmu pengetahuan dapat juga melalui penelitian lapangan. Dengan
penalaran atau kegiatan berfikir analitik, tajam, dan jernih, ilmu pengetahuan
berkembang terus.
2. Empirisme
Empirisme dari bahasa yunani empeiria yang berarti coba-coba. Tokoh-tokohnya
antara lain, Aristoteles, john locke, David hume, yang menitik beratkan pada
pengalaman-pengalaman.
John Locke mengembangkan teori tabularasa ( selembar kertas putih )
yang bersih dan licin, lewat pengalaman dan panca indra manusia diproleh kebenaran.
Karena sering terbukti kemampuan panca indra/ pengalaman terbatas, diperlukan
kehati-hatian yang tinggi.
Dengan demikian, penemuan data dilapangan yang dapat digali atau
ditangkap oleh manusia merupakan salah satu sumber ilmu dan kebenaran pula. Dengan
teori berfikir induktif dan metode empirik ini, ilmu pengetahuan berkembang
pesat. Karena itu, pendekatan emperik dianggap lanjutan dari berfikir rasional.
Melalui analisis dan kesimpulan yang diperoleh, hipotesis dikukuhkan menjadi
jawaban yang definitif, penelitian – menurut paham ini – menjadi keharusan
ilmiah terutama dalam ilmu eksakta, sehingga penelitian lapangan menjadi wajib.
Diskusi tentang keharusan adanya penelitian bagi ilmuwan yang akan
mengemukakan pendapatnya, pernah berlangsung/ terjadi beberapa tahun lalu. Alm.
Prof DR. Doddy Tisnaamidjaya -ketua LIPPI waktu itu- mengemukakan, sebelum
melakukan penelitiannya, cendekiawan hendaknya menahan diri dalam mengemukakan
pendapatnya. Sebelum melakukan penelitian, cendekiawan tidak mungkin bersikap vini, vidi, vici, ( aku datang, aku lihat dan aku menang ).
Pandangan tersebut dibantah oleh Prof. DR. Emil Salim, dan mengatakan
bahwa kaedah ilmu tidak mengharuskan seorang ilmuwan menggunakan dasar
penelitian. Pengalaman kejadian-kejadian masa lalupun dapat dipakai sebagai
dasar analisis suatu persoalan. Komentar ilmuwan harus diberikan atas kasus per
kasus. Ada masalah yang dapat diberikan komentar berdasarkan penelitian, ada
pula masalah-masalah yang dapat diberikan komentar tanpa melalui penelitian.
Diharapkan seorang ilmuwan, -tidak saja dapat mengemukakan atau
melempar masalah-, namun yang penting dapat memecahkan masalah. Tanpa rasa
takut kepada siapapun, semata-mata demi kepentingan kemanusiaan.
D. Langkah-langkah Berfikir
Yang Benar
Kembali
kepada berfikir ilmiah atau bernalar, di dalamnya mengandung banyak
pilihan-pilihan, karenanya selain mengenal objek apa yang diteliti, harus
memahami dan mengetahui langkah, metode, maupun teknik berfikir ilmiah yang
benar serta tujuan yang hendak dicapai. Hal ini menjadi penting, karena objek
yang menjadi sasaran berfikir ( penelitian ) mungkin sangat komplek, sambung
menyambung dalam satu atau beberapa rangkaian sebab akibat dengan segala
dampaknya. Hal ini juga untuk menjaga agar arah dan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya tidak berubah.
Sering
terjadi, objek penyelidikan atau penelitian maupun kajian ilmu dan pengamatan
yang kelihatannya sangat sederhana, terbukti melalui pengamatan, penalaran dan
penelitian yang lebih seksama tidak sesederhana sebagaimana yang sering
dibayangkan. Karena itu langkah berfikir yang benar menjadi penting, disinilah
peran logika cukup besar.
Logika,
pada awalnya diperkenalkan oleh filsuf Cicero ( 1 abad SM ) dalam arti seni
berdebat. Logika adalah, “ mempelajari syarat-syarat yang harus
dicukupi oleh pemikiran yang menurut akal untuk menghasilkan pengetahuan yang
benar “ ( Langeveld, 1974 : 6 ). Jadi benar tidak alur pemikiran kita,
logika alatnya.
Untuk
itu, langkah untuk mengetahui pendapat/penetahuan yang dikemukakan benar/logis -menurut
para ahli- tiga faktor yang harus diperhatikan, ketiga hal tersebut saling
terkait, tak terpisahkan dan sekaligus menunjukan jernihnya alur pikirannya,
keabsahan, atau validitasnya pendapatnya. Ketiga faktor tersebut, yaitu : mempunyai
pengetahuan ( dalam arti menguasai masalah ), mengambil keputusan ( mampu
menyampaikan pikiran-pikirannya dengan lancar ), dan mampu memberi pembuktian (
memberi argumentasi atas pendapatnya ).
Ketiga
faktor itu merupakan bagian dari filsafat atau disebut logika formal atau
berfikir logik. Logika formal disebut juga logika minor atau dialektika,
yang mengutamakan langkah-langkah berfikir tertentu, konsisten atau dalam
bentuk formal.
Dalam
mengembangkan logika, Aristoteles sangat berjasa, dengan menggunakan istilah
analitika dan dialektika. “ Analitika untuk penyelidikan tentang
argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar, sedangkan dialektika
penyelidikan tentang argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis/ putusan
yang tidak pasti ( K. Bertens, 1975, 138 ).
Secara
praktis, siapapun diantara kita, didalam pertemuan misalnya, -lebih-lebih dalam
forum ilmiah- pendapat/ pandangan yang disampaikan hendaknya diawali dengan
penguasaan/ pendalaman masalah secara komprehensif atas masalah yang dibahas,
kemudian mampu menyampaikan pokok-pokok pikiran kita. Ketiga dapat memberi
argumentasi atau alasan atas pandangan yang kita sampaikan secara tepat,
sehingga pikiran kita “ tidak asbun “ ( asal bunyi ).
Cara
penyampaikan/ menyajikan menjadi penting pula, sehingga bahasa mempunyai peran
yang sangat penting. Kemampuan bahasa ilmiah terutama generasi muda perlu
dibanguan terus, sehingga menjadi budaya/ tradisi/ kebiasaan bersama.
Dengan
demikian, budaya ( kebiasaan ) membaca
terpacu/ dipicu dengan budaya menulis. Hal ini merupakan prakondisi membentuk
masyarakat kritis/ masyarakat madani ( civil society ). Budaya mendengar kalau
terus menerus tanpa diikuti budaya baca dan menulis menjadi kurang baik.
Karenanya,
logika formal merupakan bentuk pemikiran, sekaligus pengetahuan yang
mempelajari atau menetapkan syarat/ aturan atau langkah formal yang harus
dipenuhi kalau masuk dunia logika pada umumnya. Dimulai dari penentuan ( penetapan
) premis-premis tertentu, dilanjutkan dengan pembuktian dan di akhiri dengan
penarikan kesimpulan. Kesimpulan merupakan pernyataan akhir yang sudah
diketahui kebenarannya.
Disamping
logika formal ada bagian-bagian lain dari teori berfikir yang masuk kedalam
logika materiil ( logika mayor ). Pada bagian inilah isi/ inti pemikiran yang
di buktikan lewat kemamapuan seseorang atas masalah yang di hadapi. Kemampuan
menyampaikan isi pemikiran lewat pertemuan ilmiah, misalnya. Menguasai logika
materiil sama dengan mengetahui inti masalah yang di kaji.
Diantara
ketiga faktor tersebut aspek pembuktian memegang peranan yang sangat penting.
Pembuktian dikatakan tepat, bila telah diadakan ( ditetapkan )
keputusan-keputusan yang di haruskan dan daripadanya telah ditarik kesimpulan
menurut hukum (Filsafat Hukum, 1987 / 984 : 27). Karenanya hasil pemikiran
tidak termasuk didalam bidang logika formal.
Kebenaran
logika sampai pada tahap pembuktian, pada dasarnya sudah melalui beberapa
langkah tertentu, yang dilakukan oleh kelompok atau aliran rasional. Dengan
premis umum, kemudian diturunkan atau diaplikasikan kedalam logika deduktif
melalui ajaran Aristoteles yang disebut silogisme. Silogisme mengajar manusia
berfikir logis menggabungkan tiga proposisi, dua pernyataan sebelumnya menjadi
dasar pembuktian.
Silogisme
disusun melalui dua pernyataan yang berurutan, kemudian diambil satu
kesimpulan. Pernyataan yang mendukung Silogisme adalah premis mayor dan premis
minor, sedangkan kesimpulan yang merupakan hasil dari dua pernyataan tersebut
diatas.
Contoh silogisme
klasik adalah :
Semua manusia pasti
mati ( premis mayor );
Ariestoteles adalah
manusia ( premis minor );
Aristoteles pasti
mati ( konklusio );
Beragam pola
silogisme dapat dipelajari dengan mendalam lewat ilmu filsafat. Dalam buku ini
sesuai dengan tujuannya sebagai pengantar filsafat ilmu, pembatasan silogisme
dibatasi.
Contoh lain :
Premis benar,
kesimpulan benar;
Semua manusia butuh
udara;
Alea adalah
manusia;
Alea butuh udara;
Contoh premis salah
:
Robot benda
bernyawa ( premis mayor – salah );
Mr. X adalah robot
( premis minor );
Mr. X bernyawa (
kesimpulan salah );
Berdasarkan
penalaran deduktif, dua contoh diatas, contoh pertama valid, karena, antara dua
premis logis terkait, sehingga kesimpulannya pun menjadi benar pula. Sedangkan
contoh kedua salah. Dengan demikian didalam menghadapi kasus-kasus yang
komplek, rumit dan ruwet, pemecahan masalah dengan menggunakan metode atau cara
silogisme mempermudah memecahkan masalah.ilmu deduktif merupakan ilmu
pengetahuan yang pembuktiannya melalui deduksi ( penjabaran ) sehingga ada
penalaran dalil, norma, logika, teori, maupun variabel yang bersifat khusus
untuk sampai pada kesimpulan umum. Jadi deduksi merupakan penjabaran/wujud
rasionalisme yang diaplikasikan didalam fakta.
Ilmu
deduktif bersifat matematis ( kesepakatan ) yang menjelaskan satu masalah. Jadi
kalau satu kasus atau hasil pemikiran sudah memenuhi unsur-unsur yang terkait,
hasil temuannya menjadi jelas. Sebagaimana satu alur pikiran yang benar, maka
adanya konsep, proposisi ( pernyataan ), penalaran( reasoning ) dan pembuktian
harus ada benang merah yang jelas dan konsisten.
Begitu
pentingnya terpeliharanya alur serba sama tersebut, menjadi salah satu pedoman
dalam mengikuti teori( pedoman ) yang konsisten ( consistency theory ). Lewat
alur pikir teori ini, kebenaran akan terwujud, sebab unsur-unsur yang bersifat
subyektif diminimalisasikan malah dihilangkan.Hubungan antara subyek dengan
realita diusahan diperkecil.
Karena
itu teori ini disebut juga “ teori koherensi ” ( teori yang ada pertalian logis
) antara obyek, sehingga hubungan antara proposisi ( pernyataan ) cenderung
benar dan logis.
Disini
yang utama, alur pemikiran harus terjaga dengan baik, jangan tersampai bias
atau rancu. Untuk mendapatkan hasil yang benar, faktor kecermatan,
kehati-hatian, menjadi penting. Matematika hakekatnya merupakan pengetahuan
yang disusun secara deduktif pula.
Dengan
demikian pendekatan/ cara kerja deduktif merupakan asas logika. Logika
diartikan sebagai tehnik berfikir dan diciftakan untuk meneliti ketepatan
penalaran.Untuk memahaminya, hendaknya memahami alur alur pemikiran yang jelas
tentang penalaran. Penalaran apa yang harus diketahuai agar orang dapat
berfikir dengan tepat?. Penalaran adalah proses berfikir manusia yang runtut
yang hasilnya adalah pemikiran. Bentuk-bentuk sederhana dari pemikiran berupa.
Konsep ( coceptus, concep );
Posisi atau pernyataan ( propositio, statement );
Penalaran/dasar ( ratiocinium, reasoning );
Dalam
logika deduksi sebagai “ penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih
sempit dari pada wilayah premisnya ”. Beberapa asas/ hukum logika sederhana
selalu berkisar pada penyimpulan ( silogisme, syllogism ) berdasarkan putusan
yang bersyarat ( hipotetis, hypothetical judgment ).
Pendekatan
ilmu-ilmu deduktif adalah pendekatan yang bersifat pasti. Dalam ilmu pasti pendekatan
yang digunakan adalah cara kerja deduktif menggunakan simbol = simbol dengan
mendasarkan pada keruntutan penalaran yang pasti. Dalam matematika, penalaran
diarahkan pada bagaimana sebuah rumus suatu perhitungan atau aritmatika ( dari
rumus sederhana hingga rumus mutakhir ) dapat ditetapkan secara deduktif
kedalam suatu masalah.
Disamping
ilmu deduktif, sebagaimana disinggung didepan dikenal pula cara perfikir
induktif ( ilmu induktif ). Titik tekan ilmu induktif yang disebut juga ilmu
empirik ( pengalaman ), sasarannya adalah alam semesta dan obyek-obyek lain
yang menjadi perhatian seorang peneliti/ilmuan. Obyek tersebut terkait dengan
kepentingan kehidupan bersama umat manusia. Dari objek masyarakat yang beragam,
diharapkan perkembangan ilmu semakin bersifat khusus dan menyempit, antara lain
dalam bidang kedokteran, berkambang spesialis penyakit dalam, lever, dan
lain-lain, antropologi, ilmu teknik, biologi, dan juga ilmu-ilmu sosial.
Cara
kerja ilmu deduktif dan induktif titik tolaknya berbeda. Ilmu deduktif,
kebenaran ilmiahnya lewat penjabaran-penjabaran/ deduksi, sebaliknya ilmu
induktif menekankan pengalaman dalam dunia nyata, dengan metode dan penekanan
observasi/ pengamatan dan penelitian.
Dengan
demikian, metode induktif merupakan kesimpulan yang bersifat umum dari satu
penalaran khusus. Lewat eksplorasi, menjelaskan/ menerangkan hubungan antara
gejala yang ada. Disini hubungan kausalitas menjadi penting.
Untuk
lebih memperjelas “ praktek ” pemahaman dua cara berfikir tersebut, contoh
dalam berfikir deduktif dalam pemahaman makna dalam KUHP tentang pencurian ( mulai
dari premis ) dan kedua berfikir induktif dalam melihat kasus konkret lain ( mulai
dari fakta, misalnya tentang binatang buas ) sebagai berikut :
Pasal
362 KUHP ( Pencurian ) : “ barang siapa mengambil suatu barang, yang sama
sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain, dengan maksud akan memiliki
barang itu dengan melawan hak, dihukum, karena pencurian, dengan hukuman
penjara selama-lamanya lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900,- “.
Unsur / elemen
pencurian :
- Perbuatan “ mengambil “
- Yang diambil harus “ suatu barang “
- Barang tersebut “ seluruh/ sebagian milik orang lain “
- Mengambil untuk “ memiliki “ dengan melawan hukum.
Contoh dalam kasus
pencurian tersebut lewat berfikir deduktif, sebagai berikut :
Ditetapkan lebih dahulu premis/ dalil (unsur) suatu kasus;
Premis ( anggapan dasar yang tidak diragukan lagi kebenarannya/ axioma
antar premis mayor dan minor kaitkan dengan kasus );
Antara kedua premis harus ada elemen yang sama ( ada kolerasi ),
Setelah
diperoleh keyakinan ( ilmiah ) akan premis ( dalil ) yang ditemukan. Kemudian
ditetapkan siapa yang memenuhi unsur-unsur tersebut untuk dinyatakan sebagai
pencuri. Disini diperlukan analisis yang konsisten.
Sebaliknya
pemecahan secara induksi atas suatu kasus, diawali dengan mempelajari kasus konkrit, diteliti satu demi satu, serta
bertahap. Langkah selanjutnya dari hasil penelitian satu persatu tersebut, di
abstraksi ( generalisasi ) dengan tetap memperhatikan segi-segi hubungan kasus
yang sudah “ di pecah-pecah “.
Dengan
demikian, sifat korespondensip ( adanya hubungan ) dengan objek tetap terjaga
dan digunakan sebagai titiktolak mencari kebenaran. Lewat metode tersebut,
keajagan terjamin dan tetap berpedoman pada teori korespondensi ( corespondence
theory ) tersebut diatas. Kebenaran -menuru teori ini- merupakan perpaduan
antara fakta (realita yang diurai secara rinci), dianalisis oleh subjek ( pelaku
) yang sedang melakukan pengamatan fakta utama dalam mencari kebenaran.
Dalam
meneliti sejumlah binatang buas -misalnya- akan dilihat, diteliti persaman
phisik yang dimiliki, ada bulu, mata, kaki, maupun taring misalnya. Dari sekian
fakta/ alat/ bentuk tubuh yang dimiliki, bila ada binatang memiliki bentuk
tubuh yang relatif sama, namun mempunyai taring atau bertaring tajam, binatang
tersebut adalah binatang buas. Kesimpulan binatang yang bertaring tajam adalah
binatang buas ( lihat kucing, anjing, harimau, tupai dan lain-lain ).
Sebaliknya binatang yang tidak mempunyai taring adalah jinak ( kambing, sapi
dan lain-lain ).
Sebenarnya,
baik logika deduksi maupun induksi pastilah berdasarkan premis-premis yang
benar. Kebenaran itu sendiri secara alamiah dan ilmiah dapat diperoleh melalui
penalaran rasional dan pengalaman empirikal
dalam arti luas. Dengan demikian, terbukti bahwa baik rasionalisme maupun
empirisme dalam rangka membangun ilmu pengetahuan saling mengisi.
Karena
itu, jika proses berfikir telah dilalui dengan benar, tahapannya menjadi lebih
transparan, penarikan kesimpulannyapun akan menjadi benar atau relatif benar
pula. Karenanya hasil apapun harus diterima apa adanya ( das sein ), tanpa
rekayasa atau adanya upaya-upaya lain yang mencoba menutupinya, dengan demikian
fakta itu suci ( apa adanya ).
Kebenaran
menurut ilmu adalah kebenaran apa adanya, tanpa mengikut sertakan unsur
subyektivisme. Adapun proses yang benar tetap berlaku untuk kelompok rasional
deduktif dan kelompok empirik iduktif.
E. Teori Berfikir Menurut
Ilmu Pengetahuan
Sebagaimana
dijelaskan didepan, berfikir merupakan aktivitas manusia sehari-hari. Dalam
operasionalisasinya, berfikir ilmiah memiliki jenjang/ proses atau tingkat
tertentu sesuai dengan derajat kepentingan/ tujuannya. Di samping kedua hal
tersebut, harus disesuaikan pula objek ( sasaran ) pemikiran ataupun penelitian
yang dituju.
Dengan
demikian, berfikir dalam kerangka ilmu pengetahuan memiliki ciri/teori maupun
teknik tertentu yang membedakan dengan berfikir sehari-hari atau rutin yang
dilakukan oleh setiap manusia.
Berfikir
ilmiah -tidak saja- memerlukan latihan, tetapi juga teori-teori yang terkait
dengan objek dan hasil yang diharapkan harus diketahui. Untuk itulah melalui
prinsif dan prosedur-prosedur tertentu, harapan untuk mengetahui ilmu
pengetahuan baru yang bermanpaat demi kepentingan masyarakat dapat terwujud.
Pemahaman atas teori dan proses berfikir yang benar merupakan bagian yang
penting dari filsafat ilmu.
Kalau
dapat dirumuskan, filsafat ilmu adalah ilmu yang mencoba menjelaskan pra
anggapan ,pra anggapan atau asumsi dari setiap ilmu, sehingga sangat terkait
dengan segi epistimologi atau filsafat pengetahuan yang ada. Sebagaimana
diketahui setiap ilmu memiliki susunan dasar atau landasan, paradigma atau alat
penyangga yang berbeda-beda, penyangga ilmu dapat dibagi menjadi tiga komponen,
yaitu dasar epistimologi, dasar ontologi, dan dasar aksiologi.
Dasar Epistimologi Ilmu
atau Teori Ilmu Pengetahuan
Dasar epistimologi terkait dengan asas ilmu pengetahuan yang diawali
proses sampai pada penyusunannya dalam satu pengetahuan yang utuh. Dengan
demikian aspek prosedur/ proses dan kriteria untuk meraih kebenaran menjadi
penting. Dasar inilah yang membedakan apakah hasil temuan penelitian ataupun
pemikiran tersebut ilmu atau non ilmu.
Dalam epistimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme
( kebenaran,
pengetahuan ) dan logos ( pikiran, kata, teori ),
sehingga epistimologi disebut theory of knowledge. Hal ini
dilakukan ketika manusia memerlukannya, karena manusia cenderung ingin
mengetahui segala sesuatu. Dengan demikian, epistimologi
adalah percakapan/ pikiran tentang ilmu
pengetahuan.
Karena itu, ilmu pengetahuan
yang memiliki ciri-ciri tertentu hanya dapat didekati dengan dan metode-metode
tertentu pula. Disinilah “ keistimewaan ” ilmu, yang hanya dapat diraih dan
dipelajari oleh orang-orang yang betul-betul tekun, sabar, ” tahan banting ”,
penuh kejujuran dalam situasi dan keadaan apapun. Landasan epistimologi ilmu
akan nampak dalam oprasionalnya. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara
ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan ” :
a) Kerangka pemikiran yang logis dengan argumentasi ( yang diterima akal ),
bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah disusun;
b) Menjabarkan hipotensi ( dugaan sementara ) yang merupakan deduksi dari kerangka
pemikiran tersebut dan;
c) Melakukan verifikasi ( kajian ulang ) dari hipotensi termasuk untuk
menguji kebenaran kenyataan secara faktual. Secara akronim metode ilmiah
terkenal sebagai logiko hypothetico verifikasi atau deducto hypothetico
verifikatif ( Nyoman N, Sujana, Unair, 1988 );
Perbedaan
dua kubu ( deduktif dan induktif ), melalui tiga langkah tersebut diatas sudah
dapat terjembatani, sehingga ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan baik.
Dengan demikian kalau masih ada anggapan yang menyatakan bahwa pendapatnya yang
paling benar ( solipsisme ), para ilmuan sendiri harus sering melakukan dialog.
Hanya melalui dialog menurut plato dapat memproleh ilmu yang sempurna.
Dialog atau apapun namanya, diskusi,
seminar, debat terbuka merupakan cara pengujian ( berfikir tertinggi ),
sehingga dapat diperoleh pengetahuan yang sempurna ( episteme ).
Melalui
penyelesaian diatas, pertentangan dua kubu yang semula sangat keras telah
menemukan solusinya. Pada awalnya masing-masing kubu mempertahankan pendirian
dengan teguh, melalui proses yang panjang dan dilengkapi bukti-bukti yang ada.
Ternyata langkah-langkah gabungan keduanya tetap merupakan kebenaran ilmiah,
dan penggabungan dua metode tersebut benar dan dapat diterima.
Dengan
demikian pendekatan rasional dalam pendekatan teori ilmu,kemudian dilengkapi
dengan pendekatan empirik dalam menguji satu kebenaran. Keduanya dapat di
terima sebagai suatu kebenaran ilmiah. Akhirnya skepsitisme masing-masing
kelompok menjadi berkurang, bahkan menjadi hilang.
Epistimologi
ilmu inilah metodologi ilmu pengetahuan atau yang sering disebut metodologi
penelitian yang sebenarnyamasuk kedalam filsafat ilmu. Karenanya didalam suatu
penelitian, sering menggunakan empat langkah, mulai dari perumusan masalah,
diteruskan dengan hipotesa atau teori atau deduksi, ditambah analisis atau
induksi dan pengujian yang diakhiri dengan suatu kesimpulan, merupakan kesatuan
langkah. Dalam epistimologi, yang dipersoalkan antara lain adalah:
Apakah pengetahuan itu;
Apakah yang menjadi sumberdari dasar pengetahuan;
Apakah pengetahuan tersebut berasal dari pengamatan, pengalaman,
akal budi, dan pemikiran;
Apakah pengetahuan itu merupakan kebenaran yang pasti atau hanya
(masih) dugaan.
Dewasa
ini, menurut Jujun S. Suriasumantri ( Republika, 20/ 9/ 07 ) “ selama proses
belajar mengajar, maupun dalam kegiatan penelitian akademik, teori tidak
difungsikan secara semestinya ”. Selanjutnya dikatakan penalaran yang berupa
deduksi teoritik dari teori ilmiah dalam memecahkan masalah jarang sekali
dikembangkan. Dalam kegiatan penelitian akademik pun fungsi teori hanya sebatas
acuan dan penjelasan, bukan sebagai alat prediksi dan kontrol. Salah satu
penyebabnya, ialah, bahwa dalam sistem pendidikan, kita hanya diajarkan satu
epistemologi yakni epistemologi penemuan pengetahuan ilmiah, yang lebih
berorientasi pada pengamatan dan induksi. Untuk itu, di sarankan diberikannya
epistemologi alternatif yang lebih berorientasi pada penalaran dan prediksi,
yakni epistemologi pemecahan masalah. Dalam epistemologi ini, kita mengacu pada
teori-teori ilmiah yang relevan untuk mendeduksikan prediksi pemecahan masalah
sebelum data dikumpulkan.
Epistomologi
pemecahan masalah cocok untuk peserta didik yang sedang belajar untuk menguasai
ilmu dan teknologi. Sedangkan epistemologi penemuan pengetahuan ilmiah cocok
untuk ilmuwan profesional yang menerapkan keahliannya untuk memecahkan masalah.
Kedua epistimologi ini dapat diberikan secara bersama-sama dalam mata pelajaran
keilmuan, sebab mereka tidak menafikan malah justru saling melengkapi. Jika proses
yang lebih dipentingkan dari pada hasil, epistemologi pemecahan masalah dipakai
sebagai acuan. Sebaliknya jika hasil yang lebih dipentingkan dari pada proses,
maka gunakan epistemologi penemuan pengetahuan ilmiah.
Dengan
demikian, “ epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang
terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas,
sifat, metoda dan valadity pengetahuan “. ( Surajiyo, 2007, 62 )
Dasar Ontologi Ilmu
Dasar ontologi ilmu adalah dasar ilmu yang terkait
dengan objek yang akan dikaji atau wujud hakiki dari ilmu. Melalui
pemikiran maupun penelitian, manusia berusaha menangkap objek tersebut. Dengan
ontologi mengkaji atau membahas kebenaran sesuatu ( objek ), tentang “ ada
” (onto), sehingga dapat memahami baik secara konkrit, faktual maupun
metafisis, misalnya tentang alam maupun Tuhan.
Melalui
pengetahuan ontologi ilmu ini, dapat dibatasi ruang lingkup penelaahannya. Ilmu
merupakan bagian kecil dari misteri pengetahuan alam yang sangat luas, sehingga
ilmu menjadi “ terbatas ” sesuai batas ontologinya. Hal-hal yang terkait dengan
misteri yang dibalik dunia, seperti akhirat atau alam baka,surga dan neraka, diserahkan
kepada disiplin lain ( agama ).
Didalam
penentuan batas atau objek ilmu, akan terkait terus dengan ontologi ilmu itu
sendiri. Ilmu sendiri bersifat netral, apa adanya ( das sein ), dan tidak
memasuki wilayah lain, seperti moral, etika, agama, dan seterusnya, yang lebih
bersifat seharusnya ( das sollen ). Netralitas ilmu kadang-kadang dapat
atau sering digunakan, bahkan disalah gunakan oleh banyak pihak, yang
bertentangan dengan hakekat ilmu itu sendiri.
Oleh
sebab itu dengan memperhatikan kajian atas objek ilmu yang berkembang terus,
aspek moral dan manpaat ilmu perlu diperhatikan dengan baik. Kegiatan para
ilmuan yang cenderung merusak masyarakat dan alam, bahkan dapat mengurangi atau
merendahkan martabat kemanusiaan harus dicegah. Bioteknologi ( rekayasa genetika ) dalam berbagai aspek kehidupan,
serta menjadikan flora, fauna maupun khususnya manusia sebagai objek penelitian
yang cenderung coba-coba, yang cenderung menentang kodrat agama dan moral,
perlu mendapat pengawasan dan perhatian serius.
Sifat
manusia yang serba tidak puas, serba ingin mengetahui hal-hal yang baru dari
satu segi, merupakan bagian dari pembangun ilmu. Namun disegi lain hal ini
sering disalah gunakan, sehingga mengakibatkan segi-segi negatif bagi kehidupan
umat manusia sendiri.
Sebagai
contoh, rekayasa genetika masih berjalan terus. Kelompok ilmuan bebas cenderung
memberi kebebasan berkreasi, hal ini merupakan bagian dari hak asasi manusia,
sedangkan etika dan agama adalah masalah lain.
Kelompok
ini berhadapan dengan kelompok ilmuan moralis yang menjunjung tinggi martabat
kemanusiaan. Menolak kegiatan-kegiatan yang dapat merusak etika dan keberadaan
manusia itu sendiri. Semboyan ilmu untuk kepentingan ilmu berhadapan dengan
kelompok lainnya yang bersemboyan ilmu untuk masyarakat. Kedua kubu sedang “ beradu
”.
Dasar Aksiologi Ilmu
Dasar
aksiologi ilmu terkait dengan kegunaan , manfaat, ilmu, sehingga apakah ilmu
itu perlu dikembangkan, dihentikan ( dialihkan ), atau justru harus mendapat
perhatian, hal ini sangat terkait dengan kaedah atau norma ( nilai ) yang
dianut/ dijadikan pedoman manusia dalam memandang baik atau buruk.
Sehubungan
dengan itu perlu direnungkan kembali ungkapan Francis Bacon yang pernah
menyatakan “ pengetahuan adalah kekuatan ”, berarti siapa yang paling
banyak memegang dan menguasai ilmu pengetauan akan menjadi kelompok yang paling
berkuasa. Karenanya orang/ kelompok orang yang menguasai ilmu pengetahuan
sekaligus memiliki kualitas moral yang prima, tidak mudah menyalah gunakan ilmu
yang dimiliki. Komitmen kelompok ilmuwan menjadi taruhan untuk memperhatikan
hal ini.
Memperhatikan
perkembangan, kemajuan serta posisi atau keberadaan ilmu dewasa ini, harapan
tersebut merupakan keharusan sejarah. Sebagaimana terbukti, ilmu pada satu
pihak dikembangkan untuk membahagiakan atau mensejahterakan umat manusia, namun
dilain pihak dikembangkan untuk tujuan sebaliknya, yaitu untuk mendatangkan
petaka umat manusia.
Memperhatikan
posisi dan peran ilmu yang sangat besar dan kuat serta besar pengaruhnya kepada
kehidupan masyarakat, komitmen pemegang ilmu baik perseorangan, kelompok maupun
negara sangat penting. Kerjasama antar para pemegang ilmu pengetahuan dan
teknologi perlu digalang terus.
Visi ( Istilah alm. Prof DR Nurcholish Madjid, diterjemahkan tugas agung, bersifat jiwani, dambaan yang
diinginkan masa depan/ what do we want to be ) dan misi/ sasaran agung, bersifat badani apa yang didambakan sekarang
demi masa depan ( what do we want to have ).
Visi dan misi menguasai ( pemegang ilmu ) harus jelas, karena berdampak
akan kepada umat manusia, karenanya dunia memerlukan -tidak saja- manusia yang
cerdas, tetapi juga yang terpenting bermoral, berakhlak mulia dan berjiwa besar.
Penekanan
tersebut bukan merupakan harapan yang berlebihan, namun tetap wajar. Kewajaran
tersebut sesuai dengan hakekat ilmu sendiri yang mencari dan mempertahankan
kebenaran. Untuk kepentingan manusia sendiri, ilmu disusun dan dikembangkan
oleh para pendekar ilmu ( jenius ). Karena itu jika ilmu pengetahuan
diumpamakan sebagai sebuah bangunan, merekalah yang membangun, mendirikan
sekaligus memeliharanya.
Melalui
“ tangan-tangan ” mereka ilmu “ merekayasa ” sampai dewasa ini. Selanjutnya
para penerusnya yang menambah dengan berbagai bahan baru, misalnya dengan
mengecat, memelihara dan meneruskannya.
Bagi
ilmu filsafat, metode atau pendekatan terhadap kajian sanga penting. Dengan
metode yang tepat dan khas, orang diharapkan dapat memahami persoalan filsafat
atau problem filosofis dengan baik. Berbagai metode yang sifatnya masih sangat
umum dapat membantu orang menjelaskan dan memahami tema-tema filsafat
(ontologi, epistemologi dan aksiologi).
Metode-metode itu
antara lain:
1)
Metode kritis reflektif
pancaran balik/ pantulan;
2)
Metode dialektik-dialog dari
Socrates;
3)
Metode fenomenologis dan;
4)
Metode dialektik ala hegal;
Metode kritis reflektif merupakan cara atau metode memahami suatu objek atau permasalahan dengan melihatnya secara
integralistik mendalam dan mendasar untuk kemudian merenungkan kembali tentang
sesuatu yang telah dilihatnya secara mendalam. Metode ini membutuhkan
proses pemikiran yang berkelanjutan sampai seseorang menemukan kebenaran atau telah
puas dengan apa yang dikajinya. Selama ini masih meragukan dan ingin bertanya
tentang sesuatu itu, metode kritis reflektif tetap digunakannya.
Metode dialektik – dialog dari Socrates merupakan suatu metode atau cara memahami suatu metode atau
cara memahami sesuatu atau objek kajian dengan melakukan dialog. Dialog
berarti komunikasi yang bersifat dua arah, ada seseorang berbicara dan ada
seseorang lain yang mendengarkan. Dalam pembicaraan yang terus-menerus dan
mendalam diharapkan orang dapat menyelesaikan segala problem yang ada.
Dialektik berarti proses pemikiran seseorang yang mengalami perkembangan karena
mempertemukan ide yang satu dengan ide yang lainnya. Tujuan metode dialektik –
dialog ini adalah mengembangkan cara berargumentasi agar posisi yang bersifat
dua arah itu dapat diketahui dan diharapkan satu dengan yang lainnya.
Metode fenomenologis, salah satu metode pada ilmu filsafat yang dikemukakan oleh seorang
filsuf bernama Edmund Husseri
merupakan suatu metode yang digunakan orang untuk melakukan persepsi ( mengetahui
dan memahami ) terhadap semua fenomena atau gejala yang berada disekeliling
manusia dan untuk kemudian berusaha untuk menemukan hakikat atau eidos dari
seluruh fenomena. Eidos diperoleh dengan cara mereduksi atau menanggalkan
semua fenomena yang dianggapnya tidak relevan dengan keinginannya ( kesadaran /
rasionalitas seseorang ), sehingga ditemukan fenomena murni.
Metode dialektika ala Hegal adalah metode atau cara memahami
dan memecahkan persoalan atau problem berdasarkan
tiga elemen, yaitu tesa, antitesa, dan sintesa. Tesa adalah suatu persoalan atau problem
tertentu, sedangkan antitesa adalah suatu reaksi, tanggapan
ataupun komentar kritis terhadap tesa ( argumen dari tesa ). Dari dua
elemen tersebut diharapkan akan muncul sintesa, yaitu suatu kesimpulan. Metode
ini bertujuan untuk mengembangkan proses berfikir yang dinamis dan memecahkan
persoalan yang muncul karena adanya argumen yang kontradiktif atau berhadapan
sehingga dicapai kesepakatan yang rasional. ( Irmayanti, M Budianto, 2002, 14
).
Metode-metode
tersebut, merupakan perwujudan “ pertemuan “ antara filsafat dengan ilmu
pengetahuan. Lewat pendekatan kritis reflektif misalnya, fakta dibedah dengan
beragam metode, diharapkan menemukan kebenaran yang tidak berat sebelah (
menemukan hakekat kebenaran ). Sekaligus mengurangi resiko salah mengambil
keputusan.
Hal
yang tidak kalah pentingnya untuk memehami filsafat adalah sisi pragmatis atau
kegunaannya. Banyak orang yang bertanya “ mengapa belajar filsafat ?”.
Pertanyaan yang menggelitik semua orang adalah “ apakah manfaat atau faedah
apabila orang belajar filsafat “. Pertanyaan ini hendaknya dapat dijawab dari
berbagai sudut pandang. Pertama, filsafat kita dudukankan sebagai
sarana sebuah kata benda ( “ benda untuk apa, isi apa, untuk apa “ ).
Dengan melihat filsafat sebagai kata benda, maka tindakan tertentu atau
perilaku tertentu dari seorang akan menggambarkan pandangan-pandangan hidup
atau keyakinannya dalam wujud ide-ide serta gagasan-gagasan. Dalam bidang
keilmuan, filsafat dapat dilihat sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang memiliki
objek dan metode tertentu. Semua orang dapat mempelajarinya. Kedua,
filsafat kita lihat sebagai action meaningfull action, sebagai sebuah kata
kerja. Apabila sebagai sebuah kata kerja, maka yang berperan adalah
manusia yang sangat aktif untuk mengisi tindakan atau perilakunya ( yang telah
dipenuhi pandangan hidup atau ide tertentu ) dengan penuh makna. Tindakan yang
bermakna berarti seseorang bekerja keras menyelesaikan segala masalah yang
dihadapinya, baik secara individual maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Ia
dapat mengaktualisasikan kehidupan bermaknanya dalam bentuk tertentu, misalnya
dengan memiliki pekerjaan tertentu, memiliki keluarga, memiliki teman, dan
sebagainya. Disamping itu ia sanggup berhubungan atau berinteraksi dengan
sesama manusia, baik anggota keluarga, rekan kerja, ataupun pihak lain dengan
baik, saling menghargai dan menghormati denagan segala persamaan ataupun
perbedaan masing-masing individu ( Irmayanti, M Budianto, 2002 : 13/14 ).
Seterusnya
kalau filsafat dilihat dari kata sifat
, diharapkan sifat/ hakekat dan cara bekerja orang perorang dipenuhi sifat dari
filsafat itu sendiri. Kalau sifat / hakekat filsafat dapat melekat pada diri
orang perorang, maka penampilan didalam masyarakat akan menjadi lebih “
merunduk “ ( tidak sombong ) dan lain-lain.
Dengan
demikian, membicarakan teori berfikir, berarti membicarakan sebagian kecil dari
filsafat ilmu.
Disinilah,
satu kebenaran teoritik didalam menjawab tuntutan dan harapan masyarakat akan
dapat dibuktikan. Didalam menyusun dan membangun ilmu. Kedua teori memegang
peran yang penting. Teori adalah “
satu perangkat proposisi-proposisi yang disusun secara sistematik dan saling
berhubungan antar yang satu dengan yang lain “ ( Filsafat Ilmu, 1983 )
atau merupakan “ pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu
sektor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan...” ( Filsafat Ilmu, 1983 ).
Menurut
Jonathan Tunner, terdapat empat unsur dalam menyusun teori yaitu adanya
konsep-konsep, variabel, kenyataan-kenyataan emperik dan formal penalaran.
Selanjutnya Abraham Kinioch mengusulkan bahwa teori terdiri dari delapan
unsur yang meliputi :
Adanya paradigma / pegangan;
Memiliki perangkat konsep-konsep;
Adanya hubungan logik antar konsep;
Adanya perangkat variabel yang telah dioperasionalkan;
Adanya metodologi yang dapat dipakai untuk melakukan pengujian
hubungan proposisi;
Data dapat diinterpretasikan;
Adanya evaluasi isi proporsi-proporsi tertentu ( Webster, 1933 :
540 ).
Paradigma adalah patron, model, kerangka
berfikir atau dapat didefinisikan sebagai “ a philosophical or theoretical framework
of a scientific school disipline whitin with theories law, generalitation and
the experiments performed in support of them are formulated “ (
Filsafat Ilmu, 1983, 27 ).
Sedangkan
Paradigma
menurut Tommy F Away “ keseluruhan konstalasi baik dari
teknik-teknik rasional maupun sistem-sistem kepercayaan yang ada didalam diri
para ilmuwan “ (1993).
Karena
itu dalam kerangka menyusun suatu ilmu pengetahuan yang benar, sebyah
teorisecara umum akan berada pada tahapan “
accepted ” jika memenuhi syarat-syarat tertentu, walau pada tingkat
sebelumnya mungkin masih berada tingkat hipotek (dugaan). Melalui pengujian
berkali-kali, sebuah teori akhirnya berkembang menjadi hukum.
Bangkitnya
modernitas, akarnya pada zaman renaissance (abad pencerahan), setelah perang
salib. Manusia makin percaya diri (antroposentris), mengedapankan akal dan ilmu
pengetahuan. Dengan demikian kekuatan atas tiga unsur tersebut membuat manusia
semakin tangguh menghadapi tantangan.
Lahirnya
berbagai penemuan dibidang iptek dan pencerahan dari bidang sosial budaya
(beragam isme berkembang). Berbagai ideologi modern semakin beragam. Pemikiran
semakin positif ide positivisme menjadi paradigma utama.
Sebagaimana
diketahui setelah itu ada gugatan terhadap paradigma modernitas (positivistik)
oleh pemikiran kelompok post modern. Gerakan filsafat ini menggugat memampuan
ilmu pengetahuan dengan memasukkan dan mengajukan berlakunya misteri psikologi
manusia. Pertumbuhan kebudayaan yang tidak linear merupakan bukti bahwa terjadi
proses evolusi terus menerus didunia ilmu.
F. Aliran-aliran dalam
Filsafat Ilmu
1). Rasionalisme (pelopornya antara lain Descartes,
Spinoza-Leibniz-Immanuel Kant).
Rasionalisme adalah aliran
filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) merupakan alat terpenting dalam
memperoleh ilmu pengetahuan serta menguji kebenaran pengetahuan. Sebaliknya empirisme menekankan pengetahuan dibangun dengan jalan
“membedah” obyek penelitian. Rasionalisme mengajarkan ilmu pengetahuan diproleh
dengan cara berfikir. Alat/instrumen dalam berfikir berupa kaedah-kaedah
logika. Rasionalisme berpendapat bahwa sebagian atau sebagian penting
pengetahuan merupakan hasil dari kerja akal. Contoh pemahaman tentang logika
dan matematika begitu pasti, jadi benar menurut logika dan benar secara
universal. Immanuel kant berpendapat bahwa, rasionalisme (kepastian) suatu
kejadian adalah kejadian yang sesuai dengan kaedah sebab akibat (causality)
sebagai kaedah alam.
2). Idealisme ( Spiritualisme ), ( Pelopor antara lain, Plato, Fichte,
Schelling, Hegel ).
Filsafat idealisme adalah
doktrin/ajaran yang menekankan tentang hakekat dunia fisik hanya dapat dipahami
kebergantungannya pada jiwa (mind) dan
spirit (roh). Idealisme dari ”idea” yaitu yang hadir
dalam jiwa (fomed in mind). Keyakinan ini berasal dari pendapat plato.
Pandangan ini pada awalnya dikemukakan oleh george Berkerley yang menyatakan
bahwa hakekat obyek-obyek fisik adalah idea-idea. Plato dengan ajarannya
tentang idea (cita) dan jiwa. Ide gambaran asli segala benda. Semua yang ada
didunia merupakan jelmaan bayangan. Ide tidak dapat ditangkap oleh indra tetapi
dapat dipikirkan. Indra hanya menangkap bayangan. Leibniz menggunakan istilah
ini pada permulaan abad 18 dan menamakan pemiliran Plato sebagai lawan dari
paham materialisme epicurus. Idealisme menggunakan argumen yang menyatakan
bahwa obyek fisik pada akhirnya adalah ciptaan tuhan-argumen kelompok idealis
obyek-obyek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit. Secara umum
idealisme terkait dengan rasionalisme. Hal ini bagian dari mazhab epistemologi
yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktif dapat di peroleh
manusiadengan akal. Lawan rasionalisme dalam epistemologi adalah emperisme yang
mengatakan bahwa pengetahuan bukan diproleh lewat rasio (akal) melainkan
melalui pengalaman/empiris. Pengikit aliran emperisme sulit menerima paham
tentang semua realitas yang ada yang terkait dengan hal-hal yang bersifat
metafisik.
3). Empirisme ( pelopornya antara lain John Lock, Hune, Spencer ).
Empirisme adalah suatu doktrin
filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengeyahuan serta
pengetahuan itu sendiri. Dengan mengecilkan peranan
akal. Empirisme berasal dari bahasa yunani yaitu empeiria yang berarti
coba-coba atau pengalaman. Untuk memahami empirisme perlu diketahui teori
tentang makna dan teori tentang pengetahuan. Teori makna pada aturan ini
biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, asal-usul idea atau
konsep. Teori makna dan empirisme selalu dipahami lewat penafsiran pengalaman.
Teoro pengetahuan menurut aliran rasionalis, ada beberapa kebenaran umum dan
pengalaman. Metode ini akan berkembang
terus seiring dengan tuntutan zaman/perubahan zaman.
Sekilas
Mengenai Teori Berfikir Modern
Perkembangan
berfikir intentif, merupakan suatu kegiatan berfikir non analitik. Proses
perkembangannya sangat penting, karena didalam perkembangan lebih lanjut dalam
proses berfikir ilmiah, terbukti bahwa selain kemampuan atau prestasi berfikir
manusia yang semula hanya diukur sejauh mana jumlah IQ ( intelligence quotient
/ kecerdasan intelektual ) yang dimiliki seseorang. Test IQ temuan Alferd Binet
pada abad XVIII.
Dalam
berbagai aspek/ praktek kehidupan, terbukti seseorang yang memiliki IQ cukup
tinggi dapat atau sering gagal dalam kehidupan bermasyarakat, sebaliknya -
kadang - seseorang yang memiliki IQ
sedang-sedang, justru lebih berhasil dalam masyarakat. IQ menilai seseorang
lewat satu aspek (segi) kecerdasan otak saja.
Adanya
kasus-kasus seperti itulah yang menjadi pemikiran ( renungan ) para ahli,
kemudian menyimpulkan bahwa keberhasilan seseorang – tidak saja – ditentukan
oleh jumlah IQ yang dimilikinya, tetapi ada faktor lain yang ikut berpengaruh,
yaitu berperannya faktor emosi seseorang yang tertuang dan terukur didalam
kecerdasan emosional/EQ ( Emotional Quotient ).
Sejauh
mana seseorang dapat menguasai emosinya atau dapat membawa dan mengendalikan
emosi serta nafsunya, akan sangat mempengaruhi dan menjadikan seseorang lebih
cerdas, sehingga penguasaan kecerdasan dalam arti umum tidak dapat dilepaskan
dari kekuatan orang-perorang dalam menguasai emosinya. EQ menuntun kita untuk
mampu mengambil keputusan berdasarkan keseimbangan antara emosi dan rasio.
Dengan
dikuasainya kecerdasan emosional (selft
awareness) secara benar, berarti seseorang telah dapat mengusir tuntutan emosi
yang sering over emosional (berlebihan). Sesesorang yang sudah mampu menguasai
emosi, berarti orang tersebut sudah dapat lepas atau melepaskan diri dari
himpitan atau tekanan emosi yang negatif, sehingga gejolag emosi dapat
dikendalikan dan tidak menjadi budak emosi (nafsu sesaat).
Seseorang
yang mampu mengendalikan emosi, jika salah, mengaku salah, kalau memang telah
berbuat salah. Pengakuan tersebut merupakan salahsatu perwujudannya. Dalam
Media Indonesia tanggal 26 Oktober 2005 menyebutkan orang sukses ternyata orang
yang mampu mengendalikan emosi, (80 % orang sukses mampu mengendalikan emosinya
EQ).
Menurut
Ilmu Psikologi, mengenal dan mampu mengendalikan emosi, adalah salah satu ciri
manusia dewasa dan berkepribadian matang. Anak-anak belum mempunyainya. Karena
itu hampir tiap anak, termasuk anak TK, masih menunjukan emosi yang
meletup-letup, bisa menangis meraung-raung ditengah keramaian jika keinginannya
tidak terpenuhi.
Menurut
Peter Salovay dan John Mayer (Psikolog dari Universitas Hardvard dan New
Hampshire di AS), kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi sendiri itulah
yang dinamakan kecerdasan emosi atau EI (Emotional Intelligence) (Salovay &
Mayer, 1990).
Menurut
kedua pakar itu, orang dewasa yang tidak dapat mengenali dan mengendalikan
emosinya sendiri (termasuk suka berantam, atau tidak mau kalah dalam kompetisi)
adalah dengan EI rendah. Itulah yang terjadi pada sebagian politisi. IQ mereka
boleh tinggi (beberapa anggota DPR bergelar S2 dan S3), tetapi EI mereka
rendah, maka adu ototlah mereka, bukan adu otak.
Seseorang
pakar psikolog AS lain, Daniel Goleman (1995), lebih jauh mengemukakan, ada
lima wilayah kecerdasan emosi, yaitu :
1. Mengenali emosi sendiri;
2. Mampu mengelola emosi itu sesuai situasi dan kondisi;
3. Bisa memotivasi diri dengan emosinya;
4. Bisa mengenali emosi orang lain;
5. Mampu membina hubungan baik dengan orang lain. (Sarlito Wirawan
Sarwono).
Dalam
terminologi Yunani kuno, seseorang yang mampu mempunyai kemampuan pengendalian
emosi, berarti orang yang bersangkutan telah memiliki kekuatan shiproshine
(keseimbangan dan kebijaksanaan emosi yang terkendali). Dengan demikian,
tuntutan emosinya sudah dapat dikuasai dan dikendalikan, ia sudah memiliki
kematangan emosi.
Orang-orang
Romawi kuno (Gereja kuno), menyebut : “temperantia atau kearifan mengendalikan
emosi dirinya, maka ia akan benar-benar mengenal Tuhannya”.
Kecerdasan
yang dikemukakan oleh Daniel Goleman tahun 1995 termasuk telah menjadi topik
hangat dikalangan akademisi, sampai ada yang menyimpulkan bahwa E.Q lebih mampu
daripada I.Q.
Sementara
waktu bergulir terus, Danah Zohar beserta istrinya, Ian Marshall dari
Universitas Hardvard menemukan cara berfikir lain yang dianggap asli atau
genuine atau otentik, yang disebut kecerdasan spiritual (S.Q.)
Kecerdasan Spiritual (Spritual
Quotion/S.Q) dianggap sebagai puncak kecerdasan
manusia yang berpusat pada ruang spiritual (Spriritual Space). Menurut Theodore Rotzack, ahli teknologi spiritual
menyatakan “ dalam diri manusia ada ruang
spiritual jika tidak diisi dengan hal-hal yang lebih tinggi, maka ruang itu
secara otomatis akan terisi oleh hal-hal yang lebih rendah, yang ada pada diri
setiap manusia “.
Melalui
kecerdasan spriritual (kecerdasan hati nurani), kita diajak cerdas secara
spiritual, yang berarti manusia diajak memasuki alam spiritual, sebab didalam
ruang spiritual memuat kecerdasan yang tinggi. Ruang spiritual tersebut wajib
digali dan dikembangkan terus-menerus agar seseorang tidak sampai terjebak atau
tertipu dengan kesadaran semu (the false consciousness).
Manusia
diharapkan berusaha terus-menerus untuk menggali sampai meraih kesadaran
hati/jiwa/nurani/spiritual (the soul consciousness), sebab kesadaran spiritual
merupakan puncak dari segala kecerdasan atau kesadaran.
Sementara
itu, kalau kita ikuti pandangan dari teori ini, posisi E.Q merupakan bentuk
kecerdasan yang tertumpu kepada kearifan batin, sedangkan S.Q tidak sekedar
puncak kecerdasan, tetapi juga merupakan landasan untuk memfungsikan I.Q dan
E.Q.
Dengan
demikian, berfikir tidak saja bertumpu pada
I.Q dan E.Q tetapi juga melibatkan S.Q yang memiliki visi, harapan, nilai-nilai
dan kecerdasan akan makna. Untuk mencapai tingkat kecerdasan spiritual,
diperlukan energi dan kemampuan yang besar, karena seseorang yang ingin
memiliki S.Q dituntut selalu memiliki kearifan jiwani dan etos kerja yang
konsisten (hasil analisis pemikiran dan keyakinan menyatu) keteguhan hati.
Dalam
pembahasan lebih mendalam tentang teori berfikir, lebih lanjut dikemukakan
teori berfikir religiositas atau R.Q (Religiousity Quotient), yaitu teori
berfikir berdasarkan keimanan. Tingkat berfikir religiositas ini tidak sekedar
berfikir tentang beragama, tetapi bertumpu pada keimanan dan ketaqwaan kepada
Tuhan YME. Pemikiran dengan tingkat religiositas yang tinggi percaya bahwa
tujuan, proses, dan hasil penalaran selalu dilihat atau dimonitor dan diketahui
oleh Tuhan.
Dengan
demikian, seseorang yang telah menyadari R.Q, sadar bahwa setiap cita-cita (keinginan)
atau kemauan negatif yang muncul melalui kekuatan ilmunya yang dapat
mengakibatkan menyangsarakan, membodohi masyarakat dan hanya untuk kepentingan
pribadinya akan berkurang, malah hilang dari ingatannya, yang tersisa adalah
rasa takut akan murka Allah.
Pemimpin
atau pemikir yang memiliki tingkat kecerdasan relegiositas tinggi, akan selalu
menjalankan tugas-tugas yang diamanatkan kepadanya dengan penuh amanah
(memegang kepercayaan) dan istiqomah (konsisten/ teguh) terhadap apa yang sudah
menjadi tanggungjawabnya. Karenanya alangkah bahagiannya jika negara atau
bangsa memiliki banyak pemimpin dan pemikir yang mengedepankan atau
mendahulukan berfikir secara religiositas. Pemikiran dan tindakanya akan selalu
diisi dengan nilai-nilai moral dan etika agama.
Kondisi
masyarakat dunia yang cenderung serba materialistis, hedonistis, egoistis, serta
permisif, menuntut dan berharap bermunculannya para pemikir dunia, nasional,
bahkan lokal. Para pemikir tersebut tidak saja memiliki I.Q tinggi, tetapi juga
memiliki E.Q, S.Q, dan R.Q yang handal. Pemikir seperti ini kedatangannya pasti
ditunggu dan di harapkan oleh jutaan manusia.
Oleh sebab itu, jika
Einstein pernah menyatakan “ ilmu tanpa
agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh “, dilihat dari
perspektif teori berfikir diatas, pandangan tersebut sekarang terbukti,
gabungan dari teori-teori yang dikemukakan diatas menjadi pembenar atas ucapan
Einstein tersebut diatas dan bagi generasi penerus, hendaknya menjadi renungan
bersama.
G. Berfikir Lateral dan
Semiotika
Perkembangan teori
berfikir cerdas tersebut diatas, sepertinya tidak terlepas pula dari rintisan
dan pemikiran Dr. Edward de Bono yang
pernah memperkenalkan teori berfikir lateral (latheral thinking / berfikir
menyamping, bukan menyimpang) pada dekade tahun delapanpuluhan.
Berfikir lateral
adalah berfikir non konvensional atau tradisional atau vertikal, tetapi
berfikir alternatif yang memiliki bobot dan yang sama dalam setiap cara
berfikir, serta tidak berpusat pada nalar saja.
Bekerjanya diluar nalar (arasional), tetapi bukan irasional. Dengan berfikir
lateral, akan terjadi proses seleksi dan proses tersebut akan berjalan terus. Jika
ada satu arah yang bergerak berurutan, dalam setiap langkah, maka proses analitik
berjalan terus.
Bekerja
berfikir lateral bersifat provokatif, “jungkir balik” serta dapat melakukan
lompatan-lompatan yang berbeda. Karenanya berfikir lateral prosesnya tidak
terbatas, serba mungkin, terbuka, bahkan kreatifitas manusia berpeluang untuk
menjadi semakin tajam.
Satu
ilustrasi atau contoh yang dikemukakan oleh de
Bono, tentang seseorang yang mendaki bukit dan berhasil naik kepuncak
bukitnya, keberhasilan tersebut bukan ditentukan beberapa kali pengalaman
pendakiannya yang pernah dilakukannya tetapi cukup sekali, dan dari puncak
bukit dapat dilihat berbagai alternatif untuk melakukan pendakian selanjutnya,
sehingga dapat ditemukan atau diperoleh alternatif mana yang terbaik untuk
mendaki sampai ke puncak.
Nampaknya
untuk dapat menemukan “meraih” dan berfikir - sebagaimana disebutkan didepan -
, kuncinya adalah bagaimana energi mental dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk
meraih kemajuan. Bahkan de Bono pun sering mengkonstruksi pikirannya, melalui
pendekatan agama.
Nasehat
Andi Hakim Nasution yang intinya mengajak siapa saja untuk menyeimbangkan
antara fikir dan dzikir secara berimbang. Banyak berdzikir (kontemplasi, dzikir,
meditasi, semedi) tanpa berfikir dapat mengekang perkembangan ilmu pengetahuan.
Adapun tempat mempertukarkan fikir dan dzikir adalah di filsafat ilmu (pendapat
dalam arti luas).
Ramuan
teori berfikir modern yang dikaitkan dengan pandangan yang memusatkan pada daya
kekuatan batin bawah sadar manusia tersebut, menunjukan adanya kaitan yang erat
antara rasio dan akal budi.
Kata
seorang ahli, “berfikir jahat maka
kejahatan yang akan terjadi, sebaliknya berfikir baik maka kebaikan yang akan
terlaksana”. Hal ini sebagai akibat bekerjanya proses batin atau alam bawah
sadar. Karena itu begitu bawah sadar menerima suatu ide atau gagasan, dia akan
memproses dan melaksanakan perintah tersebut. Persoalanya kemudian, bagaimana
bawah sadar seseorang mampu dan dapat menerima gagasan yang ada, dan dia patuh
menjalankanya. Untuk mengetahui hal itu perlu waktu dan kesabaran serta
pengalaman.
Dengan
demikian, bawah sadar sudah merupakan prinsip atau keyakianan dan bekerja
sesuai dengan hukum kepercayaan, sehingga kepercayaan yang terpatri didalam
hati (bawah sadar) dapat langsung berhubungan dengan Tuhan melalui doa dan
harapan. Doa merupakan media yang kuat dan ampuh dalam mengarungi kehidupan.
Semakin
“tersebarnya” dan dihayatinya beragam teori berfikir tersebut diatas,
diharapkan menjadi budaya ( kebiasaan ) bersama kebiasaan positif yang
dipelihara, betapapun sederhananya, memiliki pengaruh dan malah kekuatan yang
besar. Karena itu, membangun budaya positif dalam kehidupan bersama harus
diperkenalkan sejak dini.
Dengan
demikian, kebiasaan menjadi modal utama untuk meraih sukses. Dalam dunia modern
memerlukan pemikiran modern, pemikiran yang menggabungkan unsur logika, emosi,
dan spiritual. Hal ini hakekatnya merupakan penggabungan unsur real (fakta) dan
unreal (hakekat). Karena itu penalaran (logika) meneliti hal-hal yag real,
sedangkan “unreal” hanya dapat dibedah lewat bawah sadar yang mampu merekam
energi besar alam semesta yang berpengaruh atas hidup manusia secara spiritual.
Disinilah manusia memerlukan Tuhan.
Hubungan
abadi, hubungan antar alam nyata dengan hakekat yang tak terpisahkan, merupakan
tanda alam yang tak dapat diabaikan. Dari sisi sinilah bangkitnya ilmu
semiotika, yaitu “the study of the way in
which poeple communicate through sign and symbols” berkembang terus.
Tanda-tanda
tersebut, secara lebih “mudah” dibahas dalam buku yang berjudul “Semiotika Tuhan” yang ditulis oleh Audifax. Lan Fang telah membahasnya
dalam kompas 08 September 2007 antara
lain dikemukakan,
Audifax rupanya ingin menjawab
pertanyaan tentang keberadaan Tuhan sebagai Zat Tertinggi. Bukan dalam 11
pandangan Tuhan manakah yang paling benar atau paling tinggi. Karena Tuhan
terlalu besar untuk ditelaah dari sudut yang demikian kecil. Setidaknya Tuhan
adalah satu daya (energi) yang maha kuat sampai melampaui batas keterbatasan
manusia. Tuhan bisa mengada dalam berbagai bentuk tanda yang seharusnya bisa
dibaca oleh manusia.
Hal ini menimbulkan tanda
tanya besar dalam diri manusia. Tanda tanya akan Dia, akan alam semesta, akan
masa depan, dan sebagainya. Maka, manusia membutuhkan tanda sebagai jawaban
atas pertanyaan. Manusia membutuhkan pegangan dalam mendapatkan kepastian akan
sesuatu.
Audifax menyebut dua tokoh
semiotika, yaitu Ferdinand de Saussere dan Charles Sanders Pierce. Bagi
Saussere, semiotika merupakan ilmu umum yang mengkaji kehidupan tanda-tanda
dalam masyarakat sehingga merupakan bagian dari disiplin psikologi sosial.
Sedangakan menurut Pierce,
semiotika adalah bentuk lain dari logika yang merupakan salah satu cabang dari
filsafat.
Sedangkan dalam perspektif
pandangan Audifax, tidak ada sesuatu yang namanya “kebetulan” didunia ini. Semua
kejadian, pertemuan, perpisahan, orang-orang yang saling bertemu, bahkan
mimpipun, mengusung pesan yang bisa dihubungkan satu sama lain akan membawa
kita kepada kesempatan yang kita inginkan. Dan, itu adalah tanda yang harus
kita baca sebagai pesan yang ingin disampaikan-Nya.
Sedangakan tanda dari Tuhan
semesta yang merupakan satu energi (daya) maha dasyat yang berada didalam
lingkaran waktu yang kerap tidak diperhatikan.
Inilah sebenarnya energi
(daya) luar biasa Tuhan yang bisa kita baca melalui tanda-tanda alam semesta.
Bila kita mau sedikit lebih peka menandai setiap kebetulan yang terjadi dalam
hidup kita sehari-hari, tidak ada kebetulan yang cuma kebetulan.
Skema inilah yang ada didalam
buku Audifax yang ketiga ini. Tentang konsep yang memadukan intelektualitas dan
spiritual manusia yang menyerap pengetahuan dan singkapan-Nya yang berserakan
dalam realitas dan peristiwa yang terjadi. Manusia seharusnya bisa melihat
realitas secara transparan melalui kepekaannya sehingga mampu membaca fenomena
yang Dia inginkan bukan hanya dalam gerakan linier.
Dampak
adanya keyakinan bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia, semua by design Tuhan, maka siapapun yang
menghadapi problem, betapapun sulitnya, tetap segar.
Dengan
demikian, adanya cobaan bertubi-tubi yang dialami, dapat berdampak positif,
bila yang bersangkutan sadar bahwa keadaan ini sudah di design dari Tuhan,
sehingga dapat semakin kuat, “tahan banting” menghadapi hiruk pikuknya
kehidupan yang semakin komplek. Namun dapat pula sebaliknya bagi pesimistik dan
tidak yakin adanya garis yang harus dilewati dalam hidupnya.
Satu
hal yang perlu diperhatikan, dengan kekuatan rasio yang dimiliki, manusia
diharapkan mampu membaca tanda-tanda zaman / ayat-ayat Tuhan, sehingga lebih
hati-hati dalam melangkah.
Agar
kita didalam memahami/mengetahui ilmu semiotika tersebut, menurut pandangan
penulis design yang dimaksud dalam garis-garis besarnya. Artinya dari garis
besar dimaksud, manusia dengan kekuatan alat kejiwaan (daya cipta, rasa, dan
karsa) sebagai anugerah Tuhan, wajib untuk menganalisis, mengurai dan memilih
untuk mengurangi kesalahan/kelemahan kita.
Dalam
Islam, disamping Sunatullah (hampir
sama) dengan hukum alam, ada yang
dinamakan Inayatullah (uluran tangan Tuhan) yang tidak pasti
sama dengan sunatullah. Dari sudut pandang ini, maka yang disebut kebetulan -dalam
islam- ada kaitanya -tidak saja- ulur tangan/tapi juga campur tangan Tuhan.
Dengan demikian, didunia ini tidak ada yang serba kebetulan, semua terjadi
karena kebesaran Tuhan.
Kalau
pandangan tersebut dikaitkan dengan pengolahan pemikiran filsafat (dalam agama
islam) ada sekelompok pemikir walau minoritas ada aliran jabariah, satu aliran
yang “cenderung” menerima apa adanya (ada yang menganggap fatalistik). Hal ini
terkait dengan pandangan bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan.
Lawan dari aliran jabariah adalah
aliran muktazilah (yang mengedepankan
rasio sama, atau hampir sama dengan aliran rasionalisme) dalam memandang masalah-masalah
kehidupan.
BAB III
HASIL
OLAH PIKIR DAN PERAN ILMUWAN
A. Kolerasi Hasil Proses
Berfikir dengan Ilmu Berfikir
Sebagai
mana diungkapkan didepan, “berfikir
ilmiah adalah berfikir yang telah melalui berbagai proses secara sistematik dan
dilakukan dengan penuh kehati-hatian, kesabaran tanggung jawab sehingga tidak
terjebak dalam kesalahan, baik didalam proses maupun sampai dengan pengambilan keputusan atau kesimpulan”.
Berfikir
(pikiran) maupun logika selalu terkait dengan hasil yang logis, sehingga logika
akan membuahkan hasil pikiran yang benar, serta dirumuskan atau dinyatakan
dengan kalimat yang benar pula, sehingga publik tidak menjadi bingung
karenanya.
Berfikir
secara umum diasumsikan sebagai proses kognitif dengan mengisi pikiran/otak
kiri yang pada saatnya mampu menyampaikan kembali dalam uraian yang lebih dalam
dan luas, -sekaligus- mengisi otak kanan (efektif).
Membangun
berfikir kognitif, berarti melatih otak kiri untuk mempertajam kecerdasan otak.
Matematika dan bahasa merupakan merupakan “bahan baku” untuk melatih otak kiri. Penemuan
para pemikir secara terus menerus tanpa henti, beberapa diantara pemikir
tersebut menemukan/menghadirkan teori semacam membangun/mengembangkan manusia
lewat tidak saja IQ yang selama ini digunakan sebagai tolok ukur kecerdasan
manusia, berarti otak kiri yang dilatih terus ditemukan teori lain, yaitu EQ,
SQ, dan RQ. Teori-teori tersebut memberi petunjuk bahwa latihan-latihan otak
kanan memegang peran penting juga.
Otak
kanan membangun segi efektif (berkesenian, perasaan, sosialisasi, spontanitas,
imaginasi, gotong-royong, dan lain-lain) tidak boleh dilupakan. Justru kepekaan
dari faktor-faktor tersebut sangat membantu keberhasilan seseorang dalam
kehidupannya. Dengan pemberdayaan kedua belah otak tersebut, kemampuan
intelektual dapat dikembangkan seoptimal mungkin.
Lewat
latihan kedua belah otak tersebut, manusia menjadi lebih seimbang dalam
mensikapi problematika hidup yang semakin komplek dan kadang ruwet.
Lewat
pengembangan otak kiri dan kanan secara seimbang, manusia dapat berkembang
tidak saja dengan bebas, sesuai dengan pribadinya tetapi juga tidak ada
tekanan, paksaan, karena dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Manusia
mengalir (panta rai) sesuai dengan pilihan dan kepribadiannya.
Secara terminologi, logika berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari
tentang hukum-hukum, kaedah-kaedah serta cara berfikir melalui akal atau budi
kita untuk mencapai penalaran yang tepat dan benar.
Tugas logika lebih lanjut sebagaimana di singgung didepan mempelajari
bentuk-bentuk berfikir yang refleksikan dalam tiga unsur, yaitu kuasai masalah,
atau pembentukan pengertian (konsep) artinya harus ada konsep lebih dahulu,
Kemudian konsep
disusun didalam satu keputusan (proposisi) serta mampu menyampaikan
pikiran/keputusan, -yang paling penting- mampu menetapkan dan memberikan
pembuktian (inferensi).
Hasil penalaran yang memuat
/mengedepankan ide harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Jika kurang
hati-hati dalam proses tersebut, hasilnya dapat salah atau kurang memuaskan,
-malah- sering subyektif.
Demikian pula, kelompok empirik
yang meyakini kebenaran kesimpulannya hanya melalui penelitian atau gejala yang
kongret, melalui analisisnyapun, dapat pula salah, jika kurang hati-hati.
Dikhawatirkan hasil analisisnya “hanya” sekedar kumpulan fakta dan bukan data.
Sebagaimana diketahui bersama, disamping kelompok atau aliran rasional dan empirik, -disinggung
didepan- pengetahuan dapat diperoleh dengan intuisi atau wahyu melalui agama,
dengan perantaraan melalui malaikat.
Dengan demikian, manusia dalam
upaya memperoleh atau menghasilkan satu kesimpulan yang benar, sebagaiman
dikemukakan didepan, jalan atau proses berfikir harus benar-benar menjadi salah
satu ukuran utama.
Karena itu, teori kebenaran dari
aliran rasional dengan landasan atau pedoman yang mengedepankan dan
memperhatiakan konsistensi serta koherensi apa yang dihasilkan, dengan hasil
pernyataan atau pendapat sebelumnya akan menjadi jaminan terhadap kebenaran
ilmiah yang dikemukakan. Alur pemikiran yang konsisten tersebut, dalam praktek
sering memakai bantuan matematika. Sebaliknya aliaran empirik yang menekankan
teori kebenaran dengan pendekatan korespondensi, dalam arti hasil analisisnya
terdapat kontak, hubungan langsung atau kebenaran dengan obyek yang dituju,
merupakan keharusan pula.
Dua pendekatan tersebut sudah
terjembatani dengan baik, melalui satu proses yang disebut sebagai logiko-hipotetiko-verifikatif, dan
menurut Tyndall sebagai satu
perkawinan yang berkesinambungan antar teori deduktif dan induktif (Filsafat
Ilmu, 20).
Proses induksi mulai memegang
peran dalam verifikasi atau pengujian hipotesis yang dikumpulkan dari fakta
(data) empirik dalam rangka memberi penilaian suatu hasil, apakah hipotesis
tersebut telah didukung dengan fakta yang ada atau tidak. Seterusnya penyusunan
hipotesis didalam menyimpulkan suatu permasalahan yang diperoleh melalui
pengalaman tersebut, mempengaruhi pula dalam proses berfikir deduktif. Melalui
proses tersebut peluang hipotesis diterima semakin besar.
Disamping aliran yang
mengedepankan metode rasional dan metode empirikal, dikenal pula metode eksperimental
yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana timur (muslim) yang mempunyai pengaruh
cukup penting dalam cara berfikir manusia. “Eksperimental ini dimulai oleh ahli
kimia, meskipun pada awalnya didorong oleh tujuan untuk mendapatkan “obat ajaib
untuk awet muda” (elizil tetae) dan ‘rumus untuk membuat emas dari logam biasa’
namun lambat laun berkembang menjadi paradigma ilmiah. Metode eksperimental ini
diperkenalkan didunia barat oleh filsuf Robert Bacon dan kemudian dimantapkan
sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon” (Filsafat Ilmu halaman 57).
Melalui metode eksperimental
tersebut diatas, maka teori, dalil atau pengetahuan yang diperoleh melalui uji
sintesis dan analisis, serta penggabungan cara berfikir induksi dan deduksi,
maka ilmu pengetahuan semakin berkembang, sebagaimana kita saksikan dewasa ini.
Hasil sintesis dan analisis yang benar akan dapat membentuk struktur
pengetahuan ilmiah yang lengkap pula.
Sesuai dengan sifat
dasar ilmu pengetahuan yang selalu mencari kebenaran dan diabdikan demi
kepentingan masyarakat, maka untuk membangun ilmu pengetahuan tersebut
-menurut para ahli- memerlukan bantuan bahasa, matematika dan statistika.
Sebagaimana dikemukakan oleh
para ahli, manusia tidak saja disebut homo sapiens (berfikir), tetapi juga
disebut homo vaber, yaitu makhluk pembuat alat (pemakai teknologi),
kemampuan tersebut akan muncul terus, karena dimilikinya ilmu pengetahuan,
-disamping- homo laden (manusia pemain). Kalau hal ini dikaitkan dengan
pendapat Aristoteles, bahwa manusia itu adalah makhluk bermasyarakat (zoon
politicon), yang bermakna “man is a social and political being”,
maka manusia untuk bisa hidup selalu memerlukan bantuan manusia lain. Manusia
hanya bisa hidup kalau berhubungan dengan manusia lainnya. Disinilah peran dan
posisi bahasa sangat penting.
Bahasa merupakan pernyataan atau
ungkapan perasaan sekaligus sebagai alat komunikasi antar manusia. Bahsa pada
dasarnya terdiri dari kata-kata atau istilah-istilah dan sintaksis.
Kata atau istilah merupakan
simbol dari arti sesuatu, dapat juga berupa benda-benda, kejadian-kejadian,
proses-proses, atau juga hubungan-hubungan.
Sintaksis merupakan cara untuk
menyusun kata-kata atau istilah didalam kalimat untuk menyatakan arti yang
bermakna.
Bahasa Dapat Di Golongkan Menjadi :
1)
Bahasa Alami
Bahasa
sehari-hari yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang tumbuh atas dasar
pengaruh alam sekelilingnya. Bahasa alami dibedakan antara bahasa isyarat dan
bahasa biasa.
Bahasa Isyarat
Dapat berlaku umum :
menggelengakan kepala tanda tidak setuju, menganggug tanda setuju, hal ini
diterima oleh umum;
Dapat berlaku khusus : untuk
kelompok tertentu dengan isyarat tertentu pula;
Bahasa Biasa
Yaitu
bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari, simbol sebagai pengandung
arti dalam bahasa biasa disebut kata, sedangkan arti yang dikandungnya sebagai
makna.
Bahasa
ini rumusnya diambil dari bahasa biasa yang diberi arti tertentu, misalnya,
demokrasi (demos dan kratein), medan, gaya.
Bahasa Artifisial
Adalah
murni bahasa buatan, atau sering juga disebut dengan bahasa simbolik, bahasa
serupa simbol-simbol sebagaimana yang digunakan dalam logika maupun matematika.
2)
Bahasa Buatan
Bahasa yang disusun sedemikian
rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akal pikiran untuk maksud tertentu.
Kata
dalam bahasa buatan disebut istilah,
sedangkan arti yang dikandung istilah
disebut konsep.
Bahasa
buatan dibedakan antara bahasa istilah
dan bahasa artifisial.
Bahasa Buatan merupakan bahasa ilmiah yaitu
bahasa yang diciptakan oleh para ahli dalam bidangnya dengan menggunakan
istilah-istilah atau lambang-lambang untuk mewakili pengertian-pengertian
tertentu.
Bahasa Ilmiah merupakan kalimat-kalimat
deklaratif atau satu pernyataan yang dapat dinilai benar/salah, baik
menggunakan bahasa biasa sebagai pengantar untuk mengkomunikasikan karya
ilmiah, maupun menggunakan istilah-istilah serta simbol-simbol secara abstrak.
Dengan demikian bahasa, baik
verbal maupun tulis merupakan alat komunikasi yang penting dalam seluruh proses
pemikiran ilmiah. Melalui bahasa, ilmu yang memiliki sifat publik akan dan
harus diketahui oleh masyarakat. Karena itu, mungkin menjadi benar jika bahasa
dianggap kaki ilmu pengetahuan agar dikenal publik, sehingga benar pula, jika manusia oleh Ernst Cassirer disebut Animal
Symbolicium, makluk yang menggunakan simbol. Tanpa
adanya bahasa, seseorang didalam usaha menguasai ilmu pengetahuan menjadi
terhambat, atau bahkan menjadi mandek.
Dengan bahasa pulalah, manusia
mampu mengembangkan abstraksi sampai khayalan untuk menjelaskan ide-ide yang
terkandung dalam alam pikirannya, sehingga manusia mampu membangun ilmu
pengetahuan.
Karena itu, siapapun yang
menyampaikan pandangan/pendapat dapat dianggap benar, bilamana seseorang mampu
memberikan jawaban dengan argumentasi/alasan yang benar. Didalam menjawab
pertanyaan publik, jawaban yang harus dipersiapkan meliputi jawaban yang berisi
pertanyaaan mengapa, apa, kapan, siapa,
dan bagaimana sampai pada pandangan tersebut.
Dari sekian warna pertanyaan
tersebut, pertanyaan-pertanyaan diatas penting semua untuk memberi bobot atas
pikiran orang, namun bagi penulis pertanyaan mengapa (why) memiliki bobot
khusus, dari pertanyaan mengapa dapat berkembang, digali ataupun dicari dan
diminta / pertanggung jawaban landasan pikiran dari beragam sisi-sisi lain dari
sang pemikir tersebut.
Selain bahasa, matematika
mempunyai peran yang penting didalam membangun ilmu pengetahuan. Didalam
matematika terdapat unsur kesepakatan atau perjanjian. Matematika bertugas
melakukan kwantitifikasi atas masalah-masalah yang mengandung atau yang berisi
unsur kualitatif/kualitas. Dengan demikian, matematik merupakan unsur penting
dalam berfikir deduktif, sekaligus menjadi bahasa yang melambangkan serangkaian
makna yang disampikan.
Lambang-lambang matematika
bersifat artifisial dan baru mempunyai arti sebuah makna, kalau diberikan arti.
Tanpa itu, matematika sekedar himpunan atau kumpulan rumus-rumus mati. Yang
paling sukar untuk dijelaskan kepada seseorang yang baru belajar matematika,
keluh Alfred North Whitehead, ialah bahwa X itu sama sekali tidak berarti.
(Filsafat Ilmu, hal 68).
Perkembangan matematika tidak
lepas dari peradaban manusia, karena tanpa matematika, pengetahuan akan
berhenti “pada tahap kwalitatif” yang dapat mempersulit dan menghambat proses
penawaran didalam menghadapi kajian-kajian ilmu yang lebih rumit.
Disamping bahasa dan matematika,
statistika juga mempunyai peran penting terutama dalam ilmu eksakta. Dalam
beberapa ilmu sosial, pentingnya ilmu statistika masih menjadi perdebatan, namun
statistika sederhana untuk ilmu-ilmu sosial tetap diperlukan.
Statistika
merupakan sarana berfikir ilmiah yang membantu penarikan kesimpulan secara
induktif dari fakta-fakta empirik, dengan adanya statistika mempermudah
dibacanya suatu data. Penarikan kesimpulan secara statistika bersifat ekonomis,
dan derajat keyakinan kita atas kebenaran kesimpulan tersebut secara
probilistik dapat diperhitungkan pula. (A. F. Chalmers, 1983 : 5).
Kata
sebagaian pemikir, “figure can’t lie,
but liar can figur”. (angka-angka tak
dapat berbohong tetapi para pembohong pandai memainkan angka).
Karena itu, kebenaran atas hasil
statistika sering menjadi “relatif”
karena tak dapat dilepaskan dengan kebebasan pihak-pihak yang terkait untuk
memberi penafsiran.
Muncuknya statistika memang
relatif muda dibandingkan matematika bahwa pengetahuan yang ditemukan berdasar
nalar, tingkat kebenarannya ada pada taraf “ilmul
yakin”. Sedangkan ilmu yang diperoleh atas dasar pengamatan, tingkat
kebenarannya pada taraf “ainul yakin”.
Kedua kebenaran tersebut, ilmul yakin dan
ainul yakin masih bersifat relatif. Hal ini terbukti dengan adanya
pandangan atau pendapat baru yang sering kali berubah dan berganti bahkan
meniadakan pandangan-pandangan lama, hal ini menunjukan sifat nisbi (relatifitasnya)
pendapat seseorang.
Dengan demikian, kemutlakan ilmu pengetahuan terbukti
hanya dapat memperoleh atau dikumpulkan melalui rasio yang bertaraf “haaqul yakin”, kebenaran mutlak tersebut
hanya dimiliki Tuhan.
B. Metode Menemukan Ilmu
Hakekatnya menemukan ilmu
berarti menemukan kebenaran. Lewat ilmulah, hal-hal
baru mungkin ditemukan ataupun masalah dapat dipecahkan.
Ilmu tidak datang dengan sendirinya, ia bertemu dengan kita karena
“diundang”. Ia barang yang belum jadi masih rahasia sifatnya, melalui pemikiran
yang mendalam dan penelitian yang terus – menerus, berbagai akumulasi
(kumpulan) pengetahuan yang relavan dan sejenis, dapat ditemukan dan diuraikan,
demikian pula masalah-masalah yang ausaha untuda didalam masyarakat mampu
dipecahkan. Para ilmuan berusaha untuk mengetahui, membedah sampai dapat
memperoleh dan menguasai ilmu, dan melalui ilmu tersebut tentu saja dapat
difungsikan setelah diketahui, melakukan sintetis, dan melakukan analisis atau
berbagai masalah yang terjadi dalam masyarakat.
Pemikiran atau pengamatan atas permasalahan yang ada, disamping ada
yang sederhana banyak juga yang cukup pelik bahkan asing. Untuk mengetahui dan
memecahkan misteri tersebut, diperlukan pengetahuan yang mampu untuk
memecahkannya.
Penguasaan ilmu, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari pengalaman dan
pengembangan ilmu yang dikuasai oleh seseorang sebelumnya, terutama ilmu yang
terkait dengan bidang kajian yang ditekuni selama ini, sehingga kepekaan dan
ketajaman atas masalah yang diajukan pemecahannya menjadi lebih tepat. Dengan
demikian, baik dalam proses sintesis, analitik maupun proses “logiko hipotetico”
verifikatif dapat berjalan dengan cepat pula.
Dengan penguasaan atas langkah-langkah tersebut pencarian ilmu
pengetahuan akan menjadi semakin mudah, efisien dan efektif. Berarti tahapan
langkah-langkah sebagaimana diisyaratkan dan diajarkan oleh filsafat ilmu telah
dipahami.
Dalam proses pencarian ilmu pengetahuan
baik deduktif maupun induktif, peran pikiran (logika) sangat menonjol.
Hubungan antara pikiran dan pengetahuan yang akan dicari atau digali, dalam
dunia pendidikan digambarkan oleh Ewans
sebagai berikut “knowledge is made up of the facts of the subject and the students
ability to use those facts to think and solve the problem”.
Dengan demikian, ilmuan dalam memproses data menjadi fakta atau obyek
pengetahuan untuk disusun lebih teratur, jelas, bermanfaat sehingga dapat
dimengerti oleh masyarakat menjadi mutlak. Dunia pendidikan dapat dijadikan
labolatorium yang dapat menuntun dan mengembangkan potensi para mahasiswa, sehingga
kemampuan dan kepekaannya terlatih sejak dini.
Untuk itu, sejak dini mahasiswa diajak, diberi tugas atau dibudayakan
untuk mampu memecahkan masalah-masalah kemasyarakatan atau masalah keilmuan
sesuai dengan bidangnya ( study kasus
) yang ada dengan benar dan terprogram dengan baik. Mahsiswa, disebut/ditambah
predikat maha karena didalam dirinya mempunyai alat vital yaitu otak, rasio,
nalar, pikir yang siap dikembangkan, diisi dan dibangun untuk kepentingan
bersama.
Hal ini hanya dapat terlaksana, jika para ilmuan termasuk pendidik
memiliki spirit dan jiwa yang dibungkus dengan sikat ilmiah dan tanggung jawab
ilmiah yang tinggi, dengan tekun bersama mahasiswa mengembangkannya. Dengan
demikian, universitas atau perguruan tinggi benar-benar diharapkan menjadi
wahana ( lahan ) transfer ilmu dan budaya keilmuan. Karena itu, universitas
merupakan lembaga atau institusi pendidikan menjadi tempat persemaian generasi
muda dalam menempa otak, mental, integritas dan kepribadiannya dalam arti
seluas-luasnya.
Dengan demikian, cara untuk menemukan, mengembangkan atau
menyebarluaskan ilmu sejak awal seseorang harus memiliki sikap ilmiah yang
benar. Sikap ilmiah merupakan sikap awal yang harus dipersiapkan oleh ilmuan.
Sikap ilmiah yang dimaksud, diawali dengan sikap terbuka. Keterbukaan
dimulai dari proses mencari atau menggali ilmu juga pada proses sintesis atau
analitiknya sampai kepada penemuan-penemuan baru, berupa hasil apa adanya tanpa
ada yang ditutupi atau disembunyikan. Sikap keterbukaan tersebut akan dapat
menumbuhkan kepercayaan serta merebut hati rakyat.
Selanjutnya sikap ilmiah harus dibarengi dengan menjauhkan pamrih dan
kepentingan pribadi yang berlebihan, sehingga pemikiran dan penelitian yang
dilakukan semata-mata untuk kepentingan umum.
Ketiga, kejujuran atas hasil yang diproleh akan disajikan kepada publik
apa adanya, tanpa ada unsur rekayasa atau pemitar balikkan data dan kenyataan
yang ditemukan dilapangan.
Kemudian seorang ilmuan juga harus memiliki kepekaan, kepedulian, tanggung
jawab ilmiah, dan tangguang jawab kepada publik, oleh sebab itu sikap ilmiah
pun tidak dapat lepas dari keharusan untuk melakukan seleksi atau pilihan obyek
yang akan diteliti atau ditekuni, sehingga hasil yang akan diperoleh dan
disampaikan kepada publik tidak sampai menggoncangkan serta menggelisahkan
anggota masyarakat. Karena itu, sikap arif dan bijaksana juga menjadi bagian
integral yang harus dipertahankan terus.
Sikap lain yang harus diperhatikan, dan tidak boleh dilupakan terutama
yang terkait dengan adanya kepercayaan diri yang cukup kuat, seorang ilmuwan
harus yakin, bahwa pendapat (pandangan) dan penelitian yang dilakukan
bermanfaat untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama.
Sesuai dengan teori dan korespondensi dan konsistensi yang ada, hasil
pemikiran dan penelitian yang dikemukakan, tidak berdiri sendiri, atau lepas,
tetapi harus selalu dikaitkan dengan hasil atau pandangan-pandangan yang sudah
ada sebelumnya, sehingga alur pemikiran akan tetap runtut dan perkembangan ilmu
tidak akan kehilangan jejak. Hal ini penting untuk diperhatikan, demi
kontunuitas dan perkembangan ilmu-ilmu, sekaligus dapat mengetahui (mentrace)
alur perkembangan, sumbangan pemikiran dari para ilmuwan sebelumnya, sekaligus
bagian dari etika keilmuan.
C. Hubungan Ilmu Pengetahuan
dan Kebenaran
“ Ciri utama ilmu adalah
kemampuannya dalam menjelaskan dan meramalkan “
(Beerling, hal 5), kualitas ilmu pengetahuan semakin besar justru karena
kemampuan tersebut.
Untuk dapat meramal dengan relatif tepat, valid dan
terpercaya, ilmu pengetahuan memiliki sifat dan nilai obyektifitas tinggi serta
berlaku umum, dan tersaji apa adanya (das sain), lepas dari subyektifitas
seseorang. Sifat dasar tersebut hendaknya diserap dengan benar bagi siapa saja
yang terjun kedalam dunia ilmu atau calon ilmuwan pada umumnya.
Obyektifitas ilmu dan
perkembangannya akan terus melaju, karena sifat dan tuntutan manusia-manusia
itu sendiri. Rasa tidak pernah puas dan rasa ingin tahu, ikut ikut memberi
andil atau cukup berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Melalui kemampuan yang dimiliki manusia, berkembang pula instrumen, sarana,
alat yang dipergunakan oleh para ilmuwan, sehingga iptek mengalami perkembangan
yang sangat pesat.
Hakekat sifat ilmu walau
bersifat mandiri atau otonom, tidak dapat lepas dari sifat dasar manusia,
sebagai makhluk bermasyarakat. Tentu ini tidak berarti memustahilkan terjadinya
bentuk-bentuk pengetahuan, pemahaman serta kebijaksanaan lain, yang juga
dipandang berharga. Dan tidak dimustahilkan pula ialah, bahwa daam tahap
terakhir ilmu dipandang sebagai bagian integral dari kebudayaan masyarakat.
(Beerling, hal 6).
Dengan demikian, antara ilmu
pengetahuan dan masyarakat terjalin hubungan yang erat, ilmu pengetahuan
dikembangkan semata-mata demi kepentingan atau kemajuan masyarakat,
masyarakatpun banyak memberi “input” kepada ilmu, sehingga banyak para ahli
yang melihat kaburnya perbedaan antara ilmu murni (basic science) dan ilmu
terapan (applied science) dalam menghantarkan anggota masyarakat agar
dapat hidup lebih tenang, bahagia bersama-sama.
Sehubungan dengan itu Beerling
menyatakan lebih lanjut “ Pengetahuan
Ilmiah adalah pengetahuan yang
mempunyai dasar pembenaran. Segenap pengaturan cara kerja ilmiah diarahkan
untuk memperoleh pengetahuan. Penyelidikan ilmiah tidak akan membatasi hanya
pada satu bahan keterangan, melainkan meletakan hubungan antara sejumlah bahan
keterangan, dan berusaha agar hubungan tersebut dapat merupakan satu kebulatan
“ (Ali Syari’ati, hal 56).
Ilmu hanya akan dapat berkembang
dengan baik dalam satu masyarakat yang menghormati kebebasan dan persamaan.
Hanya dalam sistem politik demokrasi, kebebasan dan kreatifitas anggota
masyarakat dapat jaminan untuk berkembang terus.
Sebagaimana diketahui, dalam
setiap masyarakat memiliki nilai dasar dan tujuan yang selalu dipertahankan,
nilai dasar yang akan dipertahankan dari suatu generasi ke generasi, sehingga
menjadi kekayaan bangsa dalam wujud atau bentuk kebudayaan dan peradaban,
disinilah ilmu pengetahuan mempunyai kontribusi kuat untuk memelihara dan
mengembangkannya.
Ali Syari’ati mengutip
(menjelaskan), makna peradaban dan kebudayaan adalah : keseluruhan akumulasi
materil dan spiritual umat manusia, sementara pada sisi lain, pengertian
kebudayaan adalah “ sebagai salah satu sumber utama sistem
atau nialai-nilai suatu masyarakat, sekaligus menentukan atau membentuk sikap
mentalnya yang terpantul dalam pola tingkah lakunya sehari-hari dalam berbagai
kehidupannya. Sikap mental atau boleh pula disebut sebagai pola berfikir yang
langsung mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam masyarakat tampak sebagai
kunci yang menentukan dinamika kemampuannya dalam mengarungi berbagai aspek
kehidupannya “. (Yuyun S. Sumantri, 1978 : 238).
Karena itu, pengetahuan dapat
dikatakan lepas dari pembangunannya dan tujuan bermasyarakat, jika diarahkan,
dibelokan dan ditujukan untuk “menghancurkan” masyarakat sendiri. Arah seperti
itu, sama artinya menentang kemajuan budaya dan peradaban masyarakat sendiri.
Dari titik pandang inilah, perlu
disadari kebenaran ilmu ditengah-tengah masyarakat terikat dengan kaedah atau
tujuan dasar yang ada, yaitu mencari dan mempertahankan kebenaran. Melalui ilmu
sebenarnya dapat dipandang sebagai latihan untuk mencari dan menghayati
nilai-nilai dasar. (M. Hatta, 1957 : 36).
Diakui bahwa banyak ilmu
pengetahuan dengan produk teknologi yang dikembangkan, dipakai dan dipergunakan
keluar dari jalur kebenaran, atau disalah gunakan untuk tujuan-tujuan
destruktif, bertentangan dengan segi-segi kemanusiaan, moralitas dan agama.
Disinilah peran ilmuwan, bersama-sama dengan budayawan, agamawan, intelektual
yang mempunyai komitmen tinggi, salah satunya ikut melakukan seleksi dan
mengawasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga arah
perkembangan ilmu pengetahuan tetap bertujuan untuk kesejahteraan hidup dan
demi kemaslakhatan umat manusia.
D. Tugas Seorang Ilmuwan
Apa
yang dikemukakan didepan, bagian penting tugas ilmuwan. Karena itu, kita
sepakat ilmu dan kebenaran merupakan satu konditio
cine quo non, sehingga pribadi ilmu pada hakekatnya adalah kebenaran juga.
Hal ini terkait dengan makna dan proses keteraturan dan kemajuan itu sendiri.
Bukankah jagad raya dan dunia pada prinsipnya juga bersumber pada
prinsip-prinsip keteraturan.
Karena
itu, melalui ketajaman otak dan budi seseorang dapat menjadi pandai (cerdas),
namun dengan ilmu yang diperolehnya seseorang setelah lulus menjadi sarjana tak
dapat langsung dan menjelma menjadi seorang ilmuwan. Seorang yang baru lulus,
menjadi sarjana/scholar/SH misalnya. Di harapkan, dimulai, diawali, menjadi
seorang profesional lawyer (aplied
profesinal lawyer) kemudian kapan menjadi seorang “scientist scholar/scientist lawyer”
memerlukan proses waktu (pendalaman, penguasaan, pengembangan) ilmu yang
dikuasai, misalnya melalui pendidikan training, SII maupun SIII dan seterusnya.
Jika
masalah kita kembalikan kepada makna dasar ilmu dalam wujudnya yang mandiri,
obyektif, dan mempertahankan kebenaran, maka sifat, pribadi dan karakter
seseorang akan “diwarnai” oleh sifat-sifat tersebut. Dialah orang yang dapat
disebut ilmuwan/scientist/akademikus, sekarang pakar dalam arti berwatak
cendekia, intelektual, intelegensia, dan sebagainya.
Karena
itu, menjadi tepat sekali ungkapan Bung
Hatta yang pernah menyatakan “...Ilmu terutama saja ditangan sarjana yang
berkarakter tak dapat disangsikan lagi. Orang berkarakter tahu menghargai
pengetahuan orang lain yang berlainan dengan pendapatnya. Ia berani membela
kebenaran yang telah menjadi keyakinananya terhadap siapapun juga. Ia tak segan
mempertahankan pendapatnya, sekalipun bertentangan dengan pendapat umum. Tetapi
ia juga berani melepaskan suatu keyakinan ilmiah apabila ada suatu waktu logika
yang lebih kuat dan kenyataan yang lebih lengkap membuktikan salahnya. Hanya
dengan pendirian yang kritis itu ilmu dapat dimajukan. Dalam memelihara dan
memejukan ilmu, karakterlah yang utama, bukan kecerdasan...karena karakter ilmu
dapat berjalan terus...” (Andi Hakim Nasution, 1988).
Kelompok
intelektual harus memiliki sikap penuh dengan kebijaksanaan atau kearifan (prudence and wisdom), atau kata Porf. Dr. Andi Hakim Nasution, intelektual
adalah “ orang yang mampu melihat fajar, melihat persoalan-persoalan dengan
kepekaan yang amat tajam, sehingga kilauan merah dari problematika
kemasyarakatan dapat disimaknya secara amat dini...(Prisma).
Sampai
sekarang, dan seterusnya, dan sepertinya sudah ada suatu kesefahaman/
kesepakatan bersama, si satu sisi dibedakan antara ilmuwan / akasemisi, dan
pada sisi lain dijumpai kelompok cendikiawan, intelektual, intelegensia.
Pada
dua kubu tersebut, yang pasti kedua kelompok tersebut tidak berbeda, mereka
adalah kelompok idealis, berbudaya hidup diatas angin, kat Rendra yang mungkin
berbeda seorang ilmuwan dan akademikus menitik beratkan pada pendalaman ilmu
dan tanggung jawab ilmunya untuk diabdikan kepada masyarakat. Sedangkan seorang
intelektual/cendekiawan ada pada kepekaan sosial serta tanggung jawab kepada
masyarakat.
Cendikiawan
dengan kemampuan dan keluasan cakrawala pemikirannya, diabdikan untuk
kesejahteraan masyarakat. Cendikiawan akan selalu resah melihat ketidakadilan,
kesewenang-wenangan atau kemelaratan yang melanda masyarakat.
Dengan
demikian, dua kelompok tersebut dalam melihat proses pertumbuhan, perkembangan
dan kesejahteraan masyarakat mempunyai pandangan yang relatif sama, saling
mengisi dan mencintai. Komitmen dan integritasnya tidak dapat diragukan dalam
menggelar cita-citanya.
Dua
tujuan dwi tunggal yang dicari seorang ilmuan, kata Y. B. Mangunwidjojo, ialah : “tak kurang dari kebenaran dan kepastian,
sedangkan tujuan yang hendak dicapainya adalah tak lain dari perbaikan yang
benar-benar dari peruntungan manusia.” (kata Soedjatmoko, 1980 : 39).
Dengan
demikian, seringkali seorang ilmuan, atau cendikiawan terkesan sebagai kelompok
orang yang tidak dapat menerima kenyataan, lebih-lebih jika kenyataan yang ada
bertentangan dengan keyakinan ilmunya. Dia akan selalu mencari dan menyampaikan
ide alternatifnya, sehingga kadang-kadang terasing (teraleniasi) dari
masyarakatnya, lebih-lebih dalam negara yang sedang berkembang.
Prof. Dr. Soedjatmoko pernah menyatakan, “Dalam kebanyakan tidak akan ditampilkan
profil seorang cendikiawan sebagai seorang pembaharu, sebagai perumusan sasaran
baru, tetapi juga sebagai penyebar tidak setuju. Ia sering juga tampil sebagai
seorang yang disiksa oleh rasa aleniasinya...” (Gerald Malton, 86).
Dalam
menghadapi tuntutan masyarakat yang berkembang terus dan kadang-kadang “manja”
(akibat teknologi), perkembangan ilmu tetap berjalan/berkembang dan tidak dapat
dihentikan, kecuali manusia mati atau hancur sendiri. Disinalah para
cendikiawan dan ilmuan pada satu tahap tertentu dapat berjumpa untuk saling
berkomuniksi mengenai pokok-pokok penelitan mereka masing-masing dan yang kedua
kaum cendikiawan yang mempelajari ilmu budaya manusia juga mempelajari konsep-konsep
dan sikap-sikap ilmu pasti masa itu. (S. Tasfir, halaman 111).
Dalam
era dan dunia yang semakin komplek, transparan, mengglobal dengan ilmu
informatika yang semakin tidak terbatas jangkauannya, posisi ilmuan dan
cendikiawan semakin penting. Kearifan dan kebijaksanaan harus tetap menjadi
ciri kelompok ini, kecongkakan harus dibuang jauh-jauh.
Jika
ilmuan dan cendikiawan “Terbawa arus” sebagaimana pernah ditulis oleh
Julien Benda, La Trahison des cleros. (penghianatan kaum intelektual, melalui
komentar S. Tasrif, menempatkan cendikiawan dan intelektual pada posisi yang
curam. Julien Benda melihat, intelektul prancis telah dianggap memprotitusikan
ilmu pengetahuannya, semata-mata karena kedudukan politik.
Lebih
lanjut dikatakan “.....moralitas telah dijadikan untergeornet kepada politik
dan bukan sebaliknya. Apabila plato dahulu menganut pendapat bahwa “moralitas
menentukan politik”, dan Machiavelli muncul dengan tesisnya bahwa
moralitas tidak ada hubungannya dengan politik, maka kaum intelektual prancis
(diantaranya diwakili oleh Maura SS), muncul dengan tesis bahwa politiklah yang
menentukan morolitas itu.....”.(Tasrif, 111). Selanjutnya dikatakan “tugas
seorang intelektual bukan untuk mengubah dunia, tetapi tetap setia kepada suatu
cita-cita yang perlu dipertahankan demi moralitas manusia....”
Karena itu,
seorang intelektual atau ilmuan harus tetap memiliki tanggung jawab sosial.
Tanggung jawab profesional atau moral, terkait dengan landasan epistimologi,
antara lain mencangkup :
1)
Kebenaran;
2)
Kejujuran;
3)
Tanpa kepentingan langsung;
4)
Menyadarkan kepada kekuatan
argumentasi;
5)
Rasional;
6)
Obyektif;
7)
Kritis;
8)
Terbuka;
9)
Pragmatis;
10)
Netral dari nilai-nilai yang
bersifat dogmatic dalam menafsirkan realitas...”(Rendra 87 : 70).
Seorang ilmuan atau cendikiawan didalam
menghadapi masalah-masalah tersebut (pilihan antara moral dan politik), tidak
dapat bersikap netral, sehingga sering dan bahkan harus “berani” berlawanan
dengan politisi maupun birokrat. Masuknya
ilmu kedunia politik harus tetap dapat mempertahankan identitasnya sebagai ilmuwan
(teknokrat).
Dengan demikian, dalam menghadapi sikap politik dari suatu
rezim pemerintahan -yang otoriter misalnya- ilmuan/intelektual/teknokrat harus
tetap berpegangan kepada komitmen dan ikatan moral, sehingga sikap politik yang
diambil adalah sikap politik yang memihak kepada masyarakat.
Menetapkan pilihan pada satu pihak menjadi sulit, namun
pada pihak lain menjadi sangat ringan, hal ini tergantung dari karakter dan
integritas/ keutuhan pribadi masing-masing ilmuan sendiri. Sejauh mana kadar
kesadaran dan rasa kemanusiaan serta “kebeningan”/ kejernihan analisisnya dalam
meneropong masalah didepannya, akan ”menentukan“ kepada satu keputusan yang
benar atau justru semu.
Ilmu pengetahuan bersifat obyektif, sedangkan politik
bersifat subyektif. Antara keduanya dapat saling mempengaruhi ilmu pengetahuan,
dalam situasi seperti ini, negara atau pemerintah dapat mencampuri perkembangan
ilmu, bahkan dalam negara-negara totaliter, ilmu pengetahuan banyak
diarahkan/dikendalikan oleh penguasa.
Situasi dan kondisi
tersebut sering mengakibatkan ilmu pengetahuan dipolitiknya (verpolitickte wetenschap), sehingga
proses perkembangan dan pembangunan ilmu diawasi,... Bahkan dikuasai dan
dipaksa memihak kepada rezim dan “membenarkan” langkah-langkah penguasa.
Dipihak lain, ilmu pengetahuan dapat pula mempengaruhi
politik, bukan berarti ilmu pengetahuan mengganti posisi politik. Disini ilmu
pengetahuan, dapat mengarahkan politik secara benar, memihak rakyat, santun dan
juga beradab.
Bagaimanapun juga, pengetahuan dan politik akan saling
membantu, ilmu pengetahuan perlu bantuan negara, agar dapat berkembang baik dan
wajar, sebaliknya politikpun perlu jasa baik ilmu pengetahuan, demi keselamatan
misi politik yang diemban oleh penguasa.
Tugas tersebut sangat berat,
sehingga ilmuwan yang telah masuk dalam pemerintahan, berarti telah melakukan
pemihakkan. Pemihakan tersebut harus diartikan memihak kepada kepentingan
rakyat, bukan memihak kepada golongan, lebih-lebih untuk kepentingan pribadi
penguasa dan kroninya saja. Karena itu, jika jika misalnya ilmuwannya memihak
kepada penguasa dengan cara membabi buta. Kalau demikian halnya berarti belum
terbentuknya watak atau karakter ilmiah yang utuh dan kuat para ilmuwannya.
Atau, para ilmuwan tidak solid dan tidak mempunyai wibawa serta gagal mengemban
misinya. Bila dalam suatu negara kondisinya seperti itu, maka sangat memalukan
dan memprihatinkan. Diharapkan banyaknya para birokrat yang bergelar prof, DR.
Master sama dengan membawa misi ilmu pengetahuan ditengah-tengah
komunitasnya/masyarakatnya dan tidak seperti digambarkan oleh Julien Benda.
Demikian pula masuknya ilmuwan
dalam kancah politik (DPR misalnya), diharapkan meta morphosa (berubah) menjadi
seorang negarawan, pembela rakyat atau secara kongrit tetap terikat dengan
asas/prinsip ilmu pengetahuan, antara lain bertumpu kepada kejujuran, kebenaran
dan keterbukaan.
Pada tataran praktis,
ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh tantangan ini,
pertama, ilmuwan bersama-sama dengan kekuatan moral lainnya, seperti; agamawan,
seniman, budayawan, harus memberikan kontribusi “penyelamatan bangsa”,
disamping aktif menumbuhkan budaya demokrasi dan keterbukaan ketengah
masyarakat. Kedua membantu dan mendorong secara aktif agar bangsanya menjadi bangsa
yang berwatak dan berkarakter kuat. Ikut secara aktif memecahkan
masalah-masalah kebangsaan/kenegaraan dan kemasyarakatan demi kerukunan,
kemajuan, saling menghormati sesama anak bangsa dan kemanusiaan dan keempat,
ikut menjadi penjaga moral bangsa.
Cendekiawan kata WS Rendra dulu
disebut para empu, kedudukan mereka masing-masing didalam masyarakat adalah “Penjaga nilai-nilai rohani raja berumah
dikraton dan empu berumah di angin kalau empu ini seluruhnya dibadankan menjadi
patih atau teknokrat, akan hilanglah kemampuan mereka untuk dipakai sebagai
imbangan rohani oleh raja. Tetapi apbila setengah dibadankan saja, maka mereka
akan lebih bisa dirapiakan untuk kepentingan ketangkasan kerja sama, sementara
itu mereka masiah mampu memeiliki kewibawaan rohani saya akan kembali ke angin”
(Kamus Bahasa Indonesia, 1994 : 371). Kalau asas, harapan, renungan tersebut
dapat dipertahankan bahkan dikembangkan, sinyalemen J. Benda dapat
dinetralisasikan.
Karena itu, bagi kelompok yang tetap
memiliki idealisme tinggi, harus memiliki kesiapan mental baja, serta sadar
bahwa untuk membangun kondisi tersebut memerlukan perjuangan yang berat,
berliku dan cobaan yang tidak kecil, karena kata CP Snaw ilmuwan harus
memaksakan secara disiplin moral. Dengan kuatnya moral, dan etika yang menjadi
pilihan, sama dengan berada pada jalur yang benar. Kebenaran bagi dunia
pendidikan, merupakan bagian integral dari misinya.
“Dunia membutuhkan
orang-orang yang”.....Tidak dapat dibeli, kata-katanya bisa dipercaya,
menempatkan karakter diatas kekayaan, memiliki pendapat dan keinginan, berani
mengambil resiko untuk mencoba sesuatu yang baru, tidak kehilangan
kepribadiannya ditengah kerumunan masa, tidak berkompromi pada hal-hal yang
tidak benar, ambisinya tidak terbataspada kepentingan pribadi, tidak melakukan
sesuatu karena orang lain juga melakukannya, merupakan teman sejati dalam suka
dan duka, tidak malu dan takut untuk mengungkapkan kebenaran, dan berani
mengatakan “tidak” walaupun seluruh dunia mengatakan “ya” jika ia yakin bahwa
apa yang dikatakannya benar” (Dr. Larry M. Groves).
Dalam dunia yang
penuh paradok, sebagaimana digambarkan Dr Larry M Groves, dimana warga
masyarakat dilanda penuh “kebingungan” sulit mencari pahlawan/satria. “Satria
adalah seorang yang siap aktif ikut dalam beragam kompetisi dalam berbagai
bidang baik formal maupun non formal (politik, ekonomi, sosial dan seterusnya)
lakukan dengan penuh kejujuran, kalah atau menang diterima dengan penuh
keikhlasan dan kebesaran jiwa. Pribadi seperti itulah, pribadi yang diperlukan
dalam dunia yang penuh dengan ketidak pastian, kemunafikan atau hipokret”.
Diharapkan, melalui
“pengenalan pendidikan filsafat ilmu lebih awal dan diterima/dihayati oleh
generasi muda, merupakan percikan warna terang idealismenya dalam meniti masa
depannya. Penanaman watak tersebut dalam dirinya sama dengan penanaman akan
cinta ilmu sebelum cinta materi”. Langkah tersebut diharapkan , merupakan modal
awal dalam ikut serta memberi pencerahan kepada bangsanya, sehingga masyarakat
indonesia yang akan datang menjadi lebih cerdas, berbudaya dan diperhitungkan
oleh bangsa-bangsa lain didunia.
Kesadaran tersebut
akan membawa bangsa indonesia kemasa depan yang
jelas, terukur dan dapat diharapkan, bukan ilusi.
Untuk itu, pimpinan
bangsa/pimpinan masyarakat harus menjadi pihak pertama yang bersikap demikian,
sifat tersebut sangat dinantikan oleh masyarakat.
Canon Fredric
Donaldson menyatakan “tujuh dosa modern adalah politik tanpa prinsip,
kesenangan tanpa nurani, kekayaan tanpa kerja, pengetahuan tanpa karakter,
kerja tanpa moral, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, dan pemujaan tanpa
pengorbanan” (Sinar Harapan, 28 agustus 2007).
BAB IV
BERFIKIR
KREATIF
E. Proses menjadi kreatif
Disarikan dari berbagai sumber beberapa penulis, yang dapat disimpulkan
bahwa jantung dan jiwa keterampilan mengarang pada umum ada pada kemampuan
berfikir kreatif. Hal ini bukan hanya berlaku bagi para filsuf, sastrawan,
penulis, pemikir dan pelajar. Tetapi berlaku juga bagi para negarawan, ekonom,
pengacara, hakim, jaksa, serta para spesialis tehnik dan serta warga masyarakat
pada umumnya. Artinya siapapun mereka, dari kelompok mana dia, kalau dia
kreatif, dapat dikatakan pasti akan berada didepan dibanding dengan
mereka-mereka yang tidak/kurang kreatif.
Berfikir kreatif dapat
dirumuskan sebagai semua kegiatan mental yang menjelaska persoalan baru atau
memberikan pandangan baru terhadap suatu persoalan atau gagasan lama. Pemikiran
yang kreatif bukan hanya menggunakan
gagasan-gagasan yang dipelajarinyadari orang lain. Yang bekerja adalah otaknya.
Dia dapat menggunakan gagasan-gagasan lama, sebagaimana juga seorang pembangun
rumah dapat menggunakan batu bata bekas, tetapi dia merangkainya kedalam
susunan baru.
Disamping
itu, ada juga berfikir imitatif, “meniru” namun dalam pemikiran tersebut,
ditambah/diubah dan dikembangkan atau dimasukkan kreasi-kreasi baru, sesuai
dengan gagasannya.
Sebagaimana
disinggung didepan, berfikir yang paling mudah diingat, berfikir memori,
kemudian berfikir kritisdan berfikir yang “menjanjikan” adalah berfikir
kreatif, karena didalamnya ada unsur keterampilan. Sedangkan berfikir
kontemplatik, berfikir dengan seluruh kekuatan akal, budi dan jiwanya.
Beberapa
contoh dibawah ini, adalah para pemikir kreatif yang dimiliki oleh dunia.
Edison yang dapat dikatakan lebih berhasil diantara semua orang-orang yang
mendapat sesuatu yang baru, yakni yang telah memegang lebih dari seribu paten,
setelah mengadakan percobaan ke 999 kali baru berhasil, yakni dengan membaca
dulu semua buku mengenai suatu persoalan, sebelum dia berusaha memecahkannya.
Dia, berkata “saya harus mulai dimana buku berhenti”. Dia sedapat-dapatnya
selalu menggunakan gagasan-gagasan orang lain dan dia adalah pemikir yang
paling kreatif diantara semua pemikir.
Sebagaimana
kita ketahui, Shakespeare mengambil teman-temannya dan banyak dari jalan
ceritanya dari sumber-sumber lain. Akan tetapi dia akan membuat segala sesuatu
yang dipinjamnya itu menjadi muliaatas sentuhan kemukjizatan kejeniusannya. Dia
menanamkan kecerdasan otaknya pada setiap halaman yang ditulisnya.
Kita
tidak mengetahui dengan jelas bagaimana gagasan-gagasan baru timbul dalam otak.
Beberapa ahli ilmu jiwa percaya bahwa gagasan-gagasan baru itu dibentuk oleh
kombinasi-kombinasi baru dari sel-sel dalam celebrum, bagian sadar daripada
otak. Alangkah baiknya jika kita mempunyai suatu RUMUS !
Helmholtz,
sarjana yang hebat itu, ketika mengucapkan pidatonya pada hari ulang tahunnya
yang ketujuh puluh, menyebut-nyebut tentang bagaimana gagasan-gagasan timbul
pada dirinya. Dia berkata : Oleh karena saya sering kali terpaksa harus
bersabar menunggu gagasan timbul dalam pikiran saya, maka sayapun berusaha
mempelajari bagaimana caranya gagasan-gagasan itu biasanya timbul.
Gagasan-gagasan itu menyelinap dengan diam-diam kedala lentera pikiran-pikiran.
Pada mulanya gagasan-gagasan itu bisa tidak dengan jelas oleh pikiran.
Gagasan-gagasan itu tercampur aduk dengan ingatan-ingatan.
Kadang-kadang
gagasan-gagasan itu timbul sekonyong-konyong dengan begitu saja, seolah-olah
gagasan-gagasan itu adalah ilham yang datang dari luar.
Sepanjang
pengalaman saya, gagasan-gagasan itu tidak pernah datang pada saya, jika otak
saya sedang lelah dan gagasan-gagasan itu jarang datang jika saya sedang
bekerja dimeja tulis.
Terlebih
dulu saya harus mempelajari masalah saya dari swgenap sudut, saya harus
menyusun keterangan-keterangan saya. Kemudian saya harus mengistirahatka otak
saya dengan sepenuhnya, sekurang-kurangnya selama satu jam. Sesudah itu jika
otak saya sudah segar kembali, gagasan-gagasan itu datang pagi hari, segera
sesudah saya bangun, dan kerap kali pula gagasan-gagasan itu timbul ketika saya
sedang berjalan-jalan dihutan dileleng gunung dekat rumah saya.
Inilah
dia, rumus Helmholtz untuk menciptakan gagasan-gagasan baru, pertama kali
isilah fikiran dengan fakta-fakta yang hendak anda pikirkan. Kemudian
beristirahatlah atau pergilah tidur, dan gagasan-gagasan itu akan timbul segera
setelah otak itu pulih dari lelah.
Ada tiga unsur
dalam RUMUS ini. Yang perlu kita ingat baik-baik :
1. Otak harus punya keterangan-keterangan dulu.
2. Otak tidak boleh lelah.
3. Otak tidak boleh
dipaksa-paksa. Otak itu harus bekerja dengan bebas untuk menciptakan gagasan-gagasan
menurut caranya sendiri.
Schiler
mengatakan bahwa gagasan timbul pada dirinya pada hari-hari cerah. Sekali
peristiwa dia menulis kepada goethe : alangkah tidak efektifnya kemauaan
manusia jika alam tidak membantu kita. Lima minggu lamanya saya bingung
menghadapi suatu masalah, tetapi ketika akhirnya cuaca terang, saya selesaikan
masalah saya dalam waktu tiga hari.
Bebarapa
orang pemikir mendapat ilhamjika mendengar musik. Adalagi yang mendapat ilham
jika menikmati pemandangan yang bagus. Sebaliknya Walt Whitman mendapat ilham
ketika berjalan-jalan dijalan yang ramai atau ditengah khalayak ramai.
Mungkin
sekali banyak diantara orang-orang yang berhasil mendapat hal-hal baru,
mendapat ilham dari bunyi gemuruh mesin-mesin. Setiap fikiran mempunyai
pendorongnya sendiri-sendiri.
Christiansen
berkata bahwa masalah berpikir kreatif ialah bagaimana mengarahkan sepenuh
kekuatan pikiran kepada pokok persoalan yang menarik perhatian kita.
Dia berkata bahwa otak
itu adalah sebagai sebuah sungai yang mengalir kedalam banyak anak sungai yang
terpisah-pisah. Jika salah satu anak sungai itu buntu, anak-anak sungai yang
lain menjadi lebih dalam, dan jika semua anak-anak sungai itu, kecuali satu,
buntu, maka seluruh kekuatan sungai itu mengalir dengan dahsyatnya melalui
saluran yang satu itu. Hal ini berarti bahwa jika kita ingin berfikir dengan
sepenuh tenaga dengan otak, maka kita harus memutuskan perhatian kita dari
soal-soal yang lain. Itulah keterangannya mengapa sampai ada beberapa pemikir
mengasingkan diri selama empat puluh hari ditengah hutan untuk memecahkan
masalah-masalahnya.
Itulah pula keterangannya mengapa
Royke dan Edison kadang kali pergi tanpa tidur dan hampir tidak makan
berhari-hari sambil berusaha menyelesaikan satu pekerjaan yang sukar. Mereka
itu memaksa kekuatan otak untuk bekerja sepenuhnya dengan mengalirkannya untuk
beberapa waktu melalui satu saluran saja.
Pokok yang perlu diingat ialah
bahwa kehidupan seseorang ialah satu kehidupan satu tenaga yang bersifat
mental, fisik, dan spiritual, suatu yang tidak dapat kita sebutkan namanya.
Jika kita dapat memusatkan tenaga ini kepada suatu masalah jika kita dapat
mendaratkan seluruh daya hidup kita kepada satu titik saja, maka fikiran
kreatif akan mencapai puncaknya. Keadaan seperti itu jarang kita alami. Jika
ada orang yang dapat mencapainya, maka dia kita katakan jenius.
Secara praktis dapat kita katakan
bahwa bagi orang-orang yang banyak urusan, pikiran kreatif biasanya tidaklah
mungkin bisa muncul ditengah berbagai gangguan yang menyimpangkan pikirannya.
Orang tidak dapat memecahkan masalahnya jika telponnya berdering terus dan para
pegawai hilirmudik datang kepadanya dengan berbagai kertas, atau para tamu
menunggu pula untuk berbicara dengan dia.
Setiap orang yang banyak urusan
harus mempunyai ruang study yang tenang, jangan dikantornya tetapi pada suatu
tempat dimana dia tidak akan diganggu orang. Kesinilah dia membawa
masalah-masalah yang menyulitkannya, rencana-rencana yang harus disusunnya
untuk masa depan, semua hal-hal yang memerlukan pemikirkan yang terpusat.
Lebih banyak pemikir-pemikir
besar yang terlahir diruang terpencil dari pada didalam istana. Mengapa? Karena
diruang tepencil itu tidak ada yang menyimpangkan pikiran, tidak ada gangguan,
tidak ada kepentingan lain, kecuali untuk berpikir kreatif.
Kita tidak dapat
mengharapkan gagasan-gagasan dari orang yang senang mengumbar nafsunya. Apabila seorang pemikir sedang seorang diri, jika dia telah
mematikan desakan-desakan nafsunya, maka pada ketika itulah daya hidupnya
mengalirkan tenaganya dengan sepenuhnya untuk menciptakan gagasan-gagasan.
Disini anda melihat salah satu
sebab mengapa suatu konfrensi atau parlemen sedikit sekali berhasil memecahkan
masalah-masalah. Pemikir bukanlah dilahirkan dari banyak bicara.
Bercakap-cakap atau
berpidato tidak menimbulkan dan tidak menggunakan daya kreatif dari otak. Kita
tahu bahwa pembicara yang lebih lancar sering biasanya pemikir yang lebih
dangkal.
Para jurnalis jarang menjadi
pemikir. Mereka hanya berurusan dengan kabar sehari-hari dan pendapat-pendapat
yang berlaku pada waktu itu. Mereka sering kali melemparkan pikiran ketengah
pasaran, tetapi bukanlah mereka yang melahirkan pikiran-pikiran itu. Negeri
yang dipimpin oleh pers, mendapat pimpinan yang kurang baik, dari satu kegemparan pindah kepda kegemparan yang
lain.
Bukanlah salah satu masalahyang
terlebih sulit dewasa ini ialah bagaimana menyelamatka kepemimpinan dari tangan
pers, parlemen dan politik, bagaimana memupuk kepemimpinan yang terdiri atas
pemikir-pemikir yang kreatif? Sampai sekarang belum ada negara yang
berpemerintahan sendiri telah berhasil menyelesaikan persoalan itu. Kadang-kadang
persoalan itu dapat dipecahkan untuk sementara waktu dengan jalan mengadakan
kediktatoran yang bijaksana, tetapi kita belum tahu lagi bagaimana memupuk
demokrasi yang dipimpin oleh para pemimpin yang terlebih cakap.
Disamping itu, pemikir-pemikir
kreatif lewat kreatifitasnya yang dikembangkan menjadi sosokyang selalu
dikenang sepanjang masa oleh masyarakat. Warga masyarakat selalu mengenang
hasil pemikirannya, yang telah membantu kehidupannya.
Pikiran kreatif meminta
pengorbanan. Mereka yang ingin menghasilkan pikiran-pikiran besar harus berani
membayar dengan pengorbanan-pengorbanan yang tidak dapat dinilai dan dibayar
dengan uang. Mereka yang hidup untuk bersenang-senang, akan bersenang-senang
saja sebaliknya mereka yang hidup untuk menghasilkan pikiran-pikiran akan
menghasilkan pikiran-pikiran yang cemerlang pula.
Sebagaimana anda lihat, daya
kemauanadalah perlu jika orang betul-betul ingin menghasilkan pikiran-pikiran.
Orang harus menahan napsu terhadap banyak hal, jika dia ingin menjadi pemikir
yang bebas. Dia menghindarkan kesenangan-kesenangan dan urusan-urusan
kemasyarakatan. Dia harus berbuat seperti itu sekurang-kurangnya sampai masa
berfikir kreatif itu lalu. Dengan demikian daya hidupnya tumpah dengan
sepenuhnya kedalam satu saluran saja dan pikiran-pikiran pun dilahirkan.
Dengan kata-kata dalam bidang
teknik, dapat kita sebut otak itu adalah sebuah mesin yang pelik, yakni yang
memerlukan syarat-syarat tertentu, jika kita ingin otak itu bekerja dengan
sebaik-baiknya. Mesin cetak tidak bisa bekerja diluar dalam angin ribut; dan
otak itu tidak bisa bekerja pula jika nafsu selalu mengganggu ketenangannya.
Ada pemikiran yang perasaanya
mudah berkobar. Mereka hanya dapat bekerja sebaik-baiknya jika batinnya sedang
mau. Dan tidak ada satu carapun yang dikenal dapat mengubah temperamen
seseorang, dia harus mengikuti hukum yang berlaku menurut alamnya. Dia harus
mengikuti desakan hatinya. Dia harus melepas dengan sepenuh hasrat hatinya
untuk menciptakan sesuatu dan janganlah dia mencoba mengendalikan dirinya
seperti biasa. Semua ahli musik dan seniman yang besar-besar merasakan
desakan-desakan seperti itu dan itu adalah harta (modal) yang tidak ternilai
hargannya.
Pikiran-pikiran besar dalam
essai-essai Emerson datang kepadanya pada segala macam tempat dan dari segala
macam rangsang. Dia bisa terbangun tengah malam untuk menuliskan sebuah
aphorisma. Dia tidak bisa berfikir secara berturut-turut secara beraturan .
Pikiran-pikirannya datang sepotong-sepotong. Dia menulis pikiran yang datang
itu dan kemudian barulah pikiran-pikiran itu disusunnya kedalam suatu essai.
Adapula beberapa pemikir-pemikir
yang lain sangat senang menyelesaikan suatu pekerjaan yang timbul dengan
sendiri dalam pikirannya. Mereka tidak bisa memikirkan hal-hal yang lain sebelum
tugas itu selesai. Misalnya beberapa ahli drama telah menulis seluruh cerita
sandiwara dalam satu hari penuh. Semuanya itu adalah karena desakan dalam hati
itu.
Otak ialah mesin pikir, tetapi
belakangnya terdapat aneka ragam perasaan. Dibelakangnya terdapat tempramen dan
watak. Dalam hati otak itu adalah keseluruhan pribadi manusia. Semua yang
memperkaya sifat manusia menambah daya kreatif otak, jika otak itu betul-betul
diberi kesempatan untuk memusatkan sepenuh kekuatannya kepada pekerjaannya.
Barang kali bahaya
terbesar yang dihadapi oleh setiap pemikir ialah kemungkinan ia sudah merasa
puas dengan pekerjaan yang kurang baik. Orang-orang yang menjual hasil
pikirannya dalam bentuk apapun kepada umum, dan segera mengetahui, misalnya
publik telah puas dengan hasil pekerjaan walau kelas dua dan kelas tiga.
Hal ini membahayakan hasil
pemikirannya, malah dapat menurunkan taraf dan nilai pekerjaannya berdasarkan
tingkat pasaran yang ada. Dia akan menelorkan berlusin-lusin buku yang dangkal
isinya dan bukan satu buku saja yang akan tetap bernilai selama beberapa
generasi.
Setiap kerja besar, kata orang,
ditulis dengan darah penulisnya. Itu adalah benar mengenai semua kerja benar,
apakah mengenai mengarang buku ataupun membangun kapal atau pabrik. Orang kita sebut
jenius adalah orang yang mencurahkan seluruh hatinya dan isi kepalanya serta
jiwanya kedalam karyanya. Jika karyanya selesai terwujudlah dirinya.
Sebagai penutup kami kemukakan
sepatah kata lagi daya kreatif yang terbesar didunia ini adalah kasih sayang.
Tidak ada ilham yang lebih mulia dapat ditimbulkan dalam jiwa anda, daripada
kenangan terhadap ibu/bapak anda, istri/suami anda, anak anda, atau
kekasih/sahabat anda. Tidak ada hal lain yang lebih efektif menghidupkan semua daya
mental dalam diri anda dan yang dapat memungkinkan anda mencapai kebahagiaan
karena mencipta.
“Daya tarik”
Kekuatan berpikir
Terkait dengan hebatnya “daya
tarik” kekuatan berpikir, pikiran ( mungkin dibarengin rasa ikhlas, berarti
menyertakan perasaan, emosi, pen ) pada dewasa ini telah disinggung dalam satu
tulisan dimajalah Time, terbukti pikiran berperan kuat.
Majalah Time ( 14 mei 2007 )
menempatkan Rhonda Byrne, salah satu dari 100 orang paling berpengaruh
lewat bukunya “ the Secret “.
Buku tersebut mengungkapkan para
kreator telah mengamalkan “hukum tarik-menarik” dijagat raya. “hukum
tarik-menarik adalah hukum yang paling kuat dan terbesar dan terpasti pada
tempat dimana seluruh sistem penciptaan bergantung. Artinya seseorang (pikiran
kita) dapat menjadi magnet terbesar dalam mencapai cita-cita.
Indra gunawan mengulasnya secara
jitu dalam kompas ( 9 september 2007 ) sebagai berikut, “Tampaknya Rhondea
byrne ingin mengungkapkan penemuan rahasia besar yang membuat dirinya yang
semula depresif, terpuruk, dapat bangkit kembali untuk percaya diri dan
berhasil. Secara mudahnya, penulis menguraikan bahwa Anda adalah magnet yang
paling kuat dialam semesta. Dan daya magnetis yang tak terbayangkan itu
dipancarkan melalui pikiran-pikiran. Pikiran itu adalah barang hidup yang memiliki
frekuensi yang bergetar . Seperti magnet, pikiran itu menarik semua hal yang
berfrekuensisama. Jika yang dipancarkan oleh menara suar dalam diri kita
terus-menerus pikiran buruk, maka yang tertarik adalah pikiran dan kejadian
buruk.
Demikian pula sebaliknya dengan
pikiran baik. “ Like Attracts like “,
yang serupa saling tarik-menarik. Diyakini, pikiran itu dapat terwujud menjadi
materi, kenyataan. Sebab, pikiran adalah jenius energi seperti halnya
benda-benda lainnya. Sementara energi sendiri dapat berubah bentuk menjadi
benda padat atau materi halus.
Dengan demikian, realita diri
kita akan diciptakan oleh pikiran-pikiran. Dalam sehari ada 60.000 pikiran
dibenak oleh kita yang dapat saling mendorong, saling membantu, tetapi juga
saling bertentangan atau membatalkan. Hukum tarik-menarik bersikap netral,
sebab itu menurut penulisnya, untuk kesuksesan hidup yang harus pegang kendali
adalah pikiran-pikiran yang bagus, yang positif, yang luhur.
Ada tiga langkah yang perlu
ditempuh dalam proses penciptaan mengikuti hukum tarik-menarik. Langkah pertama
adalah meminta. Berikanlah tugas kepada alam semesta. Alam semesta akan
merespon keinginan-keinginan itu. ( mestakung = alam semesta mendukung ).
Syaratnya, anda hanya perlu mengetahui dengan jelas apa yang diinginkan . Jika
syarat itu tidak jelas, tidak pokus, dan penuh pertentangan, maka frekuensi
yang dikirim menjadi campur aduk dan hukum tarik-menarik menjadi kebingungan
dan tidak dapat membantu.
Langkah kedua adalah percaya.
Pada saat meminta, kita harus percaya dan tahu bahwa keinginan itu sudah
menjadi realitas dialam tak kasatmata. Sebenarnya saat itu seluruh semesta
sedang bergerak untuk merealisasikannya dalam realitas kasatmata. Sebab itu
kita harus bertindak, berbicara, dan berpikir, seakan-akan kita telah
menerimanya sekarang juga. Keragu-raguan dapat membatalkan seluruh proses yang
tengah berlangsung.
Langkah terakhir adalah
menerima. Setelah meminta dan kemudian percaya sudah memperolehnya, maka yang
harus dilakukan adalah menerimanya dengan perasaan baik ( feeling good ). Perasaan dan pikiran harus saling menggenapi dan
bergerak sejalan. Perasaan cinta adalah frekuensi tertinggi dan terkuat, karena
itu pikiran yang dirasuki cinta kasih akan membentuk kekuatan tak terkalahkan.
Hukum tarik-menarik kerap pula disebut sebagai Hukum Cinta.
Dengan tiga langkah tersebut
sebenarnya Rhonda Byrne telah bergerak lebih jauh sekedar memberi motivasi,
membangun kekuatan pikiran, dan beranjak masuk kedua spiritualitas. Alam
semesta baginya adalah yang responsif, berperasaan, ramah, dan berkelimpahan.
Pertanyaan : apa saja yang dapat
diperbuat dengan Hukum Tarik-Menarik? Lewat tiga langkah penciptaan dan proses
penuh daya dari rasa bersyukur, kekuatan visualisasi, dan daya tindakan, hukum
ini dapat diterapkan dan merambah ke berbagai wilayah kehidupan.
Dalam keadaan begini saya jadi
ingat akan ajaran yang menganjurkan kebersatuan antara laku “ meditasi “ dan
aksi “bekerja”, antara “berseru” dan “berbuat”. Tak perlu ada pemilihan dan
pemisahan antara keduanya.
Mungkin inilah Rahasia Alam dari
Ora et Labora yang dilakukan tidak secara sendiri-sendiri, melainkan secara
serentak.
Sebenarnya apa yang diutarakan
oleh Rhonda Byrne bukan hal yang baru. Ia berbicara mengenai power of the mind
( kekuatan mental ) dan mind offer matter ( pikiran mengatasi materi ) seperti
yang tertuang dalam isi, ribuan buku sebelumnya. Mungkin kelebihan The secret
adalah dalam hal menyederhanakan soal-soal yang rumit menjadi bersahaja hingga
mudah dicerna dan dipahami kaum awam.
Rhonda sendiri mengakui bahwa
ajaran hukum tarik-menarik itu sudah ada sejak 3.000 SM, namun yang menguasai
dan mengamalkannya hanya segelintir orang. Ia ingin membuat banyak orang
bahagia, dan karena itu menyebarkannya secara luas kepada massa lewat buku dan
DVD tanpa presentasi “ilmiah”.
Dalam agama islam, ada keyakinan
bahwa tidak ada keinginan, niat, gerakan, kejadian, problem yang tak diketahui
oleh tuhan. Karenanya, Tuhan, tidak saja “ ulur tangan” malah “campur tangan”
dalam setiap masalah yang ada. Keyakinan adalah modal utama. Karena itu, dalam
masalah keyakinan tak boleh ragu dan bimbang, karena memiliki keyakinan yang
kuat ( haqul yakin ).
Hadis qudsi berbunyi “ aku
sesuai dengan prasangka hambaku kepadaku, maka ia bebas berprasangka Kepada-Ku
sesuai yang ia mau”.
Sedangkan masalah-masalah
keduniaan, kita wajib bekerja secara profesional, tidak main-main tidak
ceroboh, niat baik, serius, yakin dan berdoa atau mohon petunjuknya.
Karena semua ini, bagian dari
sunnatullah ( hukum sebab akibat/hukum karma, hukum vibrasi), Analisis Rhonda
Byrne dalam buku “ the secret” menganalisis dan menjelaskan adanya kekuatan tak
terbantahkan dalam diri seseorang. Asal kekuatan pemikir kita menjadi keyakinan
kokoh kita.
Inti “the secret” adalah hukum
alam ( misteri law and universal law, law of attraction/ hukum kesemestaan ).
Titik tarik menarik secara abadi tersebut harus mendapat perhatian terus oleh
manusia atau mungkin masuk ilmu titen ala mbah Maridjan ( juru kunci gunung
merapi ). Kekuatan tersebut dianalisis secara teologis.
“ Tidak mungkin kumpulan batu
bata tiba-tiba menjadi sebuah gedung, tidak mungkin kumpulan baja tiba-tiba
menjadi menara eiffel,begitu pun juga kehidupan ini, pasti ada sang kreator
dibalik kesinambungan alam yang sangat sempurna. Tiada kita mampu melihat
sedikit ketidak kesempurnaan dalam kehidupan ini. Fakta inilah yang membungkam
pikiran kuno (sempit) bahwa kehidupan ini ada, karena kebetulan ini bukti bahwa
Tuhan selalu hadir dalam kehidupan kita (Taufani S. Evandri, 2007).
Kalau kita masuk kedalam dunia
pemikiran kontemplatik ( to think very carefully a about something for a long
time, Macmillian English, 2006 :298 ). Pasti sama ada perenungan, apa yang
terurai didepan, terdapat benang merah dengan pemikiran modern ( gabungan IQ,
EQ, SQ, dan RQ, sebagaimana telah disinggung didepan ).
Terkait dengan kekuatan pikiran
yang teruraidiatas, menurut Erbe Sentanu “jangan meremehkan kekuatan
hati/perasaan, karena kenyataan kekuatannya 5000 x kekuatan pikiran. Selama ini
para motivator selalu mengajarkan untuk berpikir positif, ternyata berperasaan
positif juga penting untuk menggapai apa yang kita impikan, yakni dengan
perasaan ikhlas” (Kompas, 28 september 2007).
Tuhan
melalui ajaran agama telah mengajarkan kepada umatnya untuk membangun rasa ikhlas
dalam pribadi kita, sehinggan apapun yang kita jalankan dengan penuh
ketelitian, kehati-hatian dan kepantasan dengan hasil tidak sesuai dengan
harapan kita, dapat diterima dengan penuh keikhlasan. Sayangnya, masih ada
sebagian orang kurang tepat atau malah keliru, menafsirkan ikhlas dengan
menggolongkan/memasukkan sebagian sikap yang lemah.
Padahal, didalam ikhlas terdapat
sifat-sifat ilahiah, sifat-sifat yang memiliki Tuhan. Diantaranya, bersyukur,
sabar, fokus, cinta, damai dan bahagia. Karena itu, ikhlas justru sangat
powerful untuk diterapkan disemua bidang kehidupan.
Kondisi ikhlas bisa membawa
manusia menjadi sangat kuat, cerdas, dan bijaksana. Karena dengan hati yang
iklhlas, kita bisa berfikir dengan jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih
efektif dan produktif untuk mencapai tujuan. Bahkan hubungan dengan siapa pun
didasari dengan penuh keikhlasan, akan terjalin dengan menyenangkan.
“Jika anda saja selalu berhasil
merasa bahagia dan ikhlas dihati, akan memiliki hidup yang penuh dengan sukses
kebahagiaan lahir batin yang sempurna”, Kata Erbe Sentanu kepada ratusan
hadirin.
Sebagaimana diketahui ikhlas
dalam agama islam merupakan mahkota dari semua kepasrahan iman, “Hebatnya”
kekuatan perasaan dan pikiran sama-sama diakui bersama. Bergabungnya dua
kekuatan tersebut, berarti dalam menghadapi masalah hidup (life problem) dapat
diselesaikan dengan positif/hasilnya positif. Meditasi, semedi (tafakur) mampu
membangkitkan pikiran positif, tak sempat meditasi, pejamkan mata seperlunya.
Masalah kesehatan, misalnya,
sikap mendasar yang diambil harus positif. “bila kita berfikir, kita sehat,
alam akan bereaksi dan membuat sehat”. Sebaliknya kita berkata “saya tidak akan
sakit (ada unsur negatifnya), alam tidak akan menangkap pesan itu dan malah
membuat kita sakit”, demikian salah satu tulisan Rhonda Byrne. Karena itu mari
kita budayakan membiasakan berpikir positif (langsung, kongkrit, tidak
berputar-putar), juga perasaan positif.
BAB V
DUA PENDEKATAN
DALAM FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu murni
Filsafat ilmu murni merupakan
kajian filsafat konvensional yang sudah biasa dilakukan, sehingga tidak perlu
dirinci lebih jauh. Hal ini berbeda dengan filsafat ilmu terapan, yang
disebabkan sifatnya yang khusus, membutuhkan pembahasan yang lebih terinci.
Masyarakat
ilmuan mempunyai seperangkat pengetahuan normatif mengenai dunia keilmuan.
Pengetahuan normatif tersebut pada pokoknya mencangkup empat bidang dasar.
Pertama, pengetahuan yang berupa polapikir hakikat keilmuan. Kedua, pengetahuan
mengenai model kerja praktek ilmiah yang diturunkan dari pola pikir. Ketiga,
Pengetahuan mengenaiberbagai sarana ilmiah yang menunjang praktek ilmiah. Keempat,
serangkaian nilai yang bersifat etis yang terkait dengan pola pikir dan model
kerja serta hal-hal lain yang bersifat khusus, seperti umpamanya kode etik
propesi.
Ilmu, berbeda dengan pengetahuan
lainnya seperti filsafat, agama dan seni. Ilmu “mengembangkan pengetahuan
normatif mengenal model kerja dan sarana ilmiah yang diterapkan dengan penuh
disiplin”, yang pada gilirannya berhasil mengembangkan sekitar 700 disiplin
keilmuwan yang kita kenal seperti sekarang ini (1984). Kemajuan yang pesat
menyebabkan timbulnya beberapa masalah. Pertama, berkembangnya pengetahuan
normatif yang secara spesifik terkait dengan bidang kajian keilmuan tertentu,
umpamannya, pola pikir mengenal perbedaan hakikat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu
sosial. Hal ini juga bahkan berkembang pada model kerja seperti perbedaan
antara metode penelitian kuantitatif dan kualitataif dalam ilmu-ilmu sosial.
Kedua, berkembangnya pengetahuan
ilmiah yang sangat bersifat spesialis dan menimbulkan kecenderungan esoterisme.
Kecenderungan menimbulkan masalah dalam komunikasi antar ilmuwan yang mempunyai
keahlian yang berbeda, sehingga proses transfer pendidikan kepada orang lainpun
berbeda-beda. Bidang statistika umpamannya, dalam proses pendidikan dan bahkan
kegiatan penelitian, seakan terlepas dari konteks hakekat pengetahuan ilmiah
secara keseluruhan.
Deskripsi filsafat ilmu terapan
terkait dengan pengetahuan normatif dalam dunia keilmuan dalam rangka
meningkatkan pemahaman masyarakat ilmiah tentang hakekat keilmuan. Kajiannya
mencakup empat bidang dasar yakni pola pikir hakikat keilmuan, model kerja
praktek ilmiah, sarana keilmuan dan nilai etis yang terkait dengan ilmu
tersebut.
Keempat bidang tersebut
merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Filsafat ilmu terapan menitik beratkan
kepada pemahaman yang menyeluruh tentang hakekat dan keterkaitan antara keempat
bidang pengetahuan normatif tersebut. Filsafat ilmu terapan mengarahkan
pandangannya kepada masalah praktis dalam dunia masyarakat ilmiah.
Filsafat Ilmu
Terapan
|
Merupakan deskripsi
|
Mengenai
pengetahuan
|
Normatif dunia
keilmuan
|
Untuk meningkatkan
|
Pemahaman
masyarakat
|
Ilmu tentang
hakikat keilmuan
|
Filsafat Terapan
Dalam upaya menjelaskan bidang
kajian tersebut diatas, filsafat ilmu terapan merujuk pada pokok pikiran
kefilsafatan yang melatar belakangi dasar pengetahuan normatif dunia ilmu.
Disinilah dunia ilmu bertemu dengan dunia filsafat. Jadi filsafat ilmu terapan
tidak bertitik tolak dari dunia filsafat, melainkan dunia ilmu.
Filsafat ilmu terapan
berorientasi kepada status quo pengetahuan normatif yang ada dalam rangka
memahami pengetahuan ilmiah yang telah disusunnya. Sebaliknya, filsafat ilmu
murni yang melakukan telaahan refleksi kritis dan eksploratif terhadap materi
kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan
normatif yang baru. Jelaslah kiranya bahwa kedua pendekatan ini saling dan
sama-sama diperlukan.
Untuk melangkah maju, dunia ilmu
memerlukan filsafat ilmu murni, sedangkan untuk menguasai pengetahuan yang ada,
dunia ilmu memerlukan filsafat ilmu terapan. Disamping itu, filsafat ilmu murni
merupakan rujukan bagi refleksi kefilsafatan yang dilakukan filsafat ilmu
terapan.
Pada hakekatnya filsafat yang
bertumpu pada dunia keilmuan serta pandangannya yang bersifat praktis, maka
filsafat ilmu terapan mungkin cocok bagi pendidikan keilmuan. Dalam hal ini
bobot materi kefilsafatan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan. Semakin
rendah tingkat pendidikan maka semakin sedikit pula bobot kefilsafatannya.
Untuk itulah, dalam Kongres Ilmu
Pengetahuan Nasional (KIPNAS) III, yang berlangsung pada tanggal 15-19
September 1981 di Jakarta, timbul saran agar filsafat ilmu terapan diberikan
pada semua tingkat pendidikan. Hal ini diterima sebagai salah satu kesimpulan
kongres. Kesimpulan tersebut menyatakan bahwa “agar dipertimbangkan pemberian
mata pelajaran filsafat ilmu pada semua tingkat pendidikan untuk meningkatkan
moral keilmuan seiring dengan peningkatan kemampuan penalaran ilmiah” (Filsafat
Ilmu, Dept P & K, 1983).
Sebagaimana diketahui, hubungan
antara filsafat dengan ilmu pengetahuan sangat erat, banyak persamaannya,
perbedaannya hannya pada obyeknya saja.
Persamaan :
1. Keduannya mencari hakikat kebenaran sedalam-dalamnya sampai ke
radix (akar2nya);
2. Kedua-duanya membangun hubungan kausalitas yang logis dalam
menjelaskan beragam fakta;
3. Kedua-duanya berlandaskan metode/sistem tertentu;
4. Kedua-duanya memberi penjelasan atas fakta alami kebenaran yang
diharapkan oleh manusia.
Adapun perbedaanya terletak pada objek materinya, filsafat
universal, ilmu pengetahuan bersifat khusus sesuai dengan disiplinnya. Dari
sudut pandang (objek Formal), filsafat mencari makna umum, meluas dan mendalam,
ilmu bersifat fragmatis sesuai dengan bidangnya.
BAB VI
ILMU
DAN TEKNOLOGI
Pada tahun lima puluhan, ilmu
pengetahuan belum membedakan secara tegas antara ilmu dan teknologi. Ini
misalnya terungkap dari penamaan beberapa lembaga pendidikan yang ada, waktu itu
tidak dibedakan antara STM (Sekolah Teknik Menengah) dan FT (Fakultas Teknik).
Dalam proses perkembangan lebih
lanjut, STM tidak lagi memakai /menggunakan istilah “Sekolah Teknik Menengah”,
tetapi menjadi Sekolah Teknologi Menengah. Perubahan tersebut menunjukan adanya
perbedaan mendasar antara istilah ilmu dan teknologi serta teknik itu sendiri.
Adanya pemakaian istilah ilmu
dan teknologi (iptek) tersebut, tidak lepas dari sifat dasar manusia disamping
homo sapient, juga homo vaber (makhluk pembuat alat/pemakai alat/teknologi).
Sebagaimana diketahui, ilmu
antara lain diartikan “pengetahuan yang disusun secara konsisten menurut metode
tertentu yang digunakan untuk menerangkan gejala pada bidang pengetahuan”.
Sedangkan teknik diartikan “pengetahuan (kepandaian) membuat sesuatu terkait
dengan industri atau seni. Adapun teknologi adalah kemampuan teknik yang
berdasarkan ilmu eksakta yang berdasarkan proses teknik”. Teknologi disebut
pula “the termonology of are particular subject the science of the aplication
of knowledge or pratical purpose”. (Webster’s Dict, 1348).
Dengan demikian, ilmu adalah
proses berfikir mendalam untuk memahami dan mencoba memecahkan masalah-masalah
alam dan kenyataan sosial yang ada. Hasil ilmu diterapkan / diaplikasikan pada
teknologi yang ada. Karena itu teknologi merupakan pengembangan lebih lanjut
dari ilmu, yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Sebagaimana
disinggung diatas, ilmu sebagai proses dan produk tidak dapat dipisahkan.
Konsep ilmu merupakan abstraksi berdasarkan pada sifat-sifat objek ilmu yang
diperoleh berdasarkan pengalaman. Dengan demikian, pengertian yang diperoleh
melalui ilmu merupakan gambaran dari suatu yang lebih mendasar dari sasaran
yang menjadi objek pemikiran atau penelitian yang dilakukan.
Namun dalam prakek, akibat
luasnya ilmu dan juga keterbatasan alat yang ada, sering perolehan ilmu yang
kita harapkan terbatas pada aplikasinya, atau terbatas pada teknologi yang
dapat mengimbangi dengan penemuan ilmu tersebut. Akibatnya, manfaat ilmu belum
dapat maksimal, ketika ilmu belum diperbaharui.
“Ilmu dan pengetahuan merupakan suatu realitas yang komplementer.
Pemahaman yang lebih lengkap tentang hakikat sesuatu realitas bisa dicapai
antara ilmu dan pengetahuan. Jaringan struktur yang sangat luas yang dilalui proses
pembangunan teori melalui model dan lambang-lambang yang merupakan abstraksi
dan sekaligus penyederhanaan realitas yang hendak dijelaskan oleh teori
tersebut, membuat ilmu menjadi terbatas dan sempit tempat cakupannya”.
Jika ilmu dikembangkan untuk
kepentingan masyarakat maka didalam proses “interaksi” dengan masyarakat yang
bersangkutan, berbagai alternatif dapat muncul, baik yang terkait dengan
pilihan bahan, piranti, prosedur, maupun tujuan agar upaya pencarian ilmu dapat
berhasil dengan maksimal.
Keragaman dan pengembangan
pengetahuan yang langsung di aplikasikan dan di peruntukan demi kepentingan
masyarakat, merupakan tahap lanjut dari pengembangan ilmu dalam bentuk
teknologi. Dengan demikian, aplikasi ilmu yang berupa teknologi, bentuk atau model
teknologinya selalu disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan yang ada.
Memperhatikan sifat ilmu yang
bersifat netral, pada tahapan penerapannya (teknologinya), tergantung pada
tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. Jika diabdikan demi kemanusiaan, nilai
teknologi yang ada menjadi sangat tinggi, demikian pula sebaliknya jika
teknologi yang diciptakan dapat mengakibatkan dan menyengsarakan masyarakat
(mislanya bom atom) sangat memprihatinkan.
Jika kembali kepada pendapat
Francis Bacon, bahwa ilmu adalah kekuasaan, maka teknologi merupakan alat
kekuasaan, sehingga dengan dikuasainya alat kekuasaan oleh manusia, langkah dan
usaha manusia dalam mengejar kepentingan dan kebutuhannya menjadi lebih mudah
dan cepat.
Sifat manusia dan tuntutan
manusia terus bertambah dan juga tidak merasa puas, perkembangan teknologi akan
selalu mengalami inovasi terus-menerus. Dalam hal ini inovasi tidak selalu
harus merubah substansi dan materi ilmu itu sendiri.
Dalam berbagai hal, sering
dijumpai penggunaan teknologi yang kurang hati-hati, dapat mengakibatkan, tidak
saja merusak lingkungan juga merusak budaya, peradaban, serta merubah kultur
suatu masyarakat.
Masyarakat dunia ketiga akan
menjadi sasaran yang paling rentan menghadapi serbuan iptek serta kultur dari
negara-negara yang menguasai ilmu lebih dahulu yang ada.Karena itu perlu
ditempuh suatu kebijakan nasional yang komprehensif dalam menghadapi desakan
tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut , harus dilakukan/diadakan seleksi
teknologi. Salah satunya lewat perundang-undangan.
Tanpa adanya pengawasan yang
memadai, penyalahgunaan hasil ilmu dan teknologi kemungkinan dapat terjadi.
Kalau hal ini sampai terjadi, dapat mengakibatkan penyesalan yang
berkepanjangan dan berdampak negatif pada mental bangsa. Dari sudut pandang
ini, harus dihindari modernisasi (modern akar katanya metode dan mode) yang
mengarah atau identik dengan westernisasi. Antara keduannya ada titik singgung
dan ada titik pisah, kearifan dan kebijakan sangat dibutuhkan untuk menghayati
masalah tersebut secara lebih jernih.
BAB VII
ETIKA
ILMU
Etika (Yunani, Etos = cara
bertindak, kebiasaan, adat, tempat tinggal). Hampir sama dengan moral (Yunani :
Mos = adat, cara bertindak, tempat tinggal). Dengan demikian, antara keduanya
mempunyai tujuan yang sama. “Etika dipakai menuju dan menunjuk filsafat moral
menjelaskan fakta moral tentang nilai dan norma moral, perintah, (tindakan,
kebijakan, dan suara hati”. (Kanter, 2001 : 2).
Disamping samping istilah
etika (etics) ada istilah etiket
(etiquette) “aturan kesopanan atau tatakrama bagi perilaku manusia dalam
pergaulan masyarakat/diantara anggota-anggota suatu profesi etiket berkenaan
dengan cara bersopan santun dalam pergaulan”. (2001 : 2).
Dalam
mengembangkan ilmu, siapapun dia harus mengenal etika keilmuan yang mampu
mengantarkan kita melakukan kontemplasi secara baik mengenai hakekat, proses
pembentukan, maupun memproduksi ilmu. Dalam pengembangan ilmu, aspek moralitas
dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu menjadi penting.
Sebagaimana diketahui bersama, dari fenomena global,
perkembangan dunia serta perubahan sosial yang cepat akan terus berlangsung.
Hal ini merupakan pendorong kuat, adanya penemuan
perkembangan pengetahuan baru. Setiap
bangsa dan negara baik sendiri-sendiri maupun secara kolektif (transnasional)
berusaha bersama. Sadar bahwa keunggulan komparasi dan keunggulan kompetisi
negara hanya dapat dicapai dengan bantuan/penguasaan pengetahuan (knowledge
based development), baik pengolahan alam (natural science) maupun pengetahuan
sosial (social science).
Karena itu ilmu (science) bagian
dari cabang pengetahuan (knowledge) berbasis logika tentang benar dan salah
akan berkembang terus. Cabang pengetahuan lain mencakup pengetahuan tentang
baik dan buruk (etika) serta pengetahuan tentang indah dan buruk (estetika)
akan saling terkait. Dengan demikian etika keilmuan merupakan kombinasi antara
dua pengetahuan yaitu ilmu yang berbasis pada logika dan etika atau moralitas
yang membahas baik atau buruk. Akan berjalan terus sekaligus diiringi dengan
keindahan.
Kaitan ilmu dan keilmuan,
kebebasan akademik serta kultur akademik dengan HAM tidak dapat dihindari dan
bahkan memperoleh pengakuan universal. Mengingat ilmu pada dasarnya dan pada
akhirnya memang harus diekspresikan dan diinformasikan untuk kemaslahatan
(kebahagiaan) manusia. Adanya kebebasan untuk berekspresi atau menyatakan
pendapat (the freedom of expression) yang dimuat dalam pasal 19 Deklarasi HAM
PBB 10 Desember 1948 serta dijelaskan dalam International Covenant on Civil and
Political Rights (Konvenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik
(SIPOL) tahu 1966, mencakup kebebasan untuk mencari, menerima dan memberi
informasi/keterangan dan segala macam gagasan tanpa ada pembatasan-pembatasan,
baik secara lisan maupun tulisan tercetak dalam bentuk seni atau sarana lain
menurut pilihannya, perlu dihayati benar.
Dengan demikian, perkembangan
ilmu dan etika keilmuan dalam negara demokrasi diharapkan mampu mewujudkan
keberadaan” self confident society” betul-betul terwujud. Dengan demikian, dalam
negara demokrasi, diharapkan berkembang asosiasi-asosiasi dalam masyarakat
madani yang dimanifesasikan dalam asosiasi masyarakat ilmiah dan pusat-pusat
kajian ilmu dapat berperan, tidak hanya menjaga standarisasi kualitas ilmu,
tetapi juga sebagai kompetitor bagi lembaga-lembaga pemerintah dalam
melaksanakan pembangunan dibidangnya masing-masing, baik secara konseptual
maupun praktis. Kondisi tersebut dikembangkan dan dimajukan dalam rangka
membangun “academic freedom” sebagai manifestasi dari “the right to freedom
association”.
Sesuai dengan hakekat ilmu yang
berbasis logika untuk menyatakan benar atau salah, adanya tata krama
(euphemisme) ilmu dalam kerangka berburu kebenaran (truth) dan menentang segala
bentuk kebenaran (justification) atas kesalahan. Karena itu, perlu
dibangun/dikembangkan berfikir benar, sehingga berfikir dan bertindak salah
(false in thinking pada tataran aplikasinya dapat dikurangi. Inilah yang
dinamakan kejujuran ilmiah (academic, honesy). Karena itu, seorang ilmuan yang
profesional misalnya dan bekerja pada suatu korporasi (organic intellectual)
dan bukan sebagai ilmuan murni (traditional intellectual), kejujuran akademik
tetap terjaga. Seorang ilmuan sejati harus siap berdiri diantara kesepian
(loneliness) dan keberpihakan (alignment).
Selanjutnya digambarkan bahwa ilmuan merupakan sosok
yang tidak memiliki kantor untuk berlindung atau teritori untuk melakukan
konsolidasi. Sebagaimana digambarkan oleh WS Rendra yang menyatakan dia berumah
diawan/diangin.
Dalam kehidupan modern tidak lagi dipandang semata-mata
hidup dimenara gading (ivory tower) sehingga hanya bertugas semata-mata untuk
pengembangan/memperluas ilmu pengetahuan (academic advancement) atau yang
sering di sebut “closed literature scientist”, tetapi harus berperan pula
sebagai “agent of social change”.
Kompleksitas ilmu dan keilmuan tidak hanya bersentuhan
dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi (institute of higher education) dengan
sifat otomoni
atau
independensinya, masyarakat akademis (academic community), kebebasan akademik
(academic freedom) tetapi juga bersentuhan dengan budaya akademik (academic
culture).
Masalah keilmuan
dengan segala kompleksitasnya akan bersentuhan secara langsung dan tidak
langsung dengan bangunan yang lebih besar yaitu elemen-elemen nilai-nilai dasar
(core values), atau indeks demokrasi (indects of democracy).
Ketika keilmuan tidak dapat di lepaskan dari hakekat ilmu sendiri (lat,
scientia=knowledge) yang pada dasarnya
merupakan bangunan teroganisir tentang pengetahuan (organized body of
knowledge) yang seharusnya mencangkup pula prilaku dan metode yang membentuk
ilmu pengetahuan (attitudes and methods through which this body of knowledge is
formet).
Pengalaman diberbagai negara
dengan sistem politik pemerintahan otoriter membuktikan bahwa perkembangan ilmu
dan keilmuan tidak mungkin terbentuk dan tumbuh dengan baik dalam sistem
politik otoriter dimana kebebasan akademik (academic freedem) ditekan, dan
kultur akademik yang mendambakan kebenaran terancam, semua diatur dan
dilaksanakan pemerintah.
Dalam proses kemajuan berbangsa
diera globalisasi, serta perkembangan IPTEK, propesi berkembang pesat. Propesi
(yun; professues dalam arti pekerjaan yang terkait dengan sumpah), menuntut
setiap pekerjaan atau tugas yang diemban harus dilandasi denga sumpah yang
suci.
Dari sudut pandang tersebut,
profesional yang diperoleh dengan pendidikan pormal, didalam menjalankam tugas
profesionalnya harus memperhatikan juga aspek moral. Untuk terciptanya tujuan
tersebut, sebagaimana diketahui setiap profesi diawali dengan sumpah.
Sebagai mana diketahui, kode
etik tertua diciptakan oleh Hippocretes (filsuf yunani pada abad V SM).
Sekarang dikenal sebagai sumpah Hippocratus Kedokteran.
Etika profesi mempunyai tujuan
sebagai penyuluhan prilaku baik manusia, juga diperhatikan segi-segi etika
dalam menghadapi perkembangan IPTEK yang merambah segi-segi kehidupan.
Disamping mengembangkan wawasan para profesional didalam mengambil keputusan
pendapat yang ada. (Irmayanti, 97 dst, 2002).
BAB VIII
APA DAN SIAPA PARA
JENIUS
Jenius (genius, some one who is much more intelligent or skill full other
people, a very high level of skill or ability). (Mac Millan English, 2006,
591).
Dari makna tersebut, penulis
mengutip dari sebuah buku karangan Michael J. Gelb, yang berjudul “menjadi jenius seperti leonardo da vinci”.
Dari buku tersebut menempatkan Leonardo Da Vini Jenius no 1. Penulis mengutip
sebagian kecil yang mungkin berguna untuk anak bangsa indonesia.
Dalam buku the book of genius, Tony Buzam dan Raymond Keene, yang telah
diterjemahkan dan diterbitkan PT. Gramedia, 2001, untuk pertama kalinya,
peringkat jenius-jenius terbesar dalam sejarah peradapan disusun. Sambil
menilai tokoh-tokohnya yang ada, berbagai kategori, utamanya aspek “orisinalitas”, “dominasi dalam bidang yang digeluti”, “universalitas visi” dan “kekuatan
dan energi ” yang dimiliki disajikanlah daftar “sepuluh jenius terbaik”, yaitu :
Peringkat
|
Nama Tokoh
|
Kategori Pemeringkatan
|
10
|
Albert Einstein
|
|
9
|
Phidias (arsitek
Athena)
|
|
8
|
Alexander Yang
Agung
|
|
7
|
Thomas Jefferson
|
|
6
|
Sir Isaac Newton
|
|
5
|
Michelangego
|
|
4
|
Johann Wolfgang
von Goethe
|
|
3
|
Para Pembangun
Piramida Basar
|
|
2
|
William
Shakerspeare
|
|
Jenius terbesar sepanjang zaman,
menurut Buzam dan Keene, adalah Leonardo da Vinci. Dari pendekatan, pengamatan praktis, Leonardo
telah teruji secara empirik. Dengan mengetahui unsur-unsur pokok kejeniusan
Leonardo, dapat memperkaya kehidupan kita.
Da Vinci mempunyai tujuh prinsip
yang menghantarkan kepada prestasi puncaknya. Prinsip-prinsip tersebut untuk
diketahui, sekaligus bahan renungan, yang secara naluriah kata pengarang kita
bisa merasakan. Prinsip tersebut diambil melalui studi intensif tentang diri si
jenius tersebut, terutama dari rangkaian prestasinya.
Ketujuh prinsip Da Vinci antara
lain :
1. Curiosita, yaitu pendekatan berupa keingin tahuan yang tidak terpuaskan
akan kehidupan, dan upaya pencarian yang tidak kenal lelah untuk belajar
tanpa henti;
2. Diomostrazione, yaitu niat teguh untuk menguji pengetahuan melalui pengalaman,
ketekunan dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan;
3. Sensazione, yaitu penajaman indra secara terus-menerus terutama indra
penglihatan sebagai sarana untuk menghidupkan pengalaman;
4. Sfumato, (secara harfiah berarti hilang tak berbekas atau menjadi tak
pasti), kesediaan untuk menerima ambigiutas, paradoks dan ketidak pastian;
5. Arte atau scienza, yaitu pengembangan keseimbangan antara ilmu dan seni, logika dan
imajinasi. Pemikiran “otak secara menyeluruh” (whole brian thinking);
6. Corporalita, yaitu pemupukan keanggungan, keterampilan dua tangan, kebugaran
dan sikap tubuh yang benar;
7. Connessione, yaitu pengakuaan dan penghargaan terhadap keterkaitan semua hal
dan fenomena, pemikiran sistemik.
Jika diperhatikan, prinsip pertama, curiosta, usaha untuk terus menerus
belajar, menduduki urutan pertama, menunjukkan kepada kita bahwa belajar
atau keinginan untuk mengetahui masalah secara utuh menjadi faktor utama
mengenal alam cita-cita (mengembangkan daya mau dan daya tahu bagi kita
semua, terutama pada generasi muda bangsa).
Seterusnya didalam buku tersebut disusun pula rangkaian ilustrasi dari
curiosita, kita berminat pada pemikiran bebas dan membebaskan pikiran kita dari
kebiasaan-kebiasaan dan pra anggapan-pra anggapan yang membatasi, kita berada
pada jalur menuju prinsip kedua, dimostrazione. Dalam upayanya mencari
kebenaran, Da vinci selalu mempertanyakan kebijaksanaan konversional. Ia
menggunakan kata demostrazione untuk mengungkapkan pentingnya belajar sendiri
melalui pengalaman praktis.
Ambillah jeda sejenak, dan kenanglah saat-saat ditahun lalu, ketika
anda berada didalam situasi yang paling bersemangat. Kemungkinan adalah panca
indra anda menjadi amat tajam. Prinsio kita ketiga, sensazione, memusatkan
perhatian untuk mempertajam panca indra, secara sadar. Leonardo berpendapat
bahwa mempertajam panca indra merupakan kunci menuju pengalaman yang
memperkaya.
Ketika kita mempertajam panca indra, menjajaki kedalaman pengalaman,
dan membangunkan kekuatan. Contoh anak kecil ketika mereka menanyakan sesuatu,
kita akan menjumpai ketidak pastian dan ambiguitas yang semakin meningkat, kita
harus sabar dan “tlaten” mengikuti alur emosinya dan tidak dibenarkan untuk
dipotong.
“daya tahan terhadap kebingungan” merupakan ciri yang paling jelas,
untuk orang yang sangat kreatif, dan barang kali leonardo memiliki lebih banyak
ciri ini ketimbang orang lain yang pernah hidup. Prinsip nomor empat, sfumato
membimbing kita untuk menjadi akrab dengan yang takkenal, untuk lebih
bersahabat dengan paradok.
Agar keseimbangan dan kreativitas muncul dari ketidak pastian
dibutuhkan prinsip nomor lima, arte atau scienza atau apa yang kini kita sebut
sebagai berfikir secara menyeluruh. Namun Da Vinci berpendapat bahwa
keseimbangan itu lebih dari sekedar mental. Ia meneladankan dan menerapkan
pentingnya prinsip nomor enam, corporalit, keseimbangan tubuh dan pikiran. Dan
bila kita menghargai pola, relasi, kineksitas, dan sistem, serta kita berusaha
memahami bagaimana impian, sasaran, nilai, dan hasrat-hasrat kita yang paling
tinggi dapat diintegrasikan kedalam kehidupan sehari-hari, berarti kita sudah
menerapkan prinsip nomor tujuh, connessione-, connessione menyatukan segala
sesuatunya bersama-sama.
Melihat berat dan rumitnya predikat sebagai jenius, paling tidak kita
telah mengetahui bagaimana sosok seorang jenius yang pernah ada didunia. Bagi
kita, setelah mengetahui persyaratan-persyaratan tersebut, dan mau mencoba atau
mendekati, cukup kiranya kita dapat memfungsikan sebagaian dari kemampuan dan
kemauan kita kearah itu.
Pendekatan fungsional adalah pendekatan yang tidak saja mengedepankan
gerak, langkah, dan aktifitas mengarah pada cita-cita, sekaligus dapat
melaksanakan sebagian dari tujuan juga mempercepat proses pencapaian tujuan karenanya,
langkah kongkrit dan rill sangat dituntut untuk dapat mendekati sebagian kecil
dari sosok seorang jenius.
Melalui pendekatan selintas dan selayang pandang tentang apa dan siapa
jenius, kita semakin tahu seperti apa jenius, setelah itu apakah dapat
mendekati atau menjadi seorang jenius, usaha kita serius dan gigih serta
anugrah, hidayah atau karunia ilahi memegang kunci utama.